TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf

Saat dalam perjalanan pulang Isa tetap diam, dan hanya sesekali menyahuti Daren yang bertanya padanya hingga Daren tertidur di pangkuannya, dan suasana menjadi semakin hening.

Tiba di rumah, Willy segera meraih Daren dan membawanya masuk untuk dia tidurkan di kamarnya. Willy masih berusaha terlihat biasa saja meski sebenarnya jantungnya masih berdebar cepat apalagi saat membawa Daren dari pangkuan Isa dan mencondongkan tubuhnya, aroma Gula- Gula kapas yang masih menguar, membuatnya menelan ludah.

Bagaimana bisa aroma Gula Kapas itu terus ada, apa yang penjual itu masukkan hingga wanginya menjadi tahan lama.

Setelah memastikan Daren tidur dengan aman di ranjangnya, Willy pergi ke kamarnya dan melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya lalu memasuki kamar mandi.

Isa memejamkan matanya saat kembali mengingat Willy yang sengaja memalingkan wajahnya agar Isa mencium bibirnya, pria brengsek, kurang ajar. Tidak tahukah jika itu adalah ciuman pertamanya, bagaimana bisa Willy merenggutnya begitu saja.

Isa merasa ternoda, dan bagaimana bisa Willy tampak biasa saja seperti itu.

Isa hampir saja memasuki kamarnya saat melihat pelayan sedang membersihkan sebuah lukisan menggunakan kemoceng di tangannya.

Dengan cepat Isa meraih kemoceng tersebut dan berjalan cepat ke arah berlawanan dengan kamarnya.

Si pelayan yang terkejut pun hanya bisa ternganga melihat Isa membawa kemocengnya "Nona.." Isa menghiraukan, dan melangkah semakin cepat menuju kamar Willy.

Pria itu akan Isa beri pelajaran, lihat saja.

Begitu tiba di depan kamar Willy, Isa terhenti untuk berpikir, haruskah dia mengetuk?.

Tidak, harusnya dia berteriak dan memaki Willy saja. Tapi, bagaimana jika Daren terbangun karena teriakannya.

Isa menggeleng. Tidak, tidak perlu mengetuk bahkan berteriak. Isa akan langsung masuk lalu menghajar Willy, biar pria itu tahu rasa.

Isa membuka pintu dengan kasar, namun sebelum pintu membuat suara debuman, Isa menahan tangannya agar tidak menghempaskan pintu terlalu kencang, di ingatannya masih pada Daren yang tertidur, tepat di sebelah kamar Willy.

Bagus sekali pintunya tidak terkunci hingga Isa bisa masuk dengan leluasa.

Begitu masuk Isa melihat punggung Willy berdiri di depannya, tiba- tiba rasa marah kembali merasuki dirinya dan siap untuk meledak.

Isa berjalan cepat dengan mengangkat kemocengnya tinggi lalu..

Bugh..

Bugh..

Bugh..

Tiga pukulan Isa layangkan di bagian pundak Willy, hingga Willy berjengit terkejut "Hey!, apa yang... Ah, sial!" Willy tak sempat mengelak saat Isa memukulnya bertubi- tubi.

Tidak terlalu sakit sebenarnya tapi bulu- bulu di kemoceng itu mengganggunya.

"Hey!!!"

"Brengsek, pria mesum tak tahu diri. Kau sengaja bukan melakukan itu..!!!" Isa menggila dan terus memukul Willy hingga bulu- bulu di kemoceng rontok dan berhamburan.

Semakin lama pukulan Isa semakin kencang dan menyisakan perih di wajah Willy, Willy masih belum bisa mengelak dan hanya melindungi wajahnya dengan tangannya "Apa yang kau lakukan, Heh!."

"Rasakan ini, tuan mesum, Keterlaluan kau merenggut ciuman pertamaku!" Willy yang terus mundur tak bisa lagi menahan dirinya saat Isa terus menyerangnya, hingga tubuhnya terhunyung ke belakan, dan dengan refleks menarik Isa hingga keduanya terjatuh..

"Aaa.." Isa berjengit saat dia terjatuh di atas tubuh Willy.

Karena terkejut Isa menghentikan pukulannya dan Willy menghela nafasnya lega "Kau sudah selesai."

"Setidaknya biarkan aku berpakaian dahulu sebelum kau menghajarku."

Isa mengerjapkan matanya, lalu tatapannya jatuh pada tubuh Willy, yang hanya terbalut handuk kimono, yang kini sudah terbuka bagian dadanya hingga Isa bisa melihat dada bidang berbulu..

"Aa..." Isa akan menjerit namun dengan cepat Willy membungkam mulutnya.

"Kau bisa membangunkan Daren."

Willy terkekeh melihat mata Isa terus berkedip dengan mulut tertutup tangannya.

Isa menepis tangan Willy dan berusaha untuk bangun, namun sekuat apapun dia berusaha Isa tak bisa bangun, sebab tangan Willy kini memeluk pinggangnya erat "Apa yang kau lakukan, brengsek. Lepaskan aku!"

Willy menyeringai "Sungguh itu ciuman pertamamu?" Isa menegang, gerakannya meronta terhenti. "Aku merasa terhormat, tapi Nona.. apakah sungguh itu sebuah ciuman?."

"Apa?" wajah Isa memerah..

"Itu hanya sebuah kecupan, aku bahkan tak merasakan apapun saat bibirmu bersentuhan dengan bibirku." jelas Willy berbohong, karena sekarang pun tatapan matanya tak lepas dari bibir merah muda milik Isa, Willy masih penasaran dengan rasanya.

Mata Isa membelalak menatap pria kurang ajar di bawahnya. "Kau.." katanya dengan gigi gemelutuk "Harusnya kau minta maaf padaku."

"Untuk apa?, aku bahkan tak meminta kau melakukan itu."

Isa meronta dan memaki Willy, namun tangan pria itu masih bertaut di pinggangnya dan Isa bisa merasakan pria itu sedikit meremasnya "Sialan!"

"Aku akan meminta maaf.." katanya masih dengan raut wajah yang tenang "Tapi jika aku sungguh telah melakukanya."

"Ap.." ucapan Isa tertelan saat Willy mendaratkan bibirnya di bibir Isa, menciumnya lembut.

Isa tertegun, dengan tubuh yang mendadak kaku bibirnya masih merapat dan tak memberikan balasan, hingga terasa sedikit gigitan dan membuat Isa meringis, dan merasakan sebuah benda lunak menelusup menelusuri seluruh isi mulutnya.

Tubuh Isa terasa lemas dan mendadak tak berdaya hingga Willy terasa semakin melesak dan menghi sap dalam bibirnya.

Willy menggila, dia terus menyesap dan mel umat bibit Isa yang terasa manis.

Ini pasti efek Gula kapas yang tadi di makan Isa, pikirnya.

Dalam sekejap Willy merasa candu, tangannya yang melingkar di pinggang Isa naik ke atas hingga menekan tengkuk Isa agar memperdalam ciuman mereka. Willy terlena, namun sesaat kemudian kesadaran menariknya hingga Willy melepaskan bibir mungil Isa.

Nafas keduanya terengah, dan tatapan mereka beradu, ada sorot lain disana. tapi , keduanya tidak mengerti.

Apa yang baru saja terjadi, Isa membatin dan tubuh yang mendadak kaku.

"Itu baru sebuah ciuman." Willy mengusap bibir Isa dengan jarinya, "Haruskah aku minta maaf saat kau juga menikmatinya.." perkataan Willy membuat Isa tersadar dan segera bangun sebab saat ini tangan Willy sudah tidak menahannya lagi.

Raut wajah Isa memerah, entah karena marah atau malu. "Pria mesum, bre..ngsek!" katanya dengan terbata. Jantungnya masih berdebar- debar, dengan pikiran linglung Isa pergi dari kamar Willy dengan cepat, ia bahkan tak berani menoleh saat Willy tertawa di belakangnya.

Willy masih tertawa saat pintu kamarnya terbanting, kali ini Isa tak peduli meski membangunkan Daren.

Willy mengusap bibirnya dengan sisa tawa yang masih menguar dari bibirnya.

Rasanya sudah lama dia tidak tertawa seperti sekarang, sejak Joana meninggalkannya tawanya menghilang seolah ikut mati bersama sang istri. Tapi, hari ini tawa itu kembali hanya karena melihat wajah merah Isa, entah karena marah atau malu, tapi Willy merasa itu terlihat menggemaskan.

"Bibir yang manis," katanya masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

....

Terpopuler

Comments

Ima Kristina

Ima Kristina

akhirnya ciuman pertama Isa terenggut juga /Facepalm//Facepalm/

2025-03-03

0

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

ati2 isa yg kau hadapi duda kebelet kawin😭

2024-02-27

2

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

pakai kemoceng??? tongkat golf donk🤗

2024-02-27

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 TW 1: Isabella Alfaro
3 TW 2: Belum Di Mulai
4 TW 3: Permulaan
5 TW 4: Pendaftaran
6 TW 5: Izin
7 TW 6: Bermain Trik
8 TW 7: TIDAK!!!
9 TW 8: Mengikuti Keinginanku
10 TW 8: Pura- Pura
11 TW 10: Menjadi Pengasuh
12 TW 11: Bercerita
13 TW 12: Menguji
14 TW 13: Berdebat
15 TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16 TW 15: Yang Sebenarnya
17 TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18 TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19 TW 18: Merenggut
20 TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21 TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22 TW 21: Ciuman Selamat Datang
23 TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24 TW 23: Aku Percayakan Padamu
25 TW 24: Aku Tidak Cemburu
26 TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27 TW 26: Masih Mau Menampik?
28 TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29 TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30 TW 29: Guru Daren
31 TW 30: Clara Tahu
32 TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33 TW 32: Tidur Bersamaku
34 TW 33: Perasaan Willy
35 TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36 TW 35: Menangis Seharian
37 TW 36 : Siapa Clara?
38 TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39 TW 38: Tembakan
40 TW 39: Pengorbanan Isa
41 TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42 TW 41: Sakit Hati
43 TW 42: Pulang
44 TW 43: Aku Merindukannya
45 TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46 TW 45: Kedatangan Willy
47 TW 46 :Kau Cantik
48 TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49 TW 48: Pertemuan Kembali
50 TW 49: Maafkan Aku
51 TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52 TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53 TW 52: Marahlah!
54 TW 53: Kencan Buta
55 TW 54: Tidak Berdaya
56 Epilog
57 EkPart 1
58 ExPart 2
59 Mampir Yuk!
60 Bukan Sekedar Secretary
61 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Prolog
2
TW 1: Isabella Alfaro
3
TW 2: Belum Di Mulai
4
TW 3: Permulaan
5
TW 4: Pendaftaran
6
TW 5: Izin
7
TW 6: Bermain Trik
8
TW 7: TIDAK!!!
9
TW 8: Mengikuti Keinginanku
10
TW 8: Pura- Pura
11
TW 10: Menjadi Pengasuh
12
TW 11: Bercerita
13
TW 12: Menguji
14
TW 13: Berdebat
15
TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16
TW 15: Yang Sebenarnya
17
TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18
TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19
TW 18: Merenggut
20
TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21
TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22
TW 21: Ciuman Selamat Datang
23
TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24
TW 23: Aku Percayakan Padamu
25
TW 24: Aku Tidak Cemburu
26
TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27
TW 26: Masih Mau Menampik?
28
TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29
TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30
TW 29: Guru Daren
31
TW 30: Clara Tahu
32
TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33
TW 32: Tidur Bersamaku
34
TW 33: Perasaan Willy
35
TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36
TW 35: Menangis Seharian
37
TW 36 : Siapa Clara?
38
TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39
TW 38: Tembakan
40
TW 39: Pengorbanan Isa
41
TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42
TW 41: Sakit Hati
43
TW 42: Pulang
44
TW 43: Aku Merindukannya
45
TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46
TW 45: Kedatangan Willy
47
TW 46 :Kau Cantik
48
TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49
TW 48: Pertemuan Kembali
50
TW 49: Maafkan Aku
51
TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52
TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53
TW 52: Marahlah!
54
TW 53: Kencan Buta
55
TW 54: Tidak Berdaya
56
Epilog
57
EkPart 1
58
ExPart 2
59
Mampir Yuk!
60
Bukan Sekedar Secretary
61
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!