Satu hal yang Dirga sadari ketika motor beat hitam kesayangannya melaju menyusuri sebuah kawasan perumahan yang cukup elit, adalah bahwa seharusnya memang dirinya harusnya tidak pernah datang dalam kehidupan Larasati. Dirinya dan perempuan yang begitu ia cintai itu, memiliki banyak sekali perbedaan. Bahkan status sosial mereka sangat jauh berbeda.
Siang itu di tengah teriknya kota Jakarta, Dirga mendatangi rumah orang tua Larasati. Bukan tanpa tujuan, melainkan untuk berterimakasih. Sebab menurut pengakuan Larasati semalam, dirinya mendapatkan uang dari orang tuanya untuk biaya pengobatan Miko. Maka sebagai laki-laki yang cukup tahu diri, Dirga mendatangi rumah mertuanya.
Namun, ia harus menelan pahit, karena pada kenyataannya Larasati membohonginya mentah-mentah. Orang tua Larasati bahkan tidak mengetahui soal sakit yang diderita Miko, pun perihal uang yang Larasati dapatkan. Larasati tidak pernah datang pada mereka untuk meminta bantuan. Selain menerima kenyataan itu, Dirga juga tak luput dari cacian dari mertuanya. Sebutan 'laki-laki tidak berguna' dan 'laki-laki sampah yang membiarkan anak dan istrinya menderita', tak luput untuk masuk ke pendengarannya.
Maka di tengah kemelutnya pikiran Dirga siang itu, ia menepi sejenak. Ia meremat dadanya begitu kencang, seolah memohon agar rasa sakit di dalam sana berhenti menghantamnya. Mendapat cercaan tak manusiawi dari kedua orang tua Larasati memanglah menyakitkan. Namun, satu-satunya hal yang membuat dadanya sesak hingga ingin menangis justru kenyataan bahwa Larasati membohonginya.
"Kenapa harus bohong sih, Ras? Kamu dapat uangnya dari mana?" lirih Dirga di tengah sesaknya perasaannya siang itu.
Dirga cukup tahu, dirinya tidak mampu untuk lantas mengembalikan semua uang itu sekaligus. Namun, bukan berarti Larasati harus membohonginya. Dengan sisa tenaga yang Dirga punya— sebab ia terlalu lelah setelah dihantam kenyataan, ia kembali melajukan motornya. Ia menuju ke kantor Larasati, untuk mengajaknya bicara. Soal uang yang ia dapatkan, juga soal hubungan mereka yang belakangan ini terlalu banyak menyimpan rahasia masing-masing.
40 menit Dirga menyusuri jalan protokol yang penuh dengan debu dan asap dari kendaraan lain, hingga kini ia sudah sampai pada parkiran kantor tempat Larasati bekerja. Setelah memarkirkan motornya begitu saja, Dirga masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai empat, lantai di mana Larasati berada.
Hal pertama yang Dirga rasakan ketika pintu lift terbuka adalah tidak percaya diri. Melihat bagaimana semua teman-teman kerja Larasati mengenakan pakaian rapi dan modis, membuatnya kembali berkecil hati. Setelah mengeratkan kepalan tangannya dan menghela nafas, Dirga mulai melangkah. Ia berdiri tepat di depan sebuah pintu berwarna putih, yang memiliki kaca tembus pandang di bagian tengahnya.
Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Larasati sedang bergelut dengan komputer di meja, bersama seorang teman kerja di sampingnya. Dalam keterdiaman itu, Dirga menundukkan kepalanya. Ia tiba-tiba kehabisan kata— tidak tahu apa yang harus ia tanyakan pada Larasati, tidak tahu harus mulai dari mana ia bertanya soal uang yang tidak sedikit itu.
Lalu beberapa saat setelah ia mengangkat kepalanya, ia mendapati bahwa Larasati menatap tepat padanya. Dengan cepat perempuan itu bangkit dari kursinya, lalu berjalan untuk membuka pintu putih itu.
"Kenapa diem aja, Ga? Harusnya ketuk pintu biar aku tau kamu di sini," ujar Larasati setelah berada tepat di hadapan Dirga.
Setelah Larasati menyelesaikan ucapannya, Dirga hanya diam. Menatapnya bersama dengan helaan nafas samar yang mungkin hanya didengar oleh dirinya sendiri. Bahkan hanya dengan mendengar suara ceria dari Larasati, hatinya kembali luluh. Sesak yang tadi memenuhi rongga dadanya, menghilang entah ke mana.
"Udah makan siang?"
Satu-satunya yang mampu keluar dari mulut Dirga justru hanya pertanyaan sederhana semacam itu. Larasati lantas terkekeh, lalu melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Belum, makan siang di kantin kantor aja, ya. Kerjaan aku lagi banyak soalnya, biar nggak buang-buang waktu di jalan."
Setelah mendapat anggukan Dirga, Larasati lantas menggandeng tangannya, dan menuntunnya pada lift yang akan membawa mereka pada lantai di mana kantin berada.
"Tumben ngajakin makan siang bareng?" tanya Larasati di dalam lift, sambil menatap Dirga dengan senyumnya yang mengembang. "Kamu nggak ngantor?"
"Ngantor, Ras. Tadi aku ijin keluar karena ada kepentingan."
Larasati kembali terkekeh, lalu menggandeng lengan Dirga. "Kepentingannya ngajakin aku makan siang bareng? Manis banget sih, suamiku?"
