Suara kicauan burung terdengar dari luar rumah, sinar matahari samar samar masuk melalui celah celah gorden sebuah kamar.
Seorang pria yang masih betah berada diatas tempat tidurnya menggeliat kala cahaya itu menganggu tidurnya.
Perlahan tapi pasti kedua netra hitam itu terbuka, dan pandangan pertama dilihatnya adalah pemandangan luar jendela yang gordennya telah terbuka.
Arzeel mengerjab, seakan dirinya mengingat sesuatu,lantas ia beringsut dan duduk.
"Bukannya semalam aku tidur disofa? lalu kenapa aku bisa di kasur?"ujarnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan bingung.
"Apa aku tidur sambil berjalan?"ucapnya lagi, detik berikutnya pria itu mengedik bahunya lalu beranjak, ia raih handuknya lalu masuk kedalam kamar mandi.
Setelah selesai ia keluar, masuk kedalam ruang ganti, disana ia melihat sepasang baju yang telah disiapkan lengkap dengan dasi, dan jam tangan.
"Apa Gion yang menyiapkan? Tapi ini terlalu pagi!"monolog nya menatap jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 06 pagi.
Tak ingin terlalu memikirkannya Arzeel langsung menggunakan baju yang disiapkan itu,menurutnya warna nya cocok untuknya.
Setelah bersiap siap, Arzeel segera keluar kamar dan turun kewabah, tiba tiba perutnya berbunyi saat hidungnya mencium bau masakan yang lezat.
Mengikuti instingnya Arzeel melangkah menuju ruang makan yang langsung menyatu dengan dapur.
Langkah pria itu terhenti kala ia melihat sosok perempuan dengan rambut yang di cepol asal itu sedang memasak.
Kening nya mengerut, apakah dirinya memperkerjakan seorang pelayan? Kalau di ingat ingat tidak pernah.
Lalu dimana gadis yang berstatus istrinya itu? ah dirinya juga baru ingat dikamar tadi ia juga tidak melihat keberadaan gadis itu.
"Siapa kamu?" dapat Arzeel lihat reaksi wanita itu yang terkejut.
Tak berapa lama wanita itu pun membalikkan badanya dan....
Deg!
Jantung Arzeel seakan lepas dari tempatnya,kala melihat siapa wanita itu, Arzeel mematung tak bisa berkata kata, matanya hanya terkunci pada sosok cantik yang sedang menggunakan apron dengan spatula ditangan nya yang sial nya wanita cantik itu adalah istrinya sendiri.
Tanpa sadar sejenak Arzeel terpesona dengan gadis itu, gadis cantik yang selama ini yang selalu menutupi kepalanya, dan saat ini semakin terlihat cantik dimatanya kala benda yang bernama jilbab itu tidak dikenakan.
"Ma-mas Arzeel!" Armeel terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba tiba itu.
Pria itu berdehem, lalu mendekat kearah meja makan,"Mas mau makan?"tanya Armeel memastikan.
"Kamu pikir aku disini selain makan mau apa!"jawabnya ketus tak urung duduk disalah satu kursi disana, jujur saja perutnya sakit karena dari semalam tidak makan.
Mendengar itu senyum Armeel terbit dengan senang hati gadis itu segera melayani sang suami, ia memasukkan nasi goreng udang yang sudah ia masak kedalam mangkok kaca, begitu juga dengan Ayam goreng, tempe goreng dan kerupuk lalu dibawanya keatas meja makan.
Arzeel memperhatikan gerak gerik sang istri yang bolak balik didepannya dengan senyum diwajahnya.
"Mas nggak alergi udangkan?"tanya Armeel sebelum menyendok nasi goreng tersebut.
Arzeel menggeleng"Aku alergi kacang kacangan!"jawabnya, tatapan nya masih tak lepas dari sosok Armeel.
Mendengar itu, Armeel segera menyingkirkan tempe goreng dan diletakkan disamping wastafel, lalu kembali menyendok nasgor untuk pria itu.
"Cukup segini?"tanya Armeel,Arzeel mengangguk.
Setelah memasukkan sepotong ayam goreng lalu diletaknya didepan pria itu,"Mas mau minum apa? Kopi,teh atau susu?"
"Air putih saja!"jawab Arzeel, gadis itu mengangguk.
Setelah selesai melayani sang suami, Armeel pun ikut sarapan, beberapa menit kemudian Arzeel selesai diikuti Armeel.
Pria itu beranjak ia harus segera pergi kekantor,"Mas!"Panggil Armeel, Arzeel berhenti diambang pintu dengan tangan kanan memegang gagang pintu, ia menoleh.
"Meel izin kerja ya!"ucap gadis itu.
Kedua alis pria itu menyatu,"Bukannya kamu masih cuti?"tanya nya.
"Iya, tinggal sehari lagi, lagian Meel bosan dirumah sendirian, boleh ya Mas!"ucapnya.
Pria itu diam, mebuat Armeel harap harap cemas,"Iya!"jawab Arzeel membuat senyum gadis itu kembali lagi.
"Makasih Mas!"ujar Armeel tulus, Arzeel tak menanggapinya,Ia merogoh saku celananya, lalu diambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan disodorkan pada gadis itu.
Armeel menatap benda itu bergantian,"Untuk kebutuhan sehari hari dan keperluanmu!"jawab Arzeel yang paham dengan tatapan bingung sang istri.
Senyum gadis itu kembali merekah dan dengan senang hati ia mengambil benda itu,walaupun dirinya tidak disentuh, setidaknya Arzeel masih mau memberinya nafkah lahir.
Meski dirinya masih mampu menafkahi dirinya sendiri, tapi tetap saja itu tanggung jawab suaminya.
Detik berikutnya Arzeel membuka pintu rumah mereka dan keluar, sedangkan Armeel hanya bisa menatap saja ia tidak bisa mengantar suaminya hingga luar karena sedang tidak menggunakan jilbab.
Melihat suaminya yang sudah keluar Armeel segera menuju dapur, ia mencuci piring bekas makan dan memasak tadi,setelah selesai langsung menuju kamar dan merapikan kasurnya yang berantakan kemudian masuk kamar mandi.
...••••••...
Untuk kesekian kalinya Arzeel menghela nafasnya saat bayangan Armeel yang sedang memasak itu terlintas diotaknya begitu saja.
"Haaiisss kenapa aku malah memikirkannya?"gerutunya, bisa bisanya ia memikirkan istrinya itu.
Saking tak fokusnya, pria itu terpaksa memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, dengan kasar ia keluar dari mobil.
"Sialan!" umpatnya kesal.
Ditariknya nafas dalam dalam dibuangnya dengan perlahan, lalu masuk lagi kedalam mobil, disandarkan punggungnya kebelakang.
pria itu merogoh saku celananya dan diambilnya dompet dibukanya dan disana terdapat selembar foto seorang wanita cantik yang sedang memegang bungga.
Foto itu dirinya ambil saat keduanya sedang di toko bungga.
melihat sosok itu membuat Arzeel kembali tenang lagi, dirasa sudah cukup pria itu kembali melajukan mobilnya.
...••••••...
"Selamat pagi Dokter Armeel!"sapa beberapa perawat dan dokter lainnya ketika berpas pasan dengan nya.
"Pagi!"balas Armeel ramah.
"Mbak Meel!" gadis menggunakan hijab putih dengan jas putih dokter nya itu menoleh kesamping saat namanya disebut.
"Keyla jangan lari lari ini rumah sakit loh!"tegur nya pada gadis itu, Keyla menyengir ia terlalu bersemangat.
"Ada apa? Kenapa kamu telihat semangat begitu?"tanya Armeel, keduanya berjalan dengan santai menuju ruangannya.
"Mbak tahu,hari ini ada para Dokter pindahan dari Korea, mereka ganteng bangeet!!!" seru Keyla dengan mata berbinar binar.
Armeel terkekeh dengan keantusias gadis yang lebih muda darinya ini,ia sudah menganggap Keyla sebagai adiknya, dari saat pertama kali gadis itu magang di Rs ini, Keyla langsung akbrab dengannya yang kala itu menjadi pembimbingnya hingga sekarang sudah bekerja tetap gadis itu masih mengikutinya.
"Benarkah? aku jadi penasaran,setampan apa sih, lebih tampan dari suami Mbak nggak?"godanya menatap gadis itu.
"Kalau suami Mbak sih nggak perlu diragukan lagi, udah paket komplit, kalau ada duplikatnya aku juga mau satu!"ujar gadis itu cengengesan.
Armeel terkekeh,"Kalaupun ada duplikatnya nggak bakal Mbak kasih,mau ku borong semua!"ucap Armeel.
Keyla cemberut,"Iss nggak seru Mbak pelit!"ucap gadis itu membuat Armeel tertawa pelan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
✓ Ayra
...B E R S A M B U N G...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments