Maureen tampak nanar melihat kebawah sana, ia tidak bisa menikah dengan pria kejam, yang tidak bisa menghargai seorang wanita. Lebih baik Maureen mati dari pada harus menikah dan hidup dalam neraka dunia.
Maureen mengusap pipinya yang basah, ia menatap pintu dan jendela kamarnya bergantian.
"Aku tidak ingin berakhir menjadi wanita menyedihkan sampai mati, lebih baik aku pergi."
Perlahan Maureen menurunkan kakinya lebih dulu, ia yang sebenarnya takut akan ketinggian memilih untuk membuang jauh-jauh rasa takut itu, tangannya berpegangan dengan kuat Maureen benar-benar nekat kabur dari rumah orang tuanya untuk menghindari pernikahan sengsara yang akan ia alami.
Sedangkan di luar kamar tepatnya di lantai bawah, kedua orang tua Maureen begitu antusias dan bersemangat melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan tuan Fergu yang akan menikahi Maureen. Tuan Fergu sangat kaya raya memiliki banyak usaha dan juga bar yang terkenal di kota. Kaya versi orang tua Maureen berbeda dengan orang kaya versi yang sesungguhnya. Bagi mereka tuan Fergu adalah pria yang sudah paling kaya.
"Ibu, pasti tuan Fergu akan memberikan banyak uang untuk maskawin Maureen." Jaena begitu senang saat memikirkan berapa banyak uang yang akan di dapat Maureen nanti, hanya membayangkan saja membuat Jaena sudah bahagia apalagi mendapatkan secara nyata.
"Kamu tidak usah pikirkan itu sayang, kamu boleh beli apapun jika Maureen sudah menikah dan kita bisa menikmati uang yang tuan Fergu berikan pada Maureen." Wanita yang di panggil ibu itu tertawa senang.
Begitu juga dengan Jaena, mereka berdua begitu bahagia di atas penderitaan Maureen.
Tapi mereka tidak tahu musibah apa yang akan mereka dapatkan jika tahu kalau Maureen sudah kabur.
*
*
Di sebuah pelabuhan Maureen duduk dengan helaian rambut yang terbang, angin laut yang menerpa wajahnya membuat rambut panjangnya terbang menutupi wajahnya.
Dengan bibir yang tersenyum tipis, dan tatapan mata yang memandang jauh penuh harap. Maureen meninggalkan kota kelahirannya untuk mengubur kehidupannya yang keras dan menyedihkan, berharap kehidupan mendatang akan jauh lebih baik dari kehidupannya yang sekarang.
"Selamat tinggal hidupku yang menyedihkan," Gumamnya dengan wajah sendu.
Satu tahun disebuah pulau yang memiliki keindahan panorama dan terkenal akan pantainya yang indah, hingga pulau yang dulunya biasa saja kini berubah menjadi pulau yang banyak disukai pendatang ataupun turis dari negara lain.
Tidak hanya pulau dan fasilitas yang cukup baik, pemandangan yang menyejukkan mata cocok untuk pengantin yang sedang berbulan madu.
Seorang wanita yang sedang mengendong bayi sekitar berumur dua bulan baru saja keluar dari sebuah hotel penginapan di pulau. Wanita itu tersenyum saat melewati lobby hotel karena ada yang menyapanya.
"Nona Maureen, kenapa buru-buru pulang?" Sapa seorang resepsionis wanita yang sedang berjaga.
Maureen yang di tanya berhenti sebentar dan menatap wanita berpenampilan modis itu.
"Putraku akan melakukan pemeriksaan bulanan, jadi aku pulang lebih awal." Jawab wanita yang di panggil Maureen.
Wanita yang bertanya mendekati Maureen dan melihat bayinya, "Apa dia sedang sakit?" tanya wanita itu.
"Aku belum tahu, tapi dokter menyuruh untuk melakukan pemeriksaan rutin." Ucap Maureen dengan tatapan sendu pada putranya.
"Semoga putra mu baik-baik saja, kamu yang kuat."
Maureen mengangguk saja, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan putranya, tapi perasaanya sedang tidak baik-baik saja, Maureen merasakan ada sebuah batu besar yang menghimpit dadanya.
"Ibu akan melakukan apapun untuk mu sayang," Ucapnya dengan senyum penuh kesedihan.
Maureen pergi dari kota kelahirannya berniat untuk mengubah kehidupannya yang kurang baik. Tapi justru bukan nasib baik lagi-lagi yang menghampiri Maureen. Wanita itu ternyata positif hamil setelah satu bulan tinggal di sana, dan siapa lagi jika bukan dengan pria di malam itu, percintaan naas yang dia alami ternyata meninggalkan kehidupan benih aktif sehingga tumbuh subur di rahim Maureen.
Andai Maureen tidak memikirkan dosa, mungkin ia bisa membunuh janinnya waktu itu. Tapi pikiran sehat Maureen masih bisa bekerja dengan baik, Maureen yang tidak memiliki siapapun memiliki untuk mengandung benih pria yang tidak dia kenal, hingga kini benih itu lahir dengan selamat dan sangat tampan.
Maureen turun dari taksi yang membawanya ke rumah sakit umum tempatnya melahirkan dulu, Maureen begitu akrab dengan dokter yang menolong persalinannya dan saat ini ia juga menemui dokter yang sudah membantunya itu.
"Dokter Rafeal!" Maureen berjalan cepat mendekati pria berjas putih yang baru keluar dari ruanganya.
"Maureen," Pria yang di panggil Rafael tersenyum saat melihat seorang wanita mengendong bayi.
"Sebenarnya ada apa? kenapa bayiku harus melakukan pemeriksaan." Wajah Maureen terlihat begitu cemas, sejak menuju rumah sakit tadi dirinya selalu memikirkan bayinya.
Dokter Rafeal menghela napas sambil menatap bayi laki-laki yang sedang terlelap di gendongan Maureen.
"Nanti kita akan tahu hasilnya, semoga baik-baik saja." Ucap dokter Rafael dengan tatapan tak bisa diartikan.
Maureen menunggu di kursi tunggu, Maureen menunggu dengan sabar sambil memberikan asi untuk putranya, kemanapun dirinya pergi selalu membawa apron menyusuri agar nyaman saat menyusui di tempat umum, Maureen memberikan asi untuk putranya, ia berusaha memberikan yang terbaik agar putranya tumbuh dengan sehat.
Bibir Maureen mengulas senyum, dengan rasa sesak yang menyusup ke dalam dadanya.
"Ibu akan melakukan apapun yang terbaik untuk mu nak, hanya kamu yang ibu miliki."
Tak lama nama Maureen di panggil, wanita itu berdiri dan menuju pintu ruangan dokter spesialis Onkologi tersebut.
"Selamat sore nyonya Maureen." Sapa dokter pria yang tersenyum ramah pada Maureen saat masuk.
"Sore dokter," Maureen balas tersenyum.
"Dokter Rafeal merekomendasikan pemerikasaan untuk putra anda." Ucap dokter pria yang memiliki nama tag Dokter Dean.
"Em, sejujurnya saya tidak tahu apa-apa dok, tapi saya juga ingin memastikan putra saya baik-baik saja." Maureen tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
Dokter Dean tersenyum lalu mengangguk,sambil berjalan menuju ranjang pasien.
"Kita periksa bayi anda, untuk memastikan." Dengan perasaan gelisah Maureen menaruh bayinya di atas ranjang pasien, melihat begini saja hati Maureen seperti di sayat sembilu.
Dokter Dean melakukan tugasnya dengan teliti, memeriksa bayi yang terlentang dengan mata terpejam, dalam sepersekian detik wajah dokter Dean memiliki kerutan. Di ambilnya sebuah alat untuk mengambil darah yang digunakan untuk sempel, dokter Dean melakukannya dengan sangat hati-hati agar bayi yang tertidur tidak terganggu.
"Untuk memastikan kita tunggu hasil lab darah yang akan keluar nanti." Dokter Dean memberikan sempel darah pada perawatan untuk segera dilakukan pengecekan.
Maureen semakin terlihat cemas, wajahnya tampak kahawatir.
Hampir satu jam menunggu, kini di ruangan dokter Dean, tidak hanya ada Maureen, dokter Rafael juga menunggu hasil pemeriksaan bayi Maureen.
"Bagaimana?" tanya dokter Rafael setelah melihat dokter Dean selesai melihat hasilnya.
Dokter Dean menatap dokter Rafael sahabatnya dengan tatapan penuh arti, membuat dokter Rafael menelan ludah susah.
"Kamu baca sendiri." Dokter Dean memberikan kertasnya pada sahabatnya itu.
"Bagaimana dok?" tanya Maureen yang sejak tadi menunggu dengan gelisah dan cemas.
Jantungnya tak berhenti berdebar kencang apalagi melihat wajah dua dokter yang seperti menggambarkan kecemasan.
"Dokter Rafeal?"
Tubuh Maureen semakin gemetar, kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Bayimu-"
*
*
Bayimu???
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Yuni Alif
ceritanya bagus ,,, padahl menceritakan sedikit sex bebas ,,knapa gk pke kata sedikit keren untuk mnggil ke ibunya ,,dgn mamah atau mom
biar lbh enak di dengar ny
2025-01-06
1
Alanunyu Alan
/Sob/
2024-02-06
1
Ma Selly
sakit apa ya kira" anaknya maurrin
2023-12-25
0