Luka

Kini Larasati sedang duduk di samping Jovanka, dalam mobil milik laki-laki itu. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Jovanka masih menggenggam tangan Larasati lembut sambil mengusapnya, sementara Larasati masih menatap kosong ke luar jendela tanpa berniat membalas genggaman tangan Jovanka.

Kalau boleh jujur, Larasati sungguh lelah dengan semuanya. Ia ingin menepi sejenak, membiarkan waktu yang menyelesaikan segalanya. Namun ia juga sadar, bahwa fitrah manusia adalah untuk terus berusaha.

"Ras ...." Panggilan lembut Jovanka berhasil membuat Larasati menoleh sepenuhnya. "Gue ada kenalan dokter di Singapore. Rumah sakit Teressa emang udah bagus banget, tapi kita masih kesulitan untuk cari pendonor di sini. Gue denger, di rumah sakit kenalan gue di Singapore sekarang lagi ada beberapa pendonor jantung yang siap untuk transplantasi. Mau coba bawa Miko ke sana?"

Larasati menghela nafas, lalu tersenyum lembut. "Jo, lo udah banyak banget bantu gue. Mungkin menurut lo, itu harga yang harus dibayar karena udah beli gue, beli tubuh gue. Tapi menurut gue, gue bahkan nggak kasih sesuatu yang setimpal untuk bayaran yang udah lo kasih."

Jovanka membuang wajahnya. Ia beralih menatap lurus ke luar jendela mobil, lalu melepas genggaman tangannya.

"Ras, aku nggak pernah mikir kalo kamu adalah j4lang yang bisa dibeli pake uang. Uang itu cuma alasan biar kamu tetap mau bertahan di samping aku." Jovanka menghela nafasnya berat. "Aku udah bilang belum, sih, kalo aku suka kamu dari lama banget?"

Larasati terlalu terkejut untuk menjawab pertanyaan Jovanka. Mendengar laki-laki itu mengganti penggilan mereka yang biasanya lo-gue menjadi hal yang lebih lembut seperti aku-kamu, mampu membuat jantung Larasati berdegup lebih cepat.

"Udah lama aku pengen kamu dateng ke aku, Ras. Aku terlalu frustasi untuk mikir gimana caranya, sampe aku tau kalo kamu lagi kesulitan dan butuh uang." Jovanka menunduk, lalu terkekeh. "Mungkin caranya salah, mungkin kamu pikir aku lagi beli j4lang buat temenin aku di ranjang. Tapi aku mau lebih dari sekedar itu, Ras. Bukan tubuh kamu yang aku pengen, tapi cinta dari kamu. Cinta yang sama besarnya kayak yang kamu kasih buat Dirga."

Kini Larasati yang menggenggam tangan Jovanka erat. "Jo, liat gue."

"Gue udah bilang, kalo gue nggak bakal making love sama orang yang nggak gue cintai. Dengan gue bercinta sama lo beberapa hari lalu, bukannya udah cukup membuktikan kalo gue udah mulai jatuh cinta sama lo?"

"Tapi, Jo," lanjut Larasati. "Kita tau kalo ini terlalu salah. Mau gimana pun, kita tau kalo hubungan ini nggak boleh terlalu jauh. Ada Teressa dan Dirga yang masih berpikir kalo kita adalah pasangan mereka yang setia. Gue masih belum bisa kebayang gimana kalo mereka sampe tau semua ini. Jadi, Jo, please ... boleh nggak, kalo kita nggak usah terlalu jauh, apalagi sampe melampaui perasaan kita ke pasangan masing-masing?"

"Aku tau, Ras." Jovanka meremat dadanya sendiri. "Tapi di sini terlalu sakit setiap liat kamu lagi sama Dirga. Dadaku sakit banget liat gimana Dirga dicintai dengan begitu besarnya sama kamu. Apalagi waktu aku denger kamu lagi bercinta sama Dirga di telepon beberapa hari lalu. Sakit, Ras ...."

Larasati jelas tertegun. Kapan ia bercinta dengan Dirga? Lalu, tidak mungkin Larasati menjawab panggilan telepon dari Jovanka saat bersama Dirga.

"Gue? Bercinta sama Dirga?"

Jovanka mengangguk. "Sehari sebelum kita bercinta di apartemen. Aku telepon kamu malam itu, setelah berkali-kali, kamu baru jawab telepon aku. Tapi aku justru denger suara desah*n kamu."

Setelah mencoba untuk mengingat, Larasati terkekeh. "Ya ampun, Jo. Malam itu gue nggak bercinta sama Dirga. Hampir, sih. Tapi nggak lama Dirga dapat telepon dari Ibunya yang minta kita buat balik ke rumah sakit karena Miko nangis nyari gue."

"Tapi tetep aja, aku cemburu."

Larasati kembali terkekeh, lalu menangkup kedua pipi Jovanka. "Jangan cemburu, nanti gue kasih hadiah, deh."

Ia mendekat pada telinga Jovanka untuk berbisik, "Tapi lo tunggu aja di apartemen. Gue mau liat Miko sebentar."

Tepat setelah mengatakannya, Larasati mencim pipi Jovanka. Hal itu jelas membuat jantung Jovanka berdegup begitu kencang dan salah tingkah. Darahnya seakan mendidih sampai ke ubun-ubun. Kalau boleh jujur, Jovanka bahkan ingin tancap gas dan membawa Larasati menuju apartemen saat itu juga.

Setelah Larasati turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke rumah sakit, Jovanka mulai menyalakan mesin mobilnya. Namun, sesaat kemudian ia kembali mematikan mesin mobilnya, dan turun dari sana. Baru saja ia mendapat pesan dari Teressa yang mengajak Jovanka untuk berbicara di ruangannya.

Setelah sampai di ruangan Teressa yang bernuansa putih itu, Jovanka segera duduk dan melipat tangannya.

"Kenapa, Re?" tanya Jovanka santai, saat Teressa masih berdiri sambil menatap keluar jendela dan memunggunginya.

"Kamu sama Laras ada hubungan apa?"

"Kalo nggak salah ingat, aku udah pernah bilang ke kamu kalo Laras temen lama aku."

Teressa tersenyum sarkas, lalu mulai melangkah untuk duduk di pangkuan Jovanka. "Aku baru tau kalo perlakuan kamu ke temen lama bisa jauh lebih lembut daripada perlakuanmu ke aku."

"Please, Re. Jangan mulai. Kalo kamu minta aku ke sini cuma untuk memperdebatkan masalah yang nggak penting, mending aku pulang aja."

"Aku tadi liat semuanya, Jo." Teressa membelai pelan rambut Jovanka. "Aku liat gimana kamu peluk Larasati dan tenangin dia. Kamu bahkan nggak peduli meski banyak perawat yang ngeliatin kamu, padahal mereka semua tau siapa kamu."

"Jadi, Larasati orangnya?" tanya Teressa, yang membuat Jovanka mengerutkan keningnya. "Dia cinta pertama kamu yang selama ini belum bisa kamu lupain?"

"Atau ...." Belaian tangan Teressa terus turun menuju pipi Jovanka, hingga berhenti tepat pada dagu milik laki-laki itu. "Atau dia j4lang yang belakangan ini bikin kamu jarang pulang ke rumah?"

Jovanka menatap Teressa nyalang. Jelas ia tidak terima dengan perkataan istrinya yang dengan seenaknya menyebut Larasati seorang j4lang. Setelah menepis tangan Teressa yang berada di dagunya, Jovanka mendorong tubuh Teressa pelan hanya untuk memintanya bangkit dari pangkuan Jovanka.

"Jangan sampe kamu berani lagi bilang Larasati j4lang, atau aku bener-bener bakal bongkar semua kelakuan kamu ke keluargamu!"

Teressa lantas tertawa. Begitu kencang, hingga cukup membuat Jovanka kebingungan.

"Jadi bener, ya? Terus, apa yang kamu bilang ke aku beberapa hari lalu?" Teressa tampak berpura-pura berpikir, kemudian mulai meniru ucapan Jovanka padanya beberapa hari yang lalu, "Aku pengen kamu sadar kalo selama ini ada aku yang nunggu kamu buat liat aku di belakang kamu."

Setelah meniru ucapan Jovanka, Teressa kembali tertawa sambil bertepuk tangan. "Kamu bilang gitu seakan selama ini aku jahat dan kamu jatuh cinta sendirian, Jo. Padahal aku yang jatuh cinta sendirian di sini."

"Kamu? Jatuh cinta sendirian?" Kini giliran Jovanka yang tertawa. "Kamu nggak akan terus-terusan ketemu sama mantanmu kalo emang kamu cinta sama aku, Re."

"Gimana kalo ada alasan lain?" tanya Teressa, membuat Jovanka kembali mengerutkan keningnya. "Gimana kalo aku ketemu mantanku karena ternyata karena ada sesuatu yang perlu aku selesaikan, bukan untuk melanjutkan hubungan?"

"Kalo emang ada sesuatu yang perlu kalian selesaikan dan bukan untuk melanjutkan hubungan, harusnya kamu kasih tau aku, Re. Bukannya ketemu dia sembunyi-sembunyi!"

"Itu karena kamu nggak pernah peduli sama aku, Jovanka!" Teressa melipat tangannya di atas dada. "Meski pun aku kasih tau, kamu nggak akan peduli, Jo. Nggak akan. Karena aku emang nggak pernah ada di pikiran kamu. Aku nggak pernah jadi prioritas kamu. Jadi buat apa? Buat apa aku kasih tau kamu?!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!