Beberapa minggu telah berlalu, begitu juga dengan pernikahan Armeel, namun rumah tangga nya itu masih belum ada perubahan.
Suaminya masih terkesan cuek dan dingin pada Armeel, namun ada kalanya juga pria itu terlihat perhatian dan khawatir.
Armeel sendiri tidak pernah lelah untuk terus mengambil hati sang suami.
Ting!
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel milik Armeel, gadis yang tengah memeriksa data pasien itu menghentikan kegiatannya, di ambilnya benda pipih itu lalu dibukanya.
Helaan nafas terdengar ketika pesan bernada ancaman itu kembali menerornya.
+628236******
Pergi,atau kamu menyesal.
Armeel memijat keningnya yang mulai berdenyut,sudah beberapa hari ini pesan itu terus menerornya, tapi ia tidak tahu siapa pengirimnya karena orang yang selalu mengiriminya pesan itu berganti ganti nomor.
Takut?
Tentu saja, Armeel ketakutan, seumur umur ia belum pernah mendapatkan teror seperti ini, seingatnya pun ia tidak memiliki musuh atau semacamnya.
Ada kalanya ingin memberitahu pada sang sumai tapi tidak berani, ia takut membuat pria itu terbebani olehnya mengingat sudah sampai saat ini hubungan mereka masih sama saja.
Mencoba mengabaikan, Armeel kembali melanjutkan pekerjaannya, hingga suara azan berkumandang.
Diliriknya jam yang sudah menunjukkan siang hari.
Bergegaslah ia beranjak dari duduknya, menuju loker lalu mengeluarkan seperangkat alat solat dan sandal jepit dari sana kemudian ia langsung keluar dari ruangannya untuk melaksanakan kewajibannya.
Saat sedang berjalan menuju masjid rumah sakit Armeel hanya fokus kedepan, sedangkan dari arah depannya terlihat seseroang yang menggunakan baju serba hitam berjalan bersamaan dengan pengunjung anggota rumah sakit lainnya, Armeel tidak peduli karena ia pikir orang itu juga salah satu pengunjung rumah sakit hingga saat berpaspasan dengannya tiba tiba....
Sreeettt!!!
Aaahhkkkk, suara teriakan orang orang terdengar saat sebuah benda tajam mengenai tangan seseorang.
"Astaga ada aksi pembunuhan disiang hari!" seru beberapa orang.
"Itu itu yang disana yang pakek baju hitam itu pelakunya aku melihatnya mengeluarkan pisau!"ujar pengunjung lainnya.
Beberapa orang langsung mengejar orang itu dibantu beberap satpam, keadaan menjadi ricuh karena kejadian barusan.
Armeel yang masih syok dengan kejadian didepan matanya itu terduduk lemah diatas lantai, meski sudah menjadi makanan sehari harinya melihat darah atau semacamnya tapi ini berbeda, ini jelas jelas aksi pembunuhan.
"Ar-"
"Arm-"
"Armeel sadarlah!"
Gadis itu tersentak, ia menatap linglung beberapa orang yang tengah mengerumuni dirinya.
Lalu tatapannya jatuh pada lengan Kenan yang berdarah,"Kak Kenan tangan kakak!"ucapnya gemetaran.
"Kamu nggak papa?"bukannya menjawab Kenan malah menanyakan balik keadaan gadis itu.
"A aku baik baik aja, tangan kakak yang ngak baik baik aja!"ucap Armeel.
"MBAK ARMEEL!" dari jauh Keyla berlari kearahnya, gadis itu langsung kesana saat mendengar kabar ada aksi pembunuhan di rumah sakit dan targetnya Armeel tapi malah diselamatkan Kenan.
"Mbak, mbak baik baik aja kan?"tanyanya panik sambil melihat keseluruh tubuh Armeel.
"Mbak baik baik aja, tapi Dokter kenan dia!" ucap Armeel melihat ke pria itu.
Keyla melotot,"Astaga Dok tangan Dokter berdarah!"serunya panik.
"Saya nggak papa!"jawab Kenan seraya menakan lengannya dengan tangan agar mengehentikan pendarahan.
tanpa pikir panjang Keyla merobek rok panjang yang ia kenakan, lalu segera membalut lengan Kenan untuk menghentikan pendarah.
Kenan terkejut dengan aksi gadis itu dan menatap wajah Keyla yang panik , tak berapa lama beberapa perawat datang dan segera membawa Kenan untuk dirawat.
...••••...
Armeel duduk dikursi taman rumah sakit bersama dengan Keyla,gadis itu sudah mengganti roknya menjadi celana bahan.
"Mbak baik baik aja?"tanya gadis itu menatap perempuan disampingnya yang terlihat bengong.
Armeel menoleh dan tersenyum tipis,"Mbak baik kok Key!"jawab Armeel.
"Mbak yakin? wajah Mbak pucat loh!"tanya Keyla.
Armeel mengangguk,"Mbak tunggu disini ya Aku kekantin buat beli air!"ucap Keyla dan diangguki oleh Armeel.
Setelah kepergian Keyla, Armeel menghela nafasnya, ia menatap orang orang yang ada ditaman.
Ting!
Armeel membuka ponselnya dan lagi lagi pesan itu masuk.
+628230837****
Ternyata ada pahlawan kesiangan, kali ini kamu selamat
Tiba tiba tangannya bergetar dan tanpa sadar air mata yang sedari tadi ia tahan pun jatuh juga, siapa yang sudah tega berbuat begitu padanya.
...•••••...
Di lain tempat, Arzeel keluar dari kantornya seorang diri, sedangkan Gion, pria itu terlihat lebih sibuk dari sebelumnya sejak Manda dipecat, dan Tuannya tidak mencari pengganti wanita itu melainkan dirinyalah yang akan malah menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi Tuannya.
"Astaga, kalau begini kapan aku bisa cari istri,gini amat jadi bawahan!"gumam pria itu dengan lesu.
Kembali ke Arzeel,pria itu segera memasuki lif dan menuju basement dimana mobilnya berada.
Rasanya ia ingin cepat cepat pulang dan beristirahat, entahlah perasaannya mengatakan jika ia harus segera kembali kerumah.
Ting!
Pintu lif terbuka, pria itu segera menuju mobilnya dan masuk kedalam tak berapa lama iapun segera pergi dari sana.
Beberapa menit kemudian Arzeel tiba dirumahnya, keningnya mengerut saat melihat mobil istrinya sudah terparkit di garasi.
Pria itu menatap jam dipergelangan tangannya, masih pukul 3 sore,"Kenapa dia pulang lebih awal?"tanyanya heran, biasanya Armeel akan selalu pulang di jam jam 5-6 sore.
Melupakan itu Arzeel segera menuju rumah nya ia membuka pintu rumah setelah menekan pin tentu saja.
Sepi!
Pria itu menuju dapur untuk minum, diatas meja makan kosong, apa gadis itu tidak memasak?
Setelah melepas dahaga,Arzeel segara menaiki anak tangga menuju kamarnya, dan saat pintu kamarnya terbuka, kedua mata Arzeel terbuka lebar saat melihat sang istri tergeletak tak sadarkan diri di samping ranjang mereka.
"ARMEEL!"
...••••...
Malam Hari
"Gimana keadaan Armeel nak?"tanya wanita paru baya yang menggunakan jilbab syar'i itu, dia adalah Bunda Diana.
Wanita itu duduk diranjang dekat dengan kepala putrinya yang tertutup jilbab itu, tanganya tak henti henti mengelus kepala sang anak.
Tadi saat diberitahu jika Armeel jatuh pingsan Bunda Diana dan Ayah Gamma segara kerumah menantunya itu.
"Kata Dokter, Armeel hanya kelelahan Bunda, sebentar lagi Armeel akan sadar!"jawab Arzeel.
"Diana jangan terlalu khawatir, Armeel pasti baik baik saja!"ucap Mommy Sindi menenangkan besannya itu.
"Permisi!"
Mereka yang ada disana menoleh dan melihat seorang gadis berdiri didepan pintu kamar itu,"Boleh saya mengatakan sesuatu?"Tanya Keyla ragu ragu.
Sebenarnya ia sedikit takut saat melihat tatapan suami Armeel itu, tapi dia harus mengatakan sesuatu pada keluarga itu.
"Kamu temannya Armeel kan?"tanya Mommy Sindi dan diangguki Keyla.
"Mau mengatakan apa nak?"tanya Bunda Diana.
Sebelum itu Keyla menarik nafas dalam dalam lalu ia pun bercerita tentang kejadian tadi siang yang menimpa Armeel tanpa tertinggal sedikitpun, ia juga mengatakan tetang pesan yang tak sengaja ia lihat di ponsel Armeel.
"APA!!!"
...•••••...
Plaaakk!! Plaaak!! Plaaak!!
Tiga tamparan mendarat masing masing diwajah tiga orang pria itu.
"DASAR SAMPAH, MEMBUNUH WANITA LEMAH SAJA KALIAN TIDAK BECUS,DAN BAHKAN SALAH SATU DARI KALIAN MALAH TERTANGKAP???" teriak Manda pada tiga pria itu.
"Maafkan kami Nona, sebenarnya tadi kami hampir berhasil hanya saja ada seseorang yang menolongnya!"ujar salah satu dari mereka.
"DIAM!!! Aku tidak butuh laporan sampahmu itu!" sentak Manda, mata wanita itu memerah karena amarah, sudah dua kali ia gagal membunuh gadis itu.
Tatapan Manda beralih pada seorang gadis diatas ranjang, ia mendekat dan dengan kasar menarik rambutnya.
"Hari ini aku gagal membunuhnya, tapi tidak dengan lain kali,akan aku pastikan Arzeel akan menjadi milikku, kau dengar itu??" ucapnya lalu menghempas kepala gadis yang tak berdaya itu.
Gadis malang yang hampir setiap hari diberikan obat lumpuh itu hanya bisa menatap dan menangis tanpa bisa berbicara.
...•...
...•...
...•...
...•...
...B E R S A M B U N G...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Nurminah
Ayra
2023-09-04
1