Sudah lama sejak terakhir kali Jovanka mendatangi Teressa saat jam kerja. Maka saat melihat wajah suaminya yang sedang berdiri di depan pintu bahkan sebelum jam makan siang, Teressa cukup terkejut. Cukup lama ia menatap Jovanka, hingga akhirnya laki-laki itu berinisiatif untuk masuk tanpa diminta.
"Ini aku nggak salah liat? Kamu ke sini? Nyamperin aku?" Teressa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul 11.00. "Ini bahkan belum jam makan siang?"
Jovanka lantas terkekeh, lalu mulai duduk di hadapan Teressa. "Langka banget ya momen aku nyamperin kamu, sampe bikin kamu kaget gini?"
"Ya aneh aja gitu kamu tiba-tiba dateng. Nggak pake ngabarin lagi." Teressa lalu memicingkan matanya. "Oh, aku tau. Kamu pasti mau jengukin si Miko, kan? Anak temen kamu itu?"
"Aku mau ajakin kamu makan siang, Re. Udah lama kita nggak makan siang bareng. Yuk?"
"Kamu kesurupan apa deh?" Teressa melepas jubah dokternya, kemudian menyamankan posisi duduknya. "Aku cuma ada waktu 30 menit buat makan. Kita makan di kantin rumah sakit aja, setelah makan siang masih ada beberapa pasien yang harus aku periksa."
Alih-alih menjawab, Jovanka justru menatap Teressa begitu lekat. Dulu sekali, Jovanka memiliki mimpi sederhana, yaitu menikahi perempuan seperti Larasati yang tidak peduli dengan persaingan bisnis keluarganya. Memiliki sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu mewah, tapi memiliki halaman belakang yang luas. Melihat perempuan itu menyirami tanaman dengan ditemani anak-anak mereka yang berlarian, lalu menemani Larasati memasak makan siang untuk disantap bersama.
Mimpi yang cukup sederhana bagi seorang Jovanka yang selalu dituntut untuk sempurna dan harus mewarisi bisnis milik keluarganya. Namun, bertahun-tahun setelah angan-angan itu, Jovanka justru duduk di hadapan Teressa. Seorang perempuan yang ia nikahi 5 tahun silam, tapi tidak pernah benar-benar menjadi seorang istri bagi Jovanka.
"Jo? Kenapa malah bengong aja, sih? Jadi kita makan siang bareng atau nggak, nih?"
Jovanka menghela nafas, lalu tersenyum kecut. "Re ... kalo misal aku minta kamu untuk berenti kerja, gimana?
"Jangan bercanda deh, Jo. Kamu tau aku satu-satunya anak Papa. Kalo aku berenti, terus yang ngelola rumah sakit ini siapa? Kamu mau minta aku serahin rumah sakit ini ke sepupu aku? Kamu tau kalo itu nggak mungkin."
"Tapi aku pengen kamu di rumah, Re. Habisin lebih banyak waktu buat aku. Lagian ...." Jovanka tampak berpikir sejenak. "Kamu nggak pengen punya baby? Ini udah lima tahun, Re."
"Kamu mau nyalahin aku karena kita belum punya anak?!"
"Nggak gitu, Re. I mean, kamu nggak pengen perbaiki pernikahan kita? Meski karena perjodohan, kamu nggak pengen kita jadi kayak pasangan lain?"
"For all of sudden?" Teresa terkekeh. "Kamu habis nonton drama korea atau apa, sih? Tiba-tiba pengen jadi kayak pasangan lain? Jangan bikin aku ketawa, Jovanka."
"Kamu nggak takut aku cari perempuan lain buat pelarian?"
"Bukannya udah, ya?"
Setelah ucapan Teressa, Jovanka benar-benar membeku di tempatnya. Apa Teressa mengetahui hubungannya dengan Larasati? Bagaimana bisa? Ia bahkan baru memulainya hari ini. Tidak mungkin Teressa mengetahuinya secepat itu.
"Kenapa keliatan panik gitu?" Teressa kembali terkekeh. "Kamu pikir aku nggak tau, kalo kamu sering ke Sky Five? Buat apa kamu datang ke club malem kalo bukan cari perempuan penghibur?" lanjut Teressa dengan senyum sarkasnya.
Jujur saja, Jovanka merasa lega karena bukan hubungannya dengan Larasati yang Teressa ketahui. Sungguh, ia masih ingin lebih lama bersama Larasati. Ia ingin membuat Larasati benar-benar jatuh cinta padanya, lalu merasakan indahnya dicintai seperti orang-orang lainnya.
Untuk sesaat, Jovanka kembali terkekeh. "Harusnya aku nggak dateng dan nyoba buat perbaiki hubungan yang emang dari awal nggak bisa diperbaiki."
...****************...
Malam ini langit jakarta tampak cukup cerah. Bintang-bintang yang biasanya tidak terlihat akibat polusi, malam ini berkedip dengan cantik. Semilir angin yang membelai daun-daun kecil, turut menemani Larasati yang sedang berdiri menatap lurus ke luar jendela. Hingga tak lama, ia mendengar suara pintu ruangan terbuka.
Larasati menyimpulkan senyumnya. Pasalnya, kini Dirga sedang berdiri di depan pintu ruang rawat Miko. Masih dengan baju kerjanya yang tak serapi pagi tadi. Larasati membentangkan tangannya, memberi isyarat agar Dirga mendekat dan memeluknya.
Dengan langkah lesu namun pasti, Dirga berjalan dan memeluk Larasati. Begitu erat, seakan ingin menyalurkan seluruh lelahnya.
"Kamu nggak papa hari ini nggak ke kantor?" tanya Dirga yang masih setia memeluk Larasati.
"Nggak papa. Lagian aku juga kerja dari sini, kok. Aku nyusun materi interview sama sekalian ngedit artikel buat diserahin besok." Larasati lantas melepas pelukan Dirga, lalu menatap wajah laki-laki itu. Tangan kanannya bergerak untuk mengusap lembut pipi Dirga. "Capek, ya? Udah makan malem?"
"Udah, Ras. Tadi aku makan sandwich di kantor. Dikasih sama si Roni. Istri dia tadi dateng ke kantor buat bawa makanan karena dia lembur."
Setelah mengangguk paham, Larasati kembali menyamankan kepalanya pada dekapan Dirga. Bagi Larasati, pelukan Dirga adalah yang terbaik. Pelukan yang mampu menenangkan segala riuh dalam kepalanya. Meski siang tadi Larasati sempat berpikir bahwa perasaannya pada Dirga tak lagi sama, nyatanya saat ini ia menemukan bahwa jantungnya masih berdebar— sama seperti mereka pertama kali menjalin hubungan.
"Ras, maaf ya. Maaf kalo kamu ngerasa sendirian ngelewatin masa sulit ini. Tapi kamu harus tau, aku juga berusaha. Aku nggak tau kamu dapet uang untuk pengobatan Miko dari mana. Tapi, Ras, tolong kasih tau aku berapa banyak uang yang kamu habisin untuk seluruh biaya rumah sakit Miko. Aku bakal ganti semuanya."
Alih-alih menjawab, Larasati justru mengeratkan pelukannya. Ia menangis dalam diam. Mendengar Dirga meminta maaf padanya, sungguh membuat hati Larasati hancur.
"Ras, tolong jangan capek sama aku. Aku nggak mau kamu pergi. Sesulit apa pun keadaannya, tolong percaya kalo aku bakal bawa kamu keluar dari situasi itu. Aku nggak bisa kalo nggak ada kamu. Jadi, Ras, tolong sama aku terus sampe tua, ya."
Kalau ada perempuan dengan banyak sekali topeng di dunia ini, maka salah satunya adalah Larasati. Saat bersama Dirga seperti ini, ia sungguh merasa tidak ingin apa pun lagi. Cinta Dirga saja sudah cukup. Namun, saat ia bersama Jovanka, meski hubungan mereka masih baru dimulai, Larasati ingin sekali bersikap egois dan pergi bersama laki-laki itu. Merebutnya dari Teressa, lalu meninggalkan Dirga untuk—mungkin, bahagia bersama Jovanka.
Larasati seakan tidak peduli bahwa landasan hubungannya dengan Jovanka adalah uang. Ia pikir, jika Jovanka bisa menepati janjinya untuk memberinya kebahagiaan, maka hubungan mereka bisa lebih dari sekedar j*l*ng dan tuannya ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments