Im Sorry

*Sebelumnya Larasati tidak pernah mendatangi tempat-tempat seperti club* malam atau semacamnya. Namun, hari ini ia dengan berani menginjakkan kakinya pada sebuah club malam yang cukup ramai. Ia sedang duduk berdua bersama seorang perempuan. Di hadapannya, sudah ada dua gelas minuman beralkohol.

"Kenapa lo akhirnya ambil tawaran gue?" tanya seorang perempuan cantik dengan surai kecoklatan.

"Anak gue sakit, Ran. Gue butuh banyak duit buat obatin dia."

"Dirga gimana? Lo nggak minta ijin sama dia, kan?" Rani terkekeh, sambil mulai menikmati segelas wine.

"Ya nggak mungkin gue minta ijin, lah!" Larasati mendekatkan kepalanya pada Rani. "Tapi cowok ini siapa, Ran? Kenapa tiba-tiba dia minta gue buat jadi simpenannya? Padahal gue kan nggak pernah dateng ke tempat ginian?"

"Lo inget Jovanka, nggak?"

"Jovanka? Temen kuliah kita dulu?"

Rani mengangguk sambil menjentikkan jarinya. "Gotcha! Jovanka yang orang tuanya tajir melintir."

"Emang kenapa dengan Jovanka?"

"Dia sering dateng ke sini, dan minta gue buat temenin dia minum. Terus dia tanya-tanya soal lo." Rani mengendikkan bahunya. "Tiba-tiba aja gitu dia tanya soal lo. Terus gue bilang kalo lo udah punya laki, eh dia malah minta kontak lo, dia bilang nggak masalah meski bakal jadi second choice."

Rani terkekeh melihat Larasati yang masih tampak kebingungan. "Dia suka sama lo sejak kuliah, Ras. How lucky you are."

"Dia suka sewa cewek?" tanya Larasati polos, yang sontak membuat Rani tertawa begitu kencang.

"Lo pikir rumah, bisa disewa? Dia ke sini tuh cuma cari pelarian dari hidupnya, Ras. Dia nggak suka pake cewek sana-sini, kok. Santai aja."

"Jo!" panggil Rani tiba-tiba, sambil melambaikan tangannya pada laki-laki bertubuh atletis yang baru saja mendekat ke arah mereka. "Nih, udah gue panggilin ke sini si Laras. Jangan lupa janji lo buat transferin gue!"

Alih-alih menjawab, Jovanka justru terkekeh sambil mengusap kepala Rani yang mulai beranjak pergi.

"Hai, Ras. Udah lama nunggunya?" tanya Jovanka santai.

"Nggak, gue juga baru dateng." Larasati menatap lamat pada laki-laki dihadapannya. Memperhatikan penampilan Jovanka dari ujung rambut sampai kaki. Laki-laki itu terlihat cukup tampan dengan rambutnya yang sedikit panjang, namun tetap terlihat rapi. "Kenapa lo tiba-tiba pengen ketemu gue?"

Jovanka tertawa, lalu mengambil segelas alkohol yang masih utuh. "Nggak usah berlagak polos, Ras. Lo pasti paham yang gue mau."

"I mean, bukannya lo udah nikah, Jo?"

"Gue nggak pernah cinta sama istri gue, Ras."

Kini giliran Larasati yang tertawa. Begitu kencang, hingga membuat Jovanka heran. "Klasik banget jawaban lo! Kalo nggak cinta ngapain nikah?"

"Sama kayak orang-orang kaya kebanyakan, kita dijodohin. Just for make bisnis keluarga kita makin besar."

"That's why lo cari gue buat pelarian?" tanya Larasati sambil terkekeh. "Gue udah punya suami, Jo. Anak gue bahkan udah 6 tahun."

"Tapi sekarang lo tetep dateng, kan?"

Sesak. Hanya itu yang Larasati rasakan saat mendengar ucapan Jovanka. Membayangkan betapa repotnya Dirga menjaga Miko sendirian di rumah, sedangkan dirinya sedang asik duduk bersama seorang laki-laki di sebuah club malam, membuat rasa bersalahnya membuncah. Tatapannya berubah sendu. Sungguh, ia ingin pulang ke rumah dan berlari memeluk Dirga sekarang. Namun, saat mengingat ucapan dokter bahwa Miko harus segera di rawat, Larasati kembali membulatkan tekadnya untuk menjadi wanita simpanan Jovanka.

"Anak gue sakit, Jo. Gue butuh duit banyak. Gue nggak akan mau dateng dan duduk di sini berdua sama lo, kalo bukan karena duit!"

Jovanka tertawa, lalu kembali menenggak segelas alkohol yang berada di genggamannya. "Ini alasan kenapa gue suka sama lo, Ras. Omongan lo bikin sakit, tapi gue suka. At least lo jujur."

"Apa yang bisa gue dapet kalo jadi simpenan lo?"

"Hmmm..." Jovanka tampak berpikir sejenak, lalu meletakkan gelasnya. Ia berjalan mendekat pada Larasati, lalu duduk tepat di sampingnya. "Kemewahan? Barang-barang yang belum pernah lo beli? Kesembuhan buat anak lo? Gue bahkan bisa beliin pulau kalo lo mau."

Larasati terkekeh. Ia cukup tahu, semua kemewahan yang akan ia dapatkan tidak akan benar-benar gratis. "Terus, apa yang lo mau dari gue?"

"Simpel, sih. Lo harus bener-bener menjalankan peran sebagai istei gue. Jadi pendengar yang baik, dateng kalo gue butuh ditemenin, and..."

"Dan? Dan apa?" tanya Larasati yang kini jantungnya benar-benar berdebar menunggu Jovanka menyelesaikan kalimatnya.

*"Dan kasih gue keturunan, maybe*? Cause Teressa istri gue, nggak bisa kasih itu."

...****************...

Cukup lama Larasati termenung di depan pintu rumahnya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk setelah menghela nafas panjang. Ia melihat Dirga yang duduk dan tertidur di sofa ruang tamunya. Larasati berjalan mendekat, lalu mengusap pelan rahang tegas milik suaminya dengan jemarinya. Merasa terganggu, Dirga terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa saat, sebelum akhirnya menatap Larasati sambil tersenyum teduh.

"Baru pulang?" Dirga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. "Gimana risetnya? Siapa sih, yang mau kamu interview sampe lembur gini?"

Benar. Larasati berbohong pada Dirga. Ia mengatakan bahwa harus melakukan riset karena mendapat tugas mewawancarai salah satu orang penting di Jakarta, hingga mengharuskannya pulang larut.

"Ada, Ga. Dia keluarga pengusaha besar. Kebetulan temen kuliah aku dulu."

"Bagus, dong? Kamu jadi nggak perlu repot-repot buat perkenalan dulu," sahut Dirga sambil merapikan anak rambut milik Larasati.

Larasati terdiam. Ia tidak mampu lagi kengeluarkan kalimat apa pun, hingga akhirnya ia mulai terisak. "Maaf, Dirga."

"Hey, kenapa nangis?" Dirga yang tampak khawatir, mengusap pelan bahu milik Larasati. "Soal Miko? Ini bukan salah kamu, Sayang. Memang sudah takdirnya Miko sakit, kamu nggak boleh menyalahkan diri sendiri."

"Kita harus gimana, Ga? Meski mungkin tabungan kita cukup untuk biaya perawatan Miko, tapi gimana sama transplantasinya? Aku udah cari tau kemana-mana dan semua orang bilang itu nggak murah."

"Ras, kita coba buat obatin Miko pake terapi dulu, ya. Sambil kita usaha cari uangnya, seenggaknya Miko nggak dibiarin gitu aja."

"Mau sampe kapan, Ga? Mau sampe kapan kita nyiksa Miko dengan biarin dia pake alat-alat di badannya?! Mau sampe kapan kita biarin Miko ngerasain susah nafas?! Mau sampe kapan kita pasrah dengan terapi?! Kamu tau terapi itu cuma memperlambat kerusakan jantungnya. Aku nggak tega liat dia kesakitan."

Sungguh, bukan hanya Larasati yang sedih. Dirga juga merasa hancur hingga ia tidak lagi bisa menikmati makanannya. Namun, dengan keadaan mereka sekarang, bukankah jalan terbaik adalah mengobati Miko dengan terapi?

"Cari cara, Dirga! Lakukan sesuatu, jangan cuma pasrah!" tegas Larasati sambil terisak.

"Kamu mau aku ngapain lagi, Ras? Aku udah saranin buat jual rumah, tapi kamu nggak mau. Kamu mau suruh aku pinjem uang kantor?!"

"Kenapa nggak?! Kalo kamu bisa pinjem duit kantor, kenapa nggak?! Demi Miko, Ga! Demi Miko!"

"Ras, kantor aku nggak segampang itu buat kasih pinjaman. Kalau pun mereka kasih, aku bakal—"

"Bakal apa?! Bakal tertahan di sana lebih lama?! Kamu nggak akan bisa resign kayak yang kamu pengen karena punya pinjaman?!" Larasati menghapus jejak air matanya, lalu beranjak dari sofa. "Kamu egois, Dirga."

"Bukan cuma egois, tapi kamu nggak berguna!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!