Kini Teressa sedang duduk di depan meja riasnya sambil menatap kosong pada pantulan cermin. Kata-kata Jovanka berhasil membuatnya begitu kesal. Ia berteriak, lalu menjatuhkan seluruh kosmetik yang berada di atas meja riasnya.
"Jovanka br3ngsek!"
Teressa cukup menyadari bahwa sejak awal, pernikahannya dengan Jovanka hanya sebatas untuk mengembangkan bisnis dari keluarga mereka. Namun, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Apa Jovanka tidak ada sedikit pun rasa cinta untuk Teressa?
"Ini yang nggak aku suka dari kamu, Re." Jovanka baru saja membuka pintu kamar dan melihat kosmetik milik istrinya berserakan di lantai. Ia berjalan untuk duduk di tepian ranjang sambil melipat kedua tangan di atas dadanya. Hal itu berhasil membuat Teressa menatapnya dengan nyalang dari pantulan cermin. "Tempramen ini yang nggak pernah aku suka dari kamu."
Teressa berdecih, lalu tersenyum sinis. "Kamu yang selalu bikin aku emosi gini, Jo!"
"Kamu liat kita! Kita udah jalan sejauh ini, Jo. Kita udah nikah selama ini. Apa kamu pernah sekali aja nyoba buat jatuh cinta sama aku?"
"Aku berusaha, Re. Aku berusaha bahkan sejak pertama kali kita nikah. Apa aku pernah nuntut kamu untuk hal-hal yang nggak pernah kamu lakuin? Sesimpel habisin weekend berdua sama aku, atau minta kamu buat siapin keperluanku? Nggak, Re. Aku tau kamu nggak mampu ngelakuin itu, karena kamu nggak terbiasa. Tau kenapa aku nggak nuntut kamu buat lakuin semuanya? Karena aku nyoba, Re. I try my best buat jatuh cinta dan memahami kamu."
"Nggak, Jo! You dont even try! Kamu bahkan nggak nyoba buat ngerti posisi aku!"
"Posisi mana yang belum aku ngerti, Re? Bahkan saat aku tau kamu tidur and having s3x sama mantan kamu pas kita lagi bulan madu di Paris, apa aku langsung ceraikan kamu? Apa aku buka semuanya ke keluarga kamu? Nggak, kan?"
"Nggak usah bawa yang udah lewat, Jo!"
Jovanka lantas terkekeh, lalu bangkit dari duduknya. "Yakin udah lewat? Kamu pikir aku nggak tau kalo belakangan ini kamu masih sering ketemu mantan kamu itu?"
"Bukan cuma itu, Re. Aku bahkan rela pasang badan dan bilang kalo aku nggak mampu punya anak buat melindungi kamu dari omongan orang-orang. Padahal di sini siapa yang nggak mampu? Kamu, Re. Kamu!"
"JOVANKA!"
"Kenapa?! Aku udah nyoba, Re. Kamu nggak pernah tau kalo di belakang kamu selama ini, ada aku yang berharap kamu bakal sadar kalo aku berusaha." Jovanka berjalan ke arah pintu untuk meninggalkan Teressa yang masih duduk di depan meja riasnya. "But enough, Re. Udah cukup karena pada akhirnya aku nggak dapet apa-apa kecuali luka."
Setelah memuntahkan semua emosi yang selama ini ia pendam, Jovanka meninggalkan rumah masuk ke dalam mobilnya. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiam diri sambil memeluk setir mobil, dan menyandarkan kepalanya di sana. Ingatannya kembali pada hari dimana dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri, ketika Teressa bercinta dengan mantan pacarnya, saat mereka sedang berbulan madu.
Kala itu Jovanka tidak marah, hanya sedikit kecewa karena merasa Teressa tidak menghargainya sebagai laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya. Setelah hari itu, Jovanka berusaha untuk menerima Teressa dan segala baik-buruknya, juga berusaha untuk mencintainya. Namun, semakin jauh untuk mencoba, Jovanka justru menemukan dirinya yang mulai hancur perlahan. Teressa selalu bersikap seolah dirinya tidak membutuhkan Jovanka dalam hidupnya.
Lalu dalam keterdiaman Jovanka di dalam mobil, ia tiba-tiba mengangkat kepalanya, lalu mengambil ponsel untuk mengirimkan pesan pada Larasati.
Jovanka: Ras, gue tunggu di apartemen ya. Gue butuh lo banget. Gue hancur, Ras.
Satu menit ... dua menit ... hingga lima menit berlalu, namun Larasati hanya membaca pesannya tanpa balasan.
...****************...
Larasati sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya, sambil berkutat dengan laptopnya. Ia menyusun beberapa artikel yang harus diserahkan pada atasannya dua hari kedepan. Di tengah kesibukannya, Larasati menemukan bahwa pintu rumahnya dibuka perlahan. Dirga datang, dengan senyumnya yang menyungging begitu manis.
"Loh? Miko gimana?" tanya Larasati sambil melepas kacamatanya.
Setelah menutup kembali pintu rumahnya, Dirga berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Larasati. "Tadi Ibu datang ke rumah sakit. Katanya pengen nemenin Miko, jadi aku pulang."
"Ini kerjaan kamu masih banyak?" tanya Dirga sambil sedikit mengintip pada laptop yang berada di pangkuan Larasati.
Setelah mengangguk pelan, Larasati mulai meletakkan laptopnya ke atas meja. "Banyak banget, Ga. Aku baru pindah ke divisi 3, terus pimpinannya tuh lebih cerewet dan perfeksionis dari pimpinan divisiku yang sebelumnya."
"Balik badan, gih. Biar aku pijitin."
Larasati lantas terkekeh. "Nggak usah, ah. Aku tau kamu juga capek."
"Kerjaan kamu gimana?" lanjut Larasati.
"Aku lagi berusaha biar dipromosikan untuk kenaikan jabatan, Ras. Doain, ya."
Larasati mengangkat sebelah alisnya saat menemukan bahwa ponselnya baru saja berdering singkat. Ada pesan yang Jovanka kirim untuknya. Namun, daripada membalasnya, Larasati memilih untuk abai. Kali ini, ia ingin bersama Dirga. Kali ini, ia tidak ingin ada laki-laki lain yang mengganggu kebersamaan mereka.
"Kenapa, Ras?" tanya Dirga saat Larasati masih memaku pada layar ponselnya.
"Nggak papa, Ga." Semenit setelahnya, ponsel Larasati kembali bergetar. Kali ini getaran yang cukup panjang— menandakan bahwa ada panggilan masuk. Jovanka meneleponnya. Sekali ia abai, dua kali getaran ponselnya kembali lagi, membuat Dirga benar-benar penasaran.
"Siapa, sih? Kenapa nggak diang—"
Kalimat Dirga terpotong sebab Larasati tiba-tiba duduk di pangkuannya. Mengusap pelan rahang Dirga, lalu beralih pada pipinya.
"Kamu nggak cukuran, ya?" tanya Larasati mencoba mengalihkan.
Dirga terkekeh. "Iya, harusnya aku cukur tiga hari lalu. Emang kerasa, ya?"
"Iya," sahut Larasati. "Tapi nggak papa soalnya malah keliatan seksi."
Dirga tersenyum bangga, sambil menyentuh dagunya yang memang terasa sedikit kasar. Ia sedikit bersyukur karena menunda jadwal cukurnya, sebab berkat itu, ia mendengar pujian Larasati.
Larasati lantas terkekeh, lalu sedikit terkejut karena Dirga tiba-tiba mendaratkan satu kecupan pada lehernya.
"Apa sih, tiba-tiba?" tanya Larasati yang kembali terkekeh.
"Nggak tiba-tiba, Ras. Kamu yang mancing."
Di tengah obrolan hangatnya bersama dirga, ponselnya kembali bergetar. Dirga mengulurkan tangannya untuk meraig ponsel Larasati, namun perempuan itu menarik tangan Dirga untuk memeluk pinggang rampingnya.
Larasati memberi satu kecupan pada bibir milik Dirga, lalu mengusapnya dengan jemarinya. Setelah tersenyum, Dirga seolah tak mau kalah. Ia mencium bibir Larasati, dengan lembut dan hangat. Percakapan mereka berubah menjadi decapan syahdu. Dirga bahkan memberi pelukan yang jauh lebih erat dari sebelumnya.
Setelah beberapa saat, Dirga melepas cium4n mereka, lalu mengusap bibir Larasati yang tampak mengkilat karena basah. "Aku sayang kamu, Ras. Lebih dari apa pun yang ada di dunia ini."
Alih-alih menjawab, Larasati justru kembali meraup bibir Dirga. Semakin dalam l1dah mereka menjelajah, seakan menyalurkan rasa sayang satu sama lain. Keduanya terengah, namun tak lantas membuat mereka berhenti.
Larasati merasakan hangat yang tumpah saat tangan Dirga menyentuh pinggangnya, lalu bergerak keatas, mengusap punggung Larasati dengan gerakan yang begitu lembut.
Sementara jauh di sisi lain kota Jakarta, Jovanka sedang mengacak rambutnya frustasi sebab ia mendengar percakapan-percakapan Larasati dan Dirga, bahkan mendengar lenguhan lembut dari Larasati tepat setelah Larasati menjawab panggilan teleponnya. Tanpa Larasati sadari, Dirga tidak sengaja menjawab panggilan Jovanka saat ia berusaha meraih ponsel milik istrinya itu ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments