"Just making love with me. Puasin semua fantasi liar gue soal lo. Kasih gue semua yang Dirga dapat selama jadi suami lo."
Larasati tertawa kencang. Ia sudah tahu, bahwa hanya laki-laki bajingan yang akan mencari wanita simpanan, padahal rumah tangganya sedang baik-baik saja. Namun, ia tidak menyangka bahwa Jovanka akan berterus terang seperti itu. Melihat Larasati yang tertawa kencang di pangkuannya, Jovanka lantas menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa malah ketawa?" tanya Jovanka yang tampak bingung.
"Lo tau nggak sih, Jo? Making love bakal menyenangkan kalo lo lakuinnya sama orang yang lo cintai. Kalo nggak, cuma buang-buang waktu dan tenaga."
"Gue bakal bikin lo jatuh cinta sama gue dan ninggalin Dirga, Ras."
"Jo, dari awal kita sepakat kalo hubungan ini nggak bakalan ngelewatin batas. Gue cuma bakal jadi pasangan yang selalu ada kalo lo butuh, gue bakal ngelakuin apa aja kecuali making love. Mungkin lo pikir gue bener-bener kepepet sampe bakal relain badan gue buat lo." Larasati bangkit dari pangkuan Jovanka, lalu berjalan mendekat ke arah jendela untuk membuka tirai yang masih tertutup. "But no, Jovanka. Gue nggak bakal kasih badan gue sama laki-laki selain Dirga. Jadi jangan berharap lebih."
"Oke, lets see." Jovanka bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Larasati dan memeluknya dari belakang. Ia merapikan rambut yang terurai di bahu milik perempuan itu, lalu berbisik tepat pada telinganya, "Lets see sejauh mana lo bakal tahan buat nggak kasih badan lo ke gue."
Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, Jovanka melepas pelukannya dan berjalan menjauhi Larasati. "Gue harus pergi ke kantor. Lo bisa dateng ke rumah sakit Teressa sekarang. Sebutin aja angkanya, biar langsung gue transfer ke rekening lo."
...****************...
Larasati sedang berjalan di lorong panjang sebuah rumah sakit sambil menggandeng tangan Miko. Ia sudah meminta Dirga untuk menemani mereka berdua ke rumah sakit, namun seperti biasa, Dirga berkata bahwa pekerjaannya di kantor tidak bisa ditinggalkan.
Kini Larasati berdiri di sebuah pintu putih yang bertuliskan nama Teressa. Ia menghela nafas, sebelum akhirnya mengetuk pintu dan membuknya begitu saja. Netranya menangkap sosok perempuan yang baru saja memakai jubah dokternya. Rambut kecoklatannya ditata dengan begitu indah. Perempuan itu tampak cantik dengan dress selututnya yang berwarna biru tua, juga dengan jam tangan bermerek mewah yang terlihat melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Teressa terlihat begitu anggun. Caranya berjalan, caranya berbicara, juga caranya tersenyum. Semuanya tampak sempurna. Setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Teressa kembali menatap Larasati dan Miko bergantian. "Seingat saya, jadwal pasien pertama 15 menit lagi."
"Saya Larasati, teman lama Jovanka, ini anak saya Miko," jawab Laasati singkat.
"Oh kamu Laras?" Teressa tersenyum ramah. "Kemarin Jovanka udah cerita soal Miko. Ngomongnya santai aja, Ras. Anggep aku temen kamu juga."
"Makasih." Larasati membawa Miko untuk duduk di kursi yang berada di hadapan Teressa. "Apa Miko bisa langsung di operasi untuk transplantasi?"
"Kita usahakan untuk cari pendonor yang cocok dengan jantung Miko ya, Ras. Sebelum kita dapat jantung untuk Miko, sementara biar Miko dirawat dulu, karena dia nggak boleh sampe capek. Mulai sekarang, aku bakal jadi dokter anak yang mantau keadaan Miko."
"Kira-kira sampe kapan Miko harus nunggu pendonor yang pas, Re?"
"Kita nggak tau pasti, Ras. Tapi aku bakal usahain yang terbaik buat cari pendonor secepatnya. Kalo beruntung, Miko bisa dioperasi sebulan kedepan. Kita berdoa aja buat Miko."
"Apa miko bisa bertahan selama itu?" tanya Larasati dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dengan cepat, Teressa menggenggam lembut tangan Larasati di atas meja.
"Pasti bisa, Ras. Miko pasti kuat. Yang penting kamu kasih semangat buat dia."
Setelah berbincang cukup panjang, kini Teressa mengantar Miko untuk menuju ruang perawatannya. Larasati tak hentinya mengusap matanya yang basah. Melihat Miko harus terbaring di ranjang rumah sakit, berteman dengan obat-obatan, dan berbagai alat mulai dipasang pada tubuh Miko, benar-benar membuat hati Larasati begitu hancur.
"Nanti bakal ada perawat yang bantu buat jagain Miko kalo kamu dan suami lagi kerja, Ras. Aku juga pasti bakal pantau Miko terus, jadi kamu tenang aja."
Bertemu Teressa untuk pertama kalinya, membuat Larasati menyadari bahwa perempuan itu benar-benar baik. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Teressa mengetahui hubungan antara dirinya dan Jovanka.
Setelah keluar dari ruang perawatan Miko, Larasati memutuskan untuk berjalan menuju taman yang terletak di samping rumah sakit. Hari ini merupakan hari Jumat, namun Larasati sudah meminta ijin untuk tidak datang ke kantor untuk bekerja. Setibanya di taman, Larasati menghela nafas panjang. Kini dadanya terasa sesak dan sakit disaat yang bersamaan.
Entah siapa yang harus disalahkan dalam keadaan ini. Kurangnya Dirga untuk mencari jalan keluar untuk biaya pengobatan Miko, atau dirinya yang terlanjur jauh dengan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Jovanka. Dalam hati Larasati terus mengutuk Dirga yang menurutnya tidak berguna, juga mengutuk dirinya sendiri karena menyakiti perempuan sebaik Teressa dengan berselingkuh di belakangnya bersama Jovanka.
Namun semakin dalam ia mengutuk keadaan, semakin sesak yang Larasati rasakan.
"Ras?" Suara lembut Dirga berhasil membuyarkan riuhnya pikiran Larasati. "Gimana Miko? Kenapa kamu di sini?"
"Kamu tau dari mana aku ada di sini?" Alih-alih menjawab, Larasati justru balik bertanya.
Dirga menatap lekat pada mata sembab milik Larasati. Mata yang biasanya berbinar, hari ini terlihat banyak sekali luka di dalamnya. Maka tanpa berpikir panjang, Dirga segera duduk di samping Larasati dan memeluknya begitu erat.
"Ras, sorry. Sorry karena aku nggak berguna." Suara Dirga mulai bergetar, sebab laki-laki itu hendak menangis. "Sorry karena kamu harus ngeluarin uang tabungan kita untuk biaya pengobatan Miko. Padahal aku tau selama ini kamu berusaha keras buat kumpulin uang itu buat buka toko roti dan berenti kerja."
"Ras, aku udah coba ajuin pinjaman ke kantor, tapi mereka nggak bisa kasih aku pinjaman sebanyak itu." Dirga melepas pelukannya. "Kita coba jual rumah aja ya, Sayang?"
"Its fucking 500 million, Dirga." Larasati menatap Dirga dengan tatapan paling datar. "Kamu pikir semua orang pegang uang 500 juta dan dengan gampangnya beli rumah? Mungkin kamu pikir orang-orang kaya nggak akan keberatan ngeluarin uang segitu buat beli rumah. Tapi emang ada orang kaya yang mau beli rumah kecil begitu?"
Larasati menghela nafasnya, lalu menggenggam tangan Dirga. Begitu erat, seakan ingin membagi sesak yang sedari tadi ia rasakan. "Kamu nggak perlu pikirin biaya pengobatan Miko, Ga. Biar aku yang urus. Kamu cukup bantu aku buat ngerawat dia aja. Soal uang, kamu nggak perlu khawatir lagi."
"Kamu udah dapet uangnya buat bayar semua biaya perawatan Miko? Termasuk transplantasi?" Dirga tampak kebingungan. "Kamu dapet duitnya dari mana, Ras?"
Setelah pertanyaan sederhana dari Dirga, Laras tidak mampu berkata apa pun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments