"Siapa sayang,"
Maureen buru-buru keluar dari area dapur dan membawa putranya kembali kedepan sebelum masuk ke dapur, jika melihat Noel di dapur pasti Ethan akan memiliki banyak pertanyaan.
"Bibik Celine, katanya mencari ayah." Jelas Ethan.
Maureen mengerutkan keningnya, Celine? siapa wanita yang mencari Noel, apakah kekasih atau bahkan istri pria itu.
Sampainya di ruang tamu Maureen bisa melihat wanita cantik yang bernama Celine itu, di lihat dari penampilannya Celine adalah wanita berkelas.
"Ma-"
"Untuk apa kau datang kemari."
Belum juga membuka suara, tiba-tiba Noel muncul dan sudah berdiri dibelakang Maureen, sudah seperti hantu saja.
"Kakak, aku mencari mu di kamar penginapan, tapi kau tidak ada." Ucap Celine dengan wajah sebal.
Maureen menelan ludah, panggilan Celine pada pria di belakangnya ternyata adalah kerabat.
Tatapan Celine mengarah pada anak kecil laki-laki yang sudah mencuri perhatiannya.
"Sayang, Tante ini adik paman itu." Katanya dengan bibir tersenyum.
Ethan menatap wajah Celine dan Noel bergantian, "Jadi ayah punya adik?"
Hah
Mata Celine melotot, jadi sudah sedekat apa hubungan kakaknya dan anak yang baru di temukan ini.
"Ya, dia dokter yang akan mengobati Ethan, jadi jangan takut." Noel meraih tubuh Ethan dan menggendongnya.
Maureen tersenyum pada Celine yang sedang menatapnya.
"Aku Maureen ibunya Ethan," Cicit Maureen dengan gugup.
"Oh, aku Celine. Senang bertemu kalian." Celine terseyum ramah.
"Pantas saja kak Noel betah sendiri, ternyata wanita yang berhasil melahirkan putranya cantik dan-"
Celine tidak bisa melanjutkan imajinasinya saat suara Maureen mengintrupsi.
"Masuklah, aku sedang memasak." Ucap Maureen yang mencoba ramah.
Biar bagaimanapun ia sadar jika yang berkuasa adalah ayah dari Ethan. yang terpenting untuk Maureen adalah kesembuhan putranya tidak peduli dengan dirinya jika dianggap tidak ada.
Celine mengangguk, ia masuk dan ikut bergabung dengan kakaknya dan juga keponakan yang ternyata sudah sangat besar.
"Kak bagaimana bisa kau tidak tahu jika ada Noel versi saset seperti ini tumbuh." Bisik Celine yang duduk di samping Noel.
Noel hanya melirik adiknya itu, dan kembali fokus pada Ethan yang kembali menggambar sketsa gedung.
"Kalau ayah dan ibu tahu pasti habislah kau kak." Gumam Celine.
*
*
Tiga hari sejak Noel memeriksakan kecocokan sum-sum tulang belakang. Kini Noel menatap selembar kertas yang diberikan Celine padanya.
Tanganya mengusap wajahnya kasar, Noel merasakan seluruh tubuhnya lemas mengingat bagaimana Ethan akan berjuang.
"Ayah akan melakukan apapun untuk kesembuhan mu sayang," Gumamnya dengan perasaan tidak tenang.
Uang banyak yang dia miliki tidak bisa membeli kesembuhan putranya, jika bisa Noel rela mengabiskan semua uang yang dia miliki asalkan putranya sehat.
Tapi takdir berkata lain, Ethan anak yang spesial hingga Tuhan memberinya ujian.
Setelah mengetahui hasil pemeriksaan dirinya, Noel memilih untuk keluar dari ruanganya. Ia selalu tidak betah berada di rumah sakit yang ada hanya kepikiran dengan Ethan.
Dengan langkah tergesa Noel berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju lobby, hingga tatapan matanya jatuh pada seorang wanita yang kini berjalan sambil menggandeng anak kecil yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
"Ethan!"
Alis Noel berkerut saat seorang pria memakai jas putih yang Noel tahu seorang dokter menghampiri Ethan.
Bahkan bibir Ethan tersenyum lebar saat pria itu mendekat.
"Cih, dasar lalat pengganggu." Gumam Noel berdecih sinis.
"Rafael kamu tidak sibuk?" Tanya Maureen saat melihat dokter Rafael menyambutnya di lobby.
"Tidak, aku akan mengantar kalian untuk pemeriksaan." Ucap dokter Rafael sambil menggandeng tangan kecil Ethan.
"Apa kau ingin di pecat karena lalai dalam pekerjaan!"
Suara bariton yang begitu dingin menyapa pendengaran Maureen dan juga Rafael.
Ethan tersenyum senang melihat ayahnya ternyata ada disini juga.
"Ayah, kamu disini!" Tanyanya dengan wajah senang.
Noel terseyum dan meyambut kedatangan Ethan dengan pelukan, di mana Noel membungkuk dan mengangkat Ethan kedalam gendonganya.
Dokter Rafael yang mendengar panggilan Ethan mengerutkan keningnya, meskipun dia memiliki insting jika keduanya memiliki hubungan.
"Ya, ayah bekerja di sini?" ucap Noel sambil mencium pipi Ethan.
Anak kecil itu tersenyum lebar, sejak kedatangan pria yang di panggilnya ayah ini hati Ethan selalu senang.
"Tuan Noel," Sapa Rafael sambil membungkuk hormat.
Noel hanya melirik Rafael dengan tatapan datarnya, berbeda saat sedang menatap Ethan yang begitu hangat.
"Ayo ikut ayah," Tanpa ijin dan permisi Noel membawa Ethan bersamanya meninggalkan Maureen yang terkejut tiba-tiba putranya di bawa pergi.
"Maureen sebenarnya apa-"
"Rafeal aku harus pergi menyusul Ethan." potong Maureen cepat dan langsung pergi meninggalkan Rafael yang menatap mereka kesal.
Noel diam-diam tersenyum dengan langkah kakinya yang membawa Ethan, karena di belakangnya tampak Maureen berlari menyusulnya.
"Ayah kata ibu aku harus bertemu dokter," Ucap Ethan saat ayahnya membawanya masuk kedalam lift.
Dan tak lama Maureen menyembul ikut masuk dengan napas memburu karena berlari mengejar Noel.
"Ya, mulai sekarang dokter mu bibik Celine, bukan dokter yang lain. Kau mengerti."
Dengan cepat Ethan mengangguk, Celine yang berdiri di samping kedua pria kembar berbeda postur itu menarik napas dalam-dalam.
"Apa dia memiliki kaki seribu yang tidak terlihat sehingga jalanya begitu cepat," Gumam Maureen dalam hati.
Noel tersenyum tipis melihat Maureen yang kuwalahan mengejarnya.
Ting
Pintu lift terbuka Noel keluar lebih dulu masih dengan Ethan di gendonganya.
"Ayah turunkan aku, nanti tangan ayah bisa pegal." Katanya dengan wajah memohon.
Bukanya Ethan tidak senang, tapi anak itu menyadari jika berat tubuhnya sudah berat.
"Tidak masalah, tangan ayah masih kuat untuk mengendong kamu lama, bahkan ibumu juga ayah kuat mengendongnya, Dan melemparnya ke atas ranjang," sisi otak licik Noel ikut andil.
Maureen membelalakan matanya, sejak tadi dia diam kenapa haru di seret dalam pembicaraan yang akan menimbulkan kepanikan.
"Apa ayah sungguh-sungguh?" Tanya Ethan dengan penuh harap.
"Ya, ayah tidak berbohong."
Sedangkan Maureen sudah mulai gelisah dengan apa yang akan putranya lontarkan setelah ini.
"Kalau begitu, sekarang ayah harus mengendong ibu juga."
Hah!
*
*
Gendong Noel, lempar ke ranjang 🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
sur yati
bgs ETAN
2024-02-12
0
Alanunyu Alan
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-02-06
0
Ita Mariyanti
🤣🤣🤣 ayo....ayo...
2023-11-03
0