Cinta Aja Nggak Cukup

Hari ini, suasana rumah sakit terlihat cukup ramai. Ruang instalasi gawat darurat bahkan tampak penuh. Beberapa orang meringkuk kesakitan di atas ranjang, sedangkan beberapa lainnya asik berbincang di lorong ruang tunggu. Sementara Larasati, berjalan dengan lesu menuju ruang rawat Miko.

Dirga baru saja kembali ke kantornya, karena ia berkata bahwa ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Pada dasarnya Larasati masih sangat mencintai laki-laki itu. Pun tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Hanya saja, sikapnya mulai membuat Larasati bertanya-tanya soal perasaan Dirga. Pada dirinya, juga pada Miko— anak mereka satu-satunya. Maka di tempat yang bahkan cukup ramai itu, Larasati kesepian.

Setelah memilih meninggalkan orang tuanya dan menikahi Dirga, Larasati hanya memiliki laki-laki itu dan Miko. Namun, kini ia merasa sendirian. Tidak ada orang yang menemani masa sulitnya saat ini, tidak ada yang mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kalau boleh jujur, Larasati ingin sekali berteriak. Mengutuk siapa saja yang membiarkan dirinya sendirian dan kesepian. Atau bahkan mengutuk semesta yang membuat hidupnya begitu sulit. Setelah menghela nafas panjang, Larasati mulai membuka pintu ruang perawatan Miko.

"Jo?!" Larasati tampak terkejut setelah melihat Jovanka yang duduk di samping ranjang Miko, sambil memegang buku dongeng yang masih tampak baru. "Lo ngapain di sini? Bukannya lo bilang mau ke kantor? Teressa tau lo di sini? Tadi lo ketemu Dirga, nggak?"

Setelah meletakkan buku dongeng yang ia pegang di atas nakas, Jovanka tampak terkekeh. "Tanya satu-satu, Ras. Gue bingung jawabnya."

"Tadi gue nggak jadi ke kantor karena tiba-tiba pengen jengukin Miko. Teressa belum tau kalo gue di sini. Terus Dirga ...." Jovanka bangkit dari kursi, lalu mendekat pada Larasati yang masih setia berdiri di dekat pintu. "Emang tadi Dirga ke sini?"

Larasati lantas mengangguk, kemudian berjalan ke arah sofa dan mulai duduk. "Tadi dia ke sini nengokin Miko, tapi karena Mikonya tidur, dia nyusulin gue ke taman samping rumah sakit. Tapi sekarang udah pergi lagi."

"Gue pikir dia bakalan temenin gue di sini buat jagain Miko," lanjut Larasati dengan raut wajah sedihnya.

"Its oke, Ras. Gue kan udah di sini, gue bakal nemenin lo." Jovanka ikut duduk di samping Larasati. "Gimana kata Teressa soal Miko?"

"Dia bilang tim dokter bakal usahain buat cari pendonor secepatnya. Kalo beruntung Miko bakal dioperasi sebulan kedepan. Tapi Miko belum ketemu dokter ahli jantungnya. Kata Teressa, hari Senin nanti dokternya baru ada jadwal visit."

Setelah mengangguk paham, Jovanka menggenggam tangan Larasati. Dulu saat mereka masih kuliah, Jovanka benar-benar menyukainya. Namun, saat itu ia memilih mundur dan tidak mengatakan perasaannya. Selain karena saat itu Larasati sudah memiliki pacar, keluarganya juga sudah mempersiapkan Teressa untuk menjadi istrinya bahkan sebelum Jovanka mengenal Larasati.

Kalau boleh jujur, Jovanka juga tidak ingin membeli Larasati dengan uang. Ia benar-benar ingin mendapatkan hati perempuan itu dengan usahanya. Ia ingin Larasati melihatnya sebagai laki-laki yang mencintainya dan pantas untuk mendapat balasan, bukan laki-laki kaya yang hanya suka membeli perempuan dengan uang.

Untuk beberapa saat, Larasati membiarkan Jovanka menggenggam tangannya. Saat ini ia hanya ingin mendapat kekuatan dari orang sekitar. Meski hanya sebatas genggaman tangan, atau kalimat menenangkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Lo tau nggak sih Jo, apa yang pertama kali gue pikirin pas ketemu Teressa di ruangannya?"

Jovanka menggeleng. "Emang apa?"

"Teressa sempurna." Larasati terkekeh, lalu membalas genggaman tangan Jovanka. "Dia terlalu sempurna buat nggak bisa lo cintai, Jo."

"Justru sesuatu yang terlalu sempurna itu lebih susah untuk dicintai, Ras. Teressa cantik, kaya, karirnya juga stabil. Dia jadi kayak nggak butuh gue."

"Gue pengen punya pasangan yang bisa bergantung sama gue. At least dia butuh gue di salah satu langkahnya. Nggak kayak Teressa yang udah terlanjur sempurna sampe nggak butuh bantuan apa-apa lagi dari gue," lanjut Jovanka.

Larasati lantas terkekeh, lalu melepas genggaman tangan Jovanka sambil berlalu untuk mendekat ke arah jendela. Sungguh, ia tidak mengerti dengan cara berpikir orang-orang kaya. Bukankah semua manusia justru menginginkan kesempurnaan? Kalau saja dirinya dan Dirga merupakan orang yang kaya, mungkin ia tidak akan terjebak dalam situasi ini. Ia bisa saja datang ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan. Namun Larasati cukup sadar, bahwa jika dirinya melakukan hal itu, ia akan menjatuhkan harga diri Dirga di mata kedua orang tuanya sendiri.

"Dulu, gue nggak pernah berpikir buat berpaling dari Dirga. Gue bahkan nggak peduli meski dia nggak bisa kasih gue apa-apa selain cinta. Dan gue udah cukup dengan itu. Gue cuma butuh cinta dari Dirga."

"Tapi sekarang, gue sadar kalo cinta nggak sesederhana itu. Gue juga sadar kalo soal hidup, cinta aja nggak akan pernah cukup." Larasati bersandar pada daun jendela, sambil melipat tangannya dan memperhatikan Miko yang sedang tertidur dengan begitu pulas.

"Lo mikir gitu karena lo lagi butuh uang, Ras."

"Nggak, Jo. Bukan itu poinnya. Dulu gue ngerasa Dirga cinta mati sama gue, sampe dia rela susah-susah kerja apa pun demi bisa nikahin gue. Tapi gue lupa, kalo manusia mudah berubah. Cinta bisa hilang kapan aja. Makanya, sekarang gue sadar kalo cinta aja nggak cukup."

"Terus? Apa lagi yang lo butuhin?"

"Komitmen." Larasati tersenyum. "Komitmen untuk tetap bertanggung jawab. Mau gimana pun kondisinya, mau gimana pun sulitnya, harusnya Dirga tetep berpegang teguh sama komitmennya untuk mencintai gue sama kayak dulu, dengan berusaha cari jalan keluar untuk pengobatan Miko, dan nggak ngebiarin gue berjuang sendirian."

"Gue tau dia punya aset yang bisa dijual, Jo. Tapi dia nggak mau ngejual itu dengan dalih kalo aset itu untuk tabungan masa depan Miko, dan malah minta gue buat jual rumah. Kalo Miko nggak cepet diobatin, sama aja kayak dia nggak bakal punya masa depan, kan?"

"Karena itu lo mikir Dirga udah nggak cinta lagi sama lo?"

Setelah berpikir sejenak, Larasati mengendikkan bahunya. "Gue nggak tau. Tapi mungkin cintanya nggak sebesar dulu? Karena gue ngerasa berjuang sendirian sekarang."

"Nikah sama gue, Ras. Gue bakal kasih semua yang lo butuhin. Cinta, komitmen, uang atau apa pun itu. Gue bisa kasih semuanya dan bikin lo bahagia."

"Bahagia dengan ngerusak rumah tangga perempuan sebaik Teressa?" Larasati tekekeh, lalu menggeleng setelahnya. "Gue juga perempuan, Jo."

"Gue udah bilang, Terrssa nggak butuh gue, Ras. Dia bahkan nggak bakal peduli meski gue selingkuh atau pergi ninggalin dia sama perempuan lain."

"Lo yakin? Emang udah pernah tanya soal perasaan Teressa?" tanya Larasati yang berhasil membuat Jovanka terdiam.

"Lo tau kalo perempuan nggak sesederhana itu, Jo. Mungkin Teressa nggak pernah bilang, tapi dia juga pasti mau lo buat terus ada di samping dia. Apalagi, kalian nikah udah 5 tahun, kan? Itu bukan waktu yang sebentar buat diakhiri gitu aja cuma dengan alasan 'nggak cinta'."

Setelah Larasati selesai berbicara, Jovanka bangkit dari kursinya. Ia berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Miko. Mungkin Larasati benar. Selama ini, ia dan Terrssa tidak pernah membicarakan soal perasaan masing-masing. Maka tanpa aba-aba, kaki Jovanka kini mulai melangkah menuju ruangan Teressa.

Mungkin hari ini, mereka bisa memperbaiki hubungan pernikahan yang selama ini begitu dingin...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!