Am I Happy?

Sudah lama sekali, Larasati tidak duduk berdua dengan Dirga sambil menikmati sate padang di kawasan Sudirman. Dulu sekali, mereka sering datang ke tempat itu setelah berkencan seharian, atau setelah menyelesaikan tugas kuliah.

Sore itu, langit tampak sama seperti saat pertama kali Dirga menyatakan perasaannya pada Larasati. Warnanya sedikit jingga, namun kelabu di beberapa bagian.

"Lama banget ya Ga, kita nggak ngabisin waktu berdua gini?"

"Iya, Ras. Terakhir kali, pas kamu lagi hamil Miko, ya?" sahut Dirga. "Kamu bahagia nggak sih, nikah sama aku?"

Larasati tidak menyangka bahwa pertanyaan mudah yang Dirga lontarkan, tak mampu ia jawab. Larasati cukup menikmati hubungan pernikahan mereka. Dengan segala kesederhanaan mereka, juga dengan semua cinta yang Dirga berikan untuknya. Tapi, apa ia bahagia?

Seperti yang diucapkan oleh Jovanka kemarin, "Kalo Dirga nggak bisa bikin lo bahagia, mungkin uang ini bisa." Tapi tidak. Menerima banyak uang dari Jovanka, tak lantas membuat Larasati berbunga-bunga, pun dadanya tidak berdebar seperti orang yang sedang berbahagia. Lalu seperti apa definisi bahagia sebenarnya?

Setelah beberapa saat berpikir, Larasati mulai bersuara, "Menurut kamu bahagia tuh kayak gimana sih, Ga?"

"Hmmmm ...." Dirga melipat kedua tangannya pada dadanya. "Bahagia menurut aku, kalo kamu bisa tidur nyenyak tanpa harus over thingking, makan tanpa mikir apa pun selain makanan yang ada di depan kamu, nggak ngerasa sedih dan bisa ketawa lepas sama orang-orang yang kamu sayang, sampe kamu udah nggak pengen dan nggak butuh apa pun lagi ... mungkin?"

Larasati mengangguk pelan, lalu menyamankan duduknya. "Aku nggak pernah pengen apa-apa selama kita nikah, aku nggak butuh apa pun lagi setelah kita nikah, aku selalu nikmatin makanan aku tanpa mikir apa pun, aku bisa tidur nyenyak tanpa over thinking ...." Larasati menghela nafasnya cukup panjang. "Tapi itu kemarin, sebelum aku tau kalo Miko sakit. Sebelum aku tau ternyata punya banyak uang itu penting, sebelum aku mikir kalo kayaknya nggak ada yang bisa diharapkan dari masa depan kita."

"Jadi menurut kamu, apa aku bahagia?" lanjut Larasati.

Kini giliran Dirga yang tak bisa mengatakan apa pun. Ia sangat tahu bahwa Larasati selalu memiliki pemikiran yang cukup rumit. Namun, kini ia sadar, bahwa bukan pemikiran rumit Larasati yang mengancam hubungan mereka, tapi ketidakmampuannya untuk memahami Larasati lebih jauh.

"Kayaknya nggak ada yang bisa aku kasih ke kamu selain rasa kecewa ya, Ras? Waktu kamu bilang kalo aku nggak berguna, aku yakin kalo kamu sungguh-sungguh ngomong gitu. Aku pikir, aku udah cukup berusaha yang terbaik untuk kamu dan Miko. Tapi ternyata aku nggak lebih dari seorang pengecut ya, Ras?"

Setelah itu, Larasati terdiam— sibuk dengan pikirannya yang masih saja riuh. Tak ada kalimat apa pun yang mampu ia lontarkan.

"Maaf karena aku belum bisa bikin kamu bahagia. Tapi aku akan terus berusaha, Ras. Aku bakal berusaha bahagiain kamu dan Miko, aku bakal berusaha buat ganti semua biaya pengobatan Miko. Siapa pun yang bantu kamu sampe dapet uang sebanyak itu, tolong sampaikan kalo aku bilang makasih sama dia. Aku bakal ganti berapa pun jumlahnya nanti."

Dalam hati, Larasati tertawa. Menertawakan dirinya sendiri, menertawakan situasi yang sedang ia alami. Sungguh, tidak terbayangkan bagaimana reaksi Dirga ketika mengetahui bahwa dirinya menjadi wanita simpanan demi membayar pengobatan Miko. Apa Dirga benar-benar akan berterimakasih saat mengetahui bahwa dirinya tidak lebih dari seorang j4l4ng? Atau justru ia akan merasa jijik dan meninggalkan Larasati?

...****************...

Untuk sekali saja, Larasati ingin egois. Saat Dirga rela untuk tidur pada sebuah sofa sempit di rumah sakit, Larasati jutru memilih untuk pulang. Pulang ke apartemen milik Jovanka yang sebentar lagi akan berpindah menjadi miliknya. Ia memberi Dirga alasan bahwa ada beberapa materi artikel yang harus dipelajari dan di selesaikan malam ini. Maka dengan senang hati, Dirga menyuruh Larasati untuk pulang ke rumah— rumah yang tidak akan pernah Dirga sangka.

Tempat favoritnya adalah ruang tengah dengan sofa nyaman yang menghadap langsung pada jendela kaca besar. Larasati bisa menikmati secangkir kopi yang ia buat sendiri dari mesin kopi bermerek mahal milik Jovanka, sambil mengagumi keindahan lampu kota dari lantai 16 gedung itu.

Saat kopinya masih tersisa setengah, Larasati menyadari bahwa ia tidak lagi punya waktu untuk memanjakan dirinya sendiri. Untuk sekedar menikmati kopi dengan tenang, menonton drama korea favoritnya, atau duduk dengan nyaman tanpa rengekan Miko dan suara Dirga yang memintanya untuk memasak mie instan saat tengah malam.

Dalam keterdiaman itu, Larasati mendengar suara dari pintu apartemen terbuka. Ia sedikit berjingkat karena bagaimana pun, ia takut kalau-kalau Teressa tiba-tiba datang ke apartemen itu dan mendapati Larasati sedang berada di sana. Namun, sedetik kemudian ia merasa lega, karena yang ia dapati adalah Jovanka yang berjalan mendekat padanya.

Pria itu melemparkan tas yang ia bawa pada sofa, lalu membuka jas yang masih ia kenakan. Sambil melepas jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Jovanka terus mendekat sambil tersenyum. Ia berhenti tepat di hadapan Larasati, lalu menarik perempuan itu hanya untuk berdiri dengan posisi tanpa jarak dengannya. Jovanka merengkuh pinggang ramping milik Larasati sambil menatap matanya begitu lekat.

"Kenapa dateng ke sini? Teressa gimana?" tanya Larasati.

"Dia udah biasa dengan gue yang nggak pulang ke rumah karena tidur di kantor." Jovanka duduk pada sofa yang tadinya menjadi tempat Larasati untuk menikmati kopinya. Ia turut membawa Larasati untuk duduk di pangkuannya, lalu memeluknya begitu erat sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher milik Larasati. "Lo wangi banget, padahal udah malem gini."

Setelah terkekeh, Larasati membelai lembut surai kecoklatan milik Jovanka. "Lo emang clingy gini, apa lagi capek aja?"

"Nggak tau, tapi gue nggak pernah gini sama Teressa."

"Jangan bohong." Larasati tertawa pelan. "Mana mungkin lo nggak pernah manja gini sama istri sendiri?"

"Beneran, Ras. Nggak ada untungnya gue bohongin lo." Jovanka mengangkat kepalanya, lalu mengusap lembut bibir ranum Larasati. "Ras, gue boleh cium lo?"

Larasati lantas tersenyum, lalu mengangguk pelan— mengijinkan Jovanka untuk menciumnya. Maka tanpa berpikir lebih lama, Jovanka mulai mencium bibir Larasati dengan sekali kecupan. Ia mengusap bibir perempuan yang sedang dalam pangkuannya itu, lalu kembali menciumnya. Lembut tapi pasti, Larasati mulai membalas pagutan bibir Jovanka.

Setelah menyadari bahwa Larasati mulai kehabisan nafas, Jovanka melepaskan pagutan mereka. Bisa ia rasakan dengan jelas bagaimana nafas Larasati menerpa wajahnya. Sudah lama sekali Jovanka mendambakan momen ini. Bahkan saat bercinta dengan Teressa, yang ada dalam benaknya adalah Larasati yang sedang memanggil namanya dengan manja.

"Gue tau lo nggak mau making love sama orang yang nggak lo cintai. Jadi, gue bakal sabar nunggu sampe lo dateng sendiri ke gue." Jovanka mendaratkan ciumannya pada bahu Larasati. "Sampe saat itu tiba, gue nggak masalah meski hubungan kita cuma sebatas ini."

"Tapi gue akan pastikan kalo lo bakal bilang cinta sama gue. Saat hari itu tiba, gue nggak akan pernah lepasin lo, Ras."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!