TW 2: Belum Di Mulai

Sangat sulit bertemu tuan Willy, beberapa bulan lalu Isa dengan susah payah menemuinya, namun tuan Willy menolak mentah- mentah proposalnya, entah bagaimana pria itu nampak arogan dan menyebalkan dan begitu irit bicara, bicara tentang tuan Willy, Isa jadi teringat Alan, pria itu juga irit bicara, namun jika dengan orang terdekatnya Alan sangat hangat, beruntung Isa menjadi salah satunya yang Alan perhatikan meski tak seperhatian pada Amanda.

Alan kerap berlaku posesif dan memperlakukan Amanda seperti miliknya yang tak boleh di sentuh orang lain.

Isa menggeleng saat lagi- lagi ia mengingat Alan dan Amanda.

"Sudahlah, Isa. Lupakan semuanya mereka sudah bahagia, dan sudah seharusnya aku juga bahagia." Isa menghela nafasnya lalu menatap langit Italia yang tengah cerah.

Isa merogoh tasnya dan membuka satu bungkus permen dan memasukannya ke dalam mulut "Manisnya.." Isa melangkah riang menyusuri jalanan Italia dengan kamera di tangannya, memotret beberapa spot yang bagus bahkan sesekali berselfi untuk dia posting di akun media sosialnya.

Seharian ini akan dia habiskan untuk menyenangkan diri, jalan- jalan, belanja dan kulineran.

...

"Jadi apa yang harus aku lakukan bukankah kau ingin seorang ibu?" Willy menatap Daren yang sedang asik menyantap eskrimnya.. cuaca cerah hari ini membuat Daren ingin eskrim, dan mau tak mau Willy meninggalkan pekerjaannya demi menemani Daren memakan eskrim.

"Sudah kubilang sekarang giliranku, maka aku akan mendapatkan yang spesial untukmu.." Willy menaikkan alisnya, jangankan Daren, Willy sendiri susah payah mencari ibu untuk Daren, setelah Luciana, semalam dia menemui putri menteri seperti yang di katakan Piter. Namun perkataan Piter tentang putri menteri itu tidak benar, haruskah dia meminta Astra untuk mencari tahu dulu seluk beluk siapa wanita yang akan dia temui.

Jelas informasi dari Astra lebih akurat di banding asistennya yang bodoh itu.

Keibuan katanya..

Dia bahkan terlihat ke kanak- kanakan menurut Willy.

Anggun memang, saking anggunnya saat dia makan pun dia sangat takut kukunya kotor.

Baru satu kali bertemu saja Willy sudah memutuskan ini tidak akan berhasil, jelas Daren tidak akan menyukainya.

"Apa yang kau lakukan membuang waktu Dad.." Daren tahu daddy nya sedang mencari dan menyeleksi semua wanita yang kesukaannya centil dan mendekat padanya, bagaimana bisa daddynya berpikir mereka baik untuknya dan Daren.

"Berhenti bersikap sok dewasa, ini belum waktumu." Willy mengusap bibir Daren yang penuh eskrim. "Bermainlah dengan temanmu, dan habiskan masa kanak- kanakmu dengan bahagia."

Daren mendongak menatap Willy, tentu saja Daren ingin seperti itu, tapi Willy tak tahu jika Daren kerap mendapat perundungan dari teman- temannya karena tak memiliki Ibu.

Willy sendiri tak tahu karena merasa sudah menempatkan penjagaan untuk Daren lewat dua bodyguardnya, namun kedua orang itu tak tahu apa yang terjadi di dalam kelas sebelum para guru masuk atau saat Daren di dalam toilet sekolah.

Willy tak tahu karena itu dia selalu malas untuk pergi ke sekolah.

Bocah lima tahun itu mencebik dan mengalihkan tatapannya.

Willy menghela nafasnya dia bersyukur di beri anak yang pintar namun jika Daren bersikap dewasa sebelum waktunya Willy jadi kerepotan sendiri, seperti sekarang.

Daren masih mengalihkan tatapannya dari Willy, bahkan dia berhenti memakan eskrimnya.

Menurunkan kaki kecilnya dan menatap keluar jendela, mata Daren berbinar saat melihat seorang gadis berjalan sambil mengarahkan kameranya, Daren tersenyum saat si gadis melambaikan tangan ke arahnya, tentu saja jendela itu terlihat dengan jelas hingga dia bisa melihat Daren. "Dad aku ingin itu.." Daren menoleh ke arah Willy dengan telunjuk tangan mengarah ke luar jendela.

Willy mengeryit dan melihat ke arah luar jendela, "Apa?"

"Itu.." Daren berhenti bicara saat apa yang dilihatnya sudah tidak ada. "Dia sudah tidak ada.." Daren menunduk sedih.

Willy semakin mengerutkan keningnya menatap bingung "Tidak menghabiskan eskrimmu?" Daren menggeleng dia sudah tidak berselera.

Willy menghela nafasnya "Baiklah kita bisa pulang, Dad banyak pekerjaan." Daren mengangguk dan melangkahkan kaki mungilnya keluar kedai.

...

Isa benar- benar pergi jalan-jalan, menghabiskan waktu untuknya sendiri dan memanjakan dirinya.

Ini bukan pertama kalinya Isa datang ke Italia, jadi dia sudah tahu seluk beluk kota hingga tak memerlukan pemandu, begitupun dengan bahasa.. Sejak kecil Isa bahkan mempelajari beberapa bahasa salah satunya bahasa negara ini, jadi dia sudah fasih berbahasa Italia.

Isa mendudukkan dirinya di kursi taman sambil menikmati pemandangan, di sekitarnya banyak anak- anak yang tengah bermain bola, beberapa dari mereka juga ada yang menggelar tikar dan menikmati bekal yang mereka bawa dirumah.

Isa tersenyum, suatu saat dia juga akan melakukannya dengan anak- anak dan suaminya. Piknik bersama, jalan- jalan, bermain bola.

Isa ingat dia juga ingin punya banyak anak agar hidupnya tidak sepi, seperti dirinya yang menjadi anak tunggal, meski dia tak kesepian secara orang tuanya selalu memperhatikan, tapi jika kita punya saudara setidaknya kita ada teman bermain bahkan bertengkar.

Isa menoleh saat seseorang duduk di sebelahnya, "Sudah ku duga." Desahnya.

"Daddy anda tidak mungkin membiarkan anda berkeliaran sendiri Nona."

Isa menekan pipi pengawalnya, meski pelan namun pipi itu tertoleh ke samping "Baiklah, tapi jangan bertampang kaku, aku tidak suka. Dan ingat apa yang aku katakan?"

"Saya ingat nona.. Ehmm Isa.. Saya akan berlaku seperti teman anda agar orang lain tidak curiga."

Isa mengangguk puas "Lagi pula aku tak mau di bilang anak kecil yang selalu diikuti."

"Baiklah aku akan kembali ke hotel, besok lusa akan di adakan seminar dari tuan Willy aku harus hadir dan memastikan dia setuju dengan proposalku." Isa mengangkat tangannya.

"Baiklah semangat untukmu." Isa terkekeh lalu bangkit dan pergi diikuti Aldo di belakangnya, tahukah kalian Aldo sudah menemani sejak usianya 20 tahun, pria itu keturunan Indonesia yang terkenal dengan keramahannya, namun sudah empat tahun bersama, pria itu tetap kaku dan menjaga jarak meski Isa selalu berkata anggaplah mereka berteman.

"Al, kau sudah makan siang." Isa menghentikan langkahnya agar sejajar dengan Aldo.

"Belum."

"Sudah ku duga.. Bagaimana jika kita makan siang dulu sebelum ke hotel."

"Baik."

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

menarik

2025-03-14

0

Ima Kristina

Ima Kristina

masih nyimak Thorr

2025-03-02

0

Bzaa

Bzaa

semangat tor 💪💪😘

2023-11-24

2

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 TW 1: Isabella Alfaro
3 TW 2: Belum Di Mulai
4 TW 3: Permulaan
5 TW 4: Pendaftaran
6 TW 5: Izin
7 TW 6: Bermain Trik
8 TW 7: TIDAK!!!
9 TW 8: Mengikuti Keinginanku
10 TW 8: Pura- Pura
11 TW 10: Menjadi Pengasuh
12 TW 11: Bercerita
13 TW 12: Menguji
14 TW 13: Berdebat
15 TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16 TW 15: Yang Sebenarnya
17 TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18 TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19 TW 18: Merenggut
20 TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21 TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22 TW 21: Ciuman Selamat Datang
23 TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24 TW 23: Aku Percayakan Padamu
25 TW 24: Aku Tidak Cemburu
26 TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27 TW 26: Masih Mau Menampik?
28 TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29 TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30 TW 29: Guru Daren
31 TW 30: Clara Tahu
32 TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33 TW 32: Tidur Bersamaku
34 TW 33: Perasaan Willy
35 TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36 TW 35: Menangis Seharian
37 TW 36 : Siapa Clara?
38 TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39 TW 38: Tembakan
40 TW 39: Pengorbanan Isa
41 TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42 TW 41: Sakit Hati
43 TW 42: Pulang
44 TW 43: Aku Merindukannya
45 TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46 TW 45: Kedatangan Willy
47 TW 46 :Kau Cantik
48 TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49 TW 48: Pertemuan Kembali
50 TW 49: Maafkan Aku
51 TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52 TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53 TW 52: Marahlah!
54 TW 53: Kencan Buta
55 TW 54: Tidak Berdaya
56 Epilog
57 EkPart 1
58 ExPart 2
59 Mampir Yuk!
60 Bukan Sekedar Secretary
61 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Prolog
2
TW 1: Isabella Alfaro
3
TW 2: Belum Di Mulai
4
TW 3: Permulaan
5
TW 4: Pendaftaran
6
TW 5: Izin
7
TW 6: Bermain Trik
8
TW 7: TIDAK!!!
9
TW 8: Mengikuti Keinginanku
10
TW 8: Pura- Pura
11
TW 10: Menjadi Pengasuh
12
TW 11: Bercerita
13
TW 12: Menguji
14
TW 13: Berdebat
15
TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16
TW 15: Yang Sebenarnya
17
TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18
TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19
TW 18: Merenggut
20
TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21
TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22
TW 21: Ciuman Selamat Datang
23
TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24
TW 23: Aku Percayakan Padamu
25
TW 24: Aku Tidak Cemburu
26
TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27
TW 26: Masih Mau Menampik?
28
TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29
TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30
TW 29: Guru Daren
31
TW 30: Clara Tahu
32
TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33
TW 32: Tidur Bersamaku
34
TW 33: Perasaan Willy
35
TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36
TW 35: Menangis Seharian
37
TW 36 : Siapa Clara?
38
TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39
TW 38: Tembakan
40
TW 39: Pengorbanan Isa
41
TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42
TW 41: Sakit Hati
43
TW 42: Pulang
44
TW 43: Aku Merindukannya
45
TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46
TW 45: Kedatangan Willy
47
TW 46 :Kau Cantik
48
TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49
TW 48: Pertemuan Kembali
50
TW 49: Maafkan Aku
51
TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52
TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53
TW 52: Marahlah!
54
TW 53: Kencan Buta
55
TW 54: Tidak Berdaya
56
Epilog
57
EkPart 1
58
ExPart 2
59
Mampir Yuk!
60
Bukan Sekedar Secretary
61
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!