Tepat saat pintu lift terbuka, Larasati lebih dulu keluar, lalu melangkah dengan semangat menuju kantin karyawan yang siang itu tidak terlalu ramai.
"Kamu mau makan apa? Bakmi di sini enak, Ga. Mau cobain?"
Setelah mendapat anggukan Dirga, Larasati segera memesan dua mangkuk bakmi, lalu membawa Dirga untuk duduk di sebuah meja yang terletak dekat jendela dengan kaca yang sangat besar. Dari sana, mereka bisa melihat bagaimana kendaraan berlalu-lalang di jalanan. Kendaraan yang terlihat begitu kecil karena mereka sedang berada di lantai 8 sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Tidak ada percakapan berarti selama mereka menikmati makan siangnya. Hanya Dirga yang mendengarkan ocehan Larasati tentang seberapa berat pekerjaannya belakangan ini. Lalu di tengah-tengah terjedanya ocehan Larasati— sebab perempuan itu sedang menyeruput es teh manisnya, Dirga mulai berdeham.
"Ras, tadi aku ...." ada sedikit jeda sebelum Dirga melanjutkan kalimatnya. "Tadi aku datang ke rumah Mama Papa."
Alih-alih menjawab, Larasati justru mengerutkan keningnya, mencari jawaban mengapa Dirga datang ke sana. Selama mereka berpacaran hingga bertahun-tahun menikah, hanya cacian yang akan Dirga dapatkan saat mendatangi rumah itu. Lalu untuk apa lagi laki-laki itu datang ke 'rumah' yang sudah lama tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk Larasati?
"Aku datang karena pengen bilang makasih ke Papa. Mau gimana pun juga, dia yang bantu kita sampe Miko bisa berobat." Dirga menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu menghela nafas panjang. "Tapi, Ras, kenapa mereka nggak tau kalo Miko sakit? Bahkan katanya, Mama nggak ngerasa kasih kamu uang—"
"Ga ...." Larasati meremat jemarinya di bawah meja. "Kenapa kamu nggak bilang kalo mau datang ke rumah Mama Papa?"
"Kamu dapat uangnya dari mana, Ras?" Alih-alih menjawab, Dirga justru kembali bertanya pada Larasati.
Tidak ada yang bisa Larasati lakukan selain menutup matanya dan menghela nafas berat. "Kamu nggak perlu tau."
"Perlu, Ras. Aku perlu tau. Uang itu untuk pengobatan Miko. Dia juga anak aku, Ras. Darah dagingku."
"Nggak bisa ya, kamu terima aja dan diem tanpa pusingin dari mana aku dapat uang itu?"
Dirga terkekeh, lalu menunduk sambil memijat pangkal hidungnya. "Aku tau kalo aku nggak berguna. Aku tau kalo aku nggak bisa bantu kamu untuk saat ini. Tapi please, Ras ...."
Dirga menghentikan kalimatnya sesaat untuk mengatur nafasnya yang mulai tercekat. Matanya mulai panas sebab butiran air mata yang memaksa untuk keluar. "Please hargai aku sebagai suami kamu. Libatkan aku di semua keputusan kamu."
"Setidaknya kamu kasih tau aku siapa yang bantu kita. Setidaknya kamu kasih aku kesempatan buat bilang makasih sama orang itu!"
"Buat apa, Ga?!"
Larasati cukup tahu, Dirga sedang terluka. Bukan inginnya untuk melukai Dirga seperti ini. Pun ia tidak ingin membuat Dirga merasa bahwa dirinya tidak berguna dan tidak berarti apa-apa dalam hidup Larasati.
"Buat apa aku kasih tau kamu siapa yang bantu kita untuk dapat uang itu? Cukup dengan Miko akhirnya bisa dirawat dengan layak, tanpa perlu khawatir soal biaya dan operasinya. Kamu harusnya cukup dengan itu."
"Ras ...." Kini Dirga benar-benar meneteskan air matanya. "Kamu tau? Kadang aku ngerasa jatuh cinta sendirian. Kadang aku ngerasa cuma aku yang berusaha dalam hubungan kita. Kadang aku ngerasa, kalo kamu masih di sini sama aku karena terpaksa, bukan lagi karena cinta."
Larasati memicingkan matanya, lalu terkekeh setelahnya. Kekehan yang kali ini justru terdengar sedih. "Kamu sadar ngomong gitu? Cuma kamu yang berusaha?"
"Terserah, Ga. Aku nggak punya tenaga untuk bahas hal ini. Kerjaanku lagi numpuk. Please, cukup kerjaanku aja yang bikin aku pusing."
Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, Larasati beranjak dari kursi untuk meninggalkan Dirga yang masih bergeming di tempatnya.
"Kamu tau apa yang salah dari hubungan kita?" ujar Dirga sebelum Larasati terlalu jauh beranjak darinya. "Komunikasi, Ras. Komunikasi yang nggak pernah baik. Kuncinya ngomong, Ras! Ngomong!"
Namun alih-alih menjawab, Larasati justru terus berjalan menjauh dari Dirga, membiarkan laki-laki itu sibuk dengan pikirannya. Meski begitu, Larasati diam-diam menangis. Menangis tertahan, tanpa ada seorang pun yang tahu, tangis yang justru terasa lebih pilu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments