TW 12: Menguji

"Mom dan Dad, kalian sedang berkencan?" mendengar suara Daren, Isa menggeliatkan tubuhnya agar terlepas. Namun, Willy justru mengeratkan pelukannya di pinggang Isa.

Menarik dan menegakan posisi Isa agar berdiri sejajar dengannya "Ya dan kau mengganggu kami Boy.." kata Willy dengan ringan, Tangan Willy masih bertaut di pinggang Isa dan membuat jantung Isa berdebar kencang, apa katanya, kencan?. Yang benar saja.

"Hmm, aku pikir mom pergi

"Bukankan..aku sudah berjanji.. akan tinggal disini." Isa berkata dengan gugup sambil terus berusaha melepaskan diri. Daren mengangguk.

"Ini masih malam, tidurlah kembali."

"Bolehkah aku tidur denganmu, Mom?." Daren mengerjapkan matanya dengan lucu, bagaimana mungkin Isa mampu menolak.

"Tentu, ayo.." Isa mendorong tubuh Willy berada di dekapan pria itu sungguh tidak nyaman, aroma tubuh dan tangan Willy yang melingkari pinggangnya seolah menguarkan aura panas yang membuat Isa berdebar kencang, Isa menghampiri Daren, namun Daren justru berbalik ke belakangnya..

"Denganmu juga Dad.." Isa menelan ludahnya kasar saat tatapannya bertemu dengan Willy.

Isa menggeleng memberi isyarat agar Willy menolak, dan biarkan saja Isa yang menemani Daren tidur, namun bukannya menuruti Willy justru berkata "Tentu.."

Isa mendengus, tentu saja bukankah Willy memang tidak suka di atur orang lain.

.

.

.

"Apa yang.. kau lakukan, kenapa melihatku seperti itu!." Isa baru bisa protes saat Daren sudah tertidur.

Sejak tadi sepanjang Isa membacakan buku cerita Daren, Willy terus menatapnya, dan yang membuat Isa tidak nyaman adalah Willy menatapnya dengan datar dan tajam.

Willy mengedikkan bahu acuh "Aku hanya mengawasimu." Isa mengerutkan keningnya.

"Apa kau sungguh tidak percaya padaku." Isa mengeram marah.

"Tidak ada yang tahu hati seseorang."

"Jika tidak percaya, kenapa harus aku yang ada di sini sekarang."

"Karena Daren menginginkanmu." Isa mendengus.

"Dengar tuan sombong, meski aku punya niat jahat aku tidak mungkin melakukannya di depan mu."

"Apa itu berarti kau memang berniat jahat.."

Isa mengacak rambutnya frustasi "Itu hanya perumpamaan tuan.."

"Baiklah, jika kau tidak percaya hentikan saja ini." Isa menyibak selimutnya, dan bangun dari tempat tidur, Isa tidak terima di curigai.

Willy mengerutkan keningnya melihat Isa mengenakan piyama panjang dan longgar, Willy sudah biasa melihat para wanita yang seksi bahkan mengenakan lingerie sekalipun, tapi kenapa melihat Isa yang tertutup membuatnya penasaran ada apa di balik piyama kebesarannya itu.

Willy menggeleng, tadi saat ia naik ke tempat tidur, Isa dan Daren sudah berada di sana dan menutup tubuh mereka dengan selimut, dan sekarang saat melihatnya dia sedikit terpaku, ada apa dengannya?.

Bagus sekali meski dalam hati Willy merasakan perasaan aneh, tapi wajahnya masih saja datar.

"Bukankah justru tidak masuk akal jika aku tidak curiga..?" Willy melipat tangannya di dada. "Bagaimana pun kau adalah orang asing, lalu bagaimana bisa kau tidak memiliki tujuan, ah.. Benar tujuanmu adalah untuk kontrak kerja kita bukan.."

Isa terdiam, benar itu alasan awalnya. Tapi Isa sungguh tidak bermaksud jahat atau bahkan mencelakai Daren.

"Dan itu berarti kau juga tidak tulus. Dengar Nona aku akan selalu mengawasimu." Willy menatap Isa dari atas ke bawah, seolah sedang memindai seluruh tubuh Isa.

Isa mendengus "Bukankah kau membuang waktumu, tidakkah lebih baik kau segera mencari calon Ibu sesungguhnya untuk Daren. Benar aku memang tidak tulus, jadi segeralah carilah yang tulus mencintai Kau dan Daren. Dengan begitu aku juga tak perlu berpura- pura lagi." Isa mendengus lalu pergi dari kamar Daren

Pria sombong menyebalkan, keterlaluan.

Setelah pintu tertutup Willy menarik sudut bibirnya sangat tipis dengan mata yang masih menatap pintu kamar Daren yang tertutup.

Ada yang menarik dari apa yang di lakukan Isa, dia pergi dengan marah tapi dia tidak berniat membanting pintu, seperti takut Daren terbangun dari tidurnya, Isa menutupnya secara perlahan, padahal jika dia mau Isa bisa melampiaskan amarahnya dengan membanting pintu keras.

Namun dari sejak awal perdebatan mereka Isa seolah mengontrol suaranya agar tidak terlalu keras hingga akan mengusik Daren yang tertidur di sebelah mereka.

Willy melihat ke arah Daren lalu mengusap kepala kecil putranya itu "Sepertinya pilihanmu memang bagus.." meski begitu Willy harus terus melihat sampai dimana Isa bertahan.

...

"Selamat pagi.." Isa melongokkan wajahnya di pintu kamar Daren.

"Pagi Mom.." Daren tengah mengenakan seragamnya, di sebelahnya ada pelayan yang bersedia dengan pakaian Daren di tangannya.

Pelayan mengangguk pada Isa dan di balas dengan senyuman oleh Isa. "Sudah siap semua?."

Daren mengangguk.

Isa meraih sisir dari pelayan dan merapikan rambut Daren "Uh.. Tampan sekali." Isa mengecup pipi Daren "Baiklah ayo kita sarapan, lalu berangkat sekolah."

"Bukankah hari ini ada les matematika?" Isa menggandeng Daren menuruni tangga.

"Ya,"

"Bagus, mom akan lihat sepintar apa Daren saat berhitung."

"Aku tidak suka, berhitung membuat pusing." Daren berucap dengan malas.

"Benarkah?."

Daren mengangguk "Aku akan mengantuk."

Isa terkekeh melihat Daren berkata dengan memelas, seolah berkata "Jangan pergi ke tempat les.' "Padahal matematika sangat penting,.. Hmm begini saja jika Daren dapat seratus Mom akan ajak Daren pergi ke taman bermain."

"Sungguh?" Isa mengangguk.

"Yeay.."

"Hanya jika kau dapat nilai seratus, ingat itu."

"Aku akan mendapatkannya," Daren berkata dengan yakin dan penuh semangat.

Daren melompat- lompat dengan gembira, hingga Isa tertawa melihat tingkahnya. Isa dan Daren masih asik mengobrol hal- hal kecil sambil terus melangkah ke ruang makan, saking asiknya mereka tak menyadari di belakang mereka ada Willy yang sejak tadi mendengar percakapan keduanya.

Langkah Willy sangat pelan mengimbangi dari jarak jauh, suara tawa Daren dan Isa terdengar seperti nyanyian di telinga Willy, sudah sejak lama harusnya pagi yang ceria bagi Daren itu ada, Willy menunduk melihat ke arah kakinya yang terus melangkah, Jika saja Joana masih hidup mungkin suasana seperti ini akan ada setiap saat, dan tentu Daren tidak akan kesepian.

Willy melihat Daren sudah duduk di kursi makan sedangkan Isa menyiapkan bekal untuk Daren yang dia masukkan ke dalam kotak makan.

"Kau ingin ini..?"

"Sedikit saja Mom, aku tidak suka sayur.." Isa menggeleng.

"Sayuran baik untukmu, agar tumbuh sehat, da kuat. Kau tahu Popeye..?"

"Siapa itu?"

"Popeye adalah tokoh kartun, yang akan menjadi kuat jika makan sayur, kau tahu tangannya akan membesar jika dia memakan bayam, dan dia bisa menghadapi semua penjahat." Daren mengerjapkan matanya, melihat Isa mengangkat tangannya membentuk binaragawan.

"Benarkah?."

"Ya, dan sayur juga membuat pintar.. Bukankah kau ingin dapat seratus.."

"Baiklah, aku akan makan banyak sayur."

"Bagus sekali, mom akan masukan banyak sayuran disini." Isa tersenyum.

"Pagi Boy.." Willy mengecup dahi Daren, lalu beralih pada Isa.. "Pagi, Mommy." Isa membelalakan matanya saat Willy tiba- tiba saja mengecup dahinya.

"Kau cantik sekali hari ini." tanpa rasa bersalah Willy melewatinya dan duduk di sebelah Daren, bibir Willy menyeringai melihat Isa menatapnya tajam dengan tangan mengepal erat.

Dasar tuan sombong, kurang ajar!, Isa mengumpat dalam hati. Apa yang seperti ini juga ada di dalam kontrak, jika iya Isa ingin mengubah isi kontraknya, enak saja Willy terus bersikap seenaknya.

Jika terus begini dia yang rugi..

....

Terpopuler

Comments

Ima Kristina

Ima Kristina

Willy sok jual mahal dasar arogan

2025-03-03

0

Bzaa

Bzaa

modusnya pinter pas depan anak, jdi gak bs ditolak 😃

2023-11-24

4

Defi

Defi

Daddy Will bisa ae modusnya 😂🤣

2023-09-27

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 TW 1: Isabella Alfaro
3 TW 2: Belum Di Mulai
4 TW 3: Permulaan
5 TW 4: Pendaftaran
6 TW 5: Izin
7 TW 6: Bermain Trik
8 TW 7: TIDAK!!!
9 TW 8: Mengikuti Keinginanku
10 TW 8: Pura- Pura
11 TW 10: Menjadi Pengasuh
12 TW 11: Bercerita
13 TW 12: Menguji
14 TW 13: Berdebat
15 TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16 TW 15: Yang Sebenarnya
17 TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18 TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19 TW 18: Merenggut
20 TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21 TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22 TW 21: Ciuman Selamat Datang
23 TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24 TW 23: Aku Percayakan Padamu
25 TW 24: Aku Tidak Cemburu
26 TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27 TW 26: Masih Mau Menampik?
28 TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29 TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30 TW 29: Guru Daren
31 TW 30: Clara Tahu
32 TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33 TW 32: Tidur Bersamaku
34 TW 33: Perasaan Willy
35 TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36 TW 35: Menangis Seharian
37 TW 36 : Siapa Clara?
38 TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39 TW 38: Tembakan
40 TW 39: Pengorbanan Isa
41 TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42 TW 41: Sakit Hati
43 TW 42: Pulang
44 TW 43: Aku Merindukannya
45 TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46 TW 45: Kedatangan Willy
47 TW 46 :Kau Cantik
48 TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49 TW 48: Pertemuan Kembali
50 TW 49: Maafkan Aku
51 TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52 TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53 TW 52: Marahlah!
54 TW 53: Kencan Buta
55 TW 54: Tidak Berdaya
56 Epilog
57 EkPart 1
58 ExPart 2
59 Mampir Yuk!
60 Bukan Sekedar Secretary
61 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Prolog
2
TW 1: Isabella Alfaro
3
TW 2: Belum Di Mulai
4
TW 3: Permulaan
5
TW 4: Pendaftaran
6
TW 5: Izin
7
TW 6: Bermain Trik
8
TW 7: TIDAK!!!
9
TW 8: Mengikuti Keinginanku
10
TW 8: Pura- Pura
11
TW 10: Menjadi Pengasuh
12
TW 11: Bercerita
13
TW 12: Menguji
14
TW 13: Berdebat
15
TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16
TW 15: Yang Sebenarnya
17
TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18
TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19
TW 18: Merenggut
20
TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21
TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22
TW 21: Ciuman Selamat Datang
23
TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24
TW 23: Aku Percayakan Padamu
25
TW 24: Aku Tidak Cemburu
26
TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27
TW 26: Masih Mau Menampik?
28
TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29
TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30
TW 29: Guru Daren
31
TW 30: Clara Tahu
32
TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33
TW 32: Tidur Bersamaku
34
TW 33: Perasaan Willy
35
TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36
TW 35: Menangis Seharian
37
TW 36 : Siapa Clara?
38
TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39
TW 38: Tembakan
40
TW 39: Pengorbanan Isa
41
TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42
TW 41: Sakit Hati
43
TW 42: Pulang
44
TW 43: Aku Merindukannya
45
TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46
TW 45: Kedatangan Willy
47
TW 46 :Kau Cantik
48
TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49
TW 48: Pertemuan Kembali
50
TW 49: Maafkan Aku
51
TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52
TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53
TW 52: Marahlah!
54
TW 53: Kencan Buta
55
TW 54: Tidak Berdaya
56
Epilog
57
EkPart 1
58
ExPart 2
59
Mampir Yuk!
60
Bukan Sekedar Secretary
61
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!