TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas

Hari ini Isa sudah berjanji pada Daren untuk mengajaknya pergi ke taman bermain seperti janjinya.

Karena sudah tidak di ragukan lagi jika Daren mendapat nilai 100 dari les matematika yang di tekuninya.

Daren yang pagi tadi menangis takut Isa pergi, kini sudah kembali ceria. Bocah kecil itu sudah tidak sabar untuk pergi ke taman bermain seperti yang di katakan Isa.

Isa dan Daren berjalan bergandengan tangan, sedangkan di belakang mereka ada Willy yang juga ikut.

Demi mengikuti Isa da Daren Willy bahkan rela membatalkan pertemuan pentingnya hari ini. Sudah Willy putuskan dia akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Daren, dan lebih protektif lagi mulai sekarang.

Ketiganya memasuki arena taman bermain tanpa di iringi pengawal seperti biasanya.

Willy memang tetap waspada dengan menempatkan penjaga di sekitar mereka meski tidak dalam jarak dekat, seperti kali ini agar tidak terlalu mencolok.

Sejak datang Daren tak berhenti antusias dengan semua permainan yang ada di taman bermain.

Satu persatu permainan Daren coba, mulai dari bombom car, komedi putar dan rollercoaster khusus anak- anak dan yang pasti aman untuk anak seusia Daren.

Willy dan Isa duduk di kursi sambil memperhatikan Daren yang asik bermain, tangannya dia lambaikan ke arah Willy dan Isa, hingga di balas dengan lambayan serupa oleh keduanya.

"Apakah anda sudah menemukan kandidat untuk menjadi Ibu Daren..?" tanya Isa, setelah hening cukup lama Isa mencoba memulai pembicaraan.

"Aku belum menemukannya." Jawab Willy acuh tak acuh.

Isa mengeryit mendengar perkataan Willy, tiga bulan akan berjalan dengan cepat dan banyak hal yang harus Willy pertimbangkan agar mendapat ibu yang baik untuk Daren sekaligus Istri untuknya. Tapi, kenapa pria itu belum memulai pencariannya.

"Harusnya anda harus memulainya tuan, bukankah anda bilang ini tidak akan mudah." Willy berdecak lalu melihat ke arah Isa dengan tatapan tajam.

Merasa terkejut dengan tatapan Willy Isa hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali lalu meringis "Aku tidak bermaksud ikut campur tuan. Tapi, bukankah anda memang harus segera memikirkannya agar Daren tidak terlalu nyaman denganku." kata Isa dengan raut wajah yang terlihat sedih.

Willy tertegun dengan apa yang Isa katakan, benar memang tadi pagi saja Daren menangis saat Isa marah dan mengira gadis itu akan pergi. Bagaimana jika semakin lama Daren semakin nyaman dan ternyata tak bisa menghapuskan Isa hingga Isa benar- benar pergi meninggalkan mereka.

Willy mengerutkan keningnya merasa tak nyaman dengan apa yang terlintas di pikirannya, kenapa bayangan Isa benar- benar pergi membuatnya tidak nyaman.

"Kau benar, sulit untuk mencari Ibu yang tulus untuk Daren dan aku masih tidak tahu wanita seperti apa yang akan di sukai Daren." Willy menghela nafasnya "Apa aku harus mencari wanita sepertimu?" Isa mendongak menatap Willy, Apa dia baru saja mendengar Willy bergumam, tapi Isa tak bisa mendengar dengan jelas, sebab Willy mengatakannya sangat pelan. Untuk beberapa saat pandangan keduanya terpaut hingga Isa lebih dulu mengalihkan tatapannya karena lagi- lagi ada denyar aneh di hatinya..

"Kenapa tidak mencarinya dari sudut pandangmu tuan, kau memang berniat mencari Ibu untuk Daren, tapi apa sebatas itu saja?, lalu bagaimana perasaan wanita itu ketika kau menikahinya, tidakkah kau keterlaluan hanya menjadikan dia Ibu saja tanpa menjadi seorang istri."

"Aku akan memperlakukannya dengan baik.." Willy bergeming tatapan matanya melihat ke arah Daren yang berjalan menuju ke arah mereka.

"Kau tahu jika ikatan antara darah lebih kental dari pada air?, mungkin saja Daren akan menyukai wanita yang kau sukai, tidak mungkin bukan kau menyukai wanita yang buruk. Kenapa tidak mencoba untuk membuka hatimu tuan..?, mungkin saja seleramu adalah selera Daren juga." Willy kembali tertegun, namun tak lama raut wajahnya kembali seperti semula saat Daren bicara saat baru saja menghampiri mereka.

"Dad, aku ingin Gula- Gula Kapas itu." Daren menunjuk pada penjual Gula- Gula Kapas yang di kerumuni pembeli.

"Baiklah kita akan beli.." Willy bangun dari duduknya, "Ayo.." ajaknya pada Daren yang justru menggelengkan kepalanya.

"Aku lelah dan akan duduk disini!" itu bukan permintaan, melainkan perintah karena Daren sudah lebih dulu membaringkan kepalanya di pangkuan Isa tanpa berniat untuk ikut.

Willy mendengus, "Baiklah tunggu di sini!" Willy berjalan ke arah penjual Gula- Gula Kapas, meninggalkan Daren dan Isa yang masih duduk di kursi taman.

Willy mengantri untuk mendapatkan pesanan Daren itu, menunggu pembeli sebelumnya hingga gilirannya tiba, selama menunggu Willy tak hentinya menatap ke arah Daren dan Isa. Nampak Isa mengusap rambut Daren penuh kasih sayang, adegan itu persis seperti perlakuan Ibu pada anaknya, Willy berpikir bagaimana bisa Isa memperlakukan Daren dengan tulus, meski tak ada hubungan darah diantara mereka, namun hingga penjual memberikan pesanannya Willy tak menemukan jawabannya selain imbalan atas kerjasama mereka, tapi bagaimana bisa Isa terlihat begitu natural dan benar- benar tanpa beban memperlakukan Daren layaknya memperlakukan anak sendiri.

Willy tak tahu saja mimpi Isa adalah memiliki banyak anak setelah menikah, hingga dia yang penyuka anak kecil sudah bersiap sejak dia tahu di jodohkan dengan Alan, Isa mempelajari bagaimana mengurus anak dengan baik juga tips dan trik membesarkan serta mengetahui watak anak- anak yang berbeda pada masanya, seperti yang dilakukannya pada Daren, karena kepekaannya terhadap anak- anak dia bisa tahu apa saja permasalahan Daren termasuk kelebihan Daren yang mampu menyerap pelajaran jauh dari usianya, sayangnya rencana pernikahannya dan Alan gagal sebelum Isa memulainya, hingga Isa tak bisa merealisasikan mimpinya yang entah kapan akan terwujud.

Setelah mendapat Gula-Gula kapas Willy kembali ke tempat dimana Daren dan Isa berada. Willy menatap dua gula kapas di tangannya dengan kening mengeryit, untuk apa dia membeli dua gula kapas. Willy melihat ke arah Daren dan Isa yang tampak tertawa entah sedang membicarakan apa, tatapannya tak lepas dari kedua manusia berbeda usia itu hingga tanpa sadar dia ikut tersenyum, seiring langkah yang semakin mendekat senyum Willy berubah menjadi seringaian miring di bibirnya "Oh, gula kapasku." Daren segera mengambil satu gulungan gula kapas dari tangan Willy. "Terimakasih Dad." Daren memberi kecupan di pipi Willy, hingga Willy tersenyum.

"Tentu." Willy mengelus rambut Daren dengan sayang. Willy melihat satu gula kapas yang masih berada di genggamannya lalu menyodorkannya ke hadapan Isa.

"Untukmu." Isa terkejut lalu mendongak menatap Willy yang masih berdiri menjulang di hadapannya, meski ragu tangan Isa terangkat dan meraih Gula Kapas itu.

"Terimakasih.." Isa tersenyum ke arah Willy dengan tulus, Isa penyuka sesuatu yang manis seperti Permen dan Gula Kapas, dan tentu saja Isa senang menerima pemberian Willy ini.

"Kau suka?" tanpa sadar pertanyaan itu terlontar dari mulut Willy sampai dirinya sendiri terkejut, entah mengapa sejak dia memperhatikan Isa dan Daren yang tertawa, hati Willy terus merasakan denyar aneh seperti perasaan kagum yang tak bisa di cegah.

"Hmm.." Isa mengangguk dengan bibir tersenyum yang sudah mulai menikmati Gula- Gula Kapas pemberian Willy.

Isa menikmati Gula- Gula Kapasnya dengan perasaan bahagia, bibirnya terus tersenyum seolah sudah lama tidak menikmati makanan manis itu, namun senyum Isa tiba- tiba surut saat mendengar celetukan dari mulut Daren.

"Kau harus berterimakasih dan mencium pipi Daddy, Mom. Dia akan senang karena sudah membelikanmu." Daren mengatakannya dengan mata penuh keseriusan menatap Isa dengan anggukan yakin "Dad selalu bilang padaku, 'Katakan terimakasih dengan ini.' Daren menunjuk pipinya sendiri memperagakan apa yang Willy katakan padanya, yang berarti Daren harus mencium pipinya setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Isa rasa Gula Kapasnya tak lagi manis, melainkan pahit karena ternyata lagi- lagi Willy memanfaatkan kesempatan..

Lihatlah bibirnya kini kembali menyeringai sinis.. Astaga.. Ada udang di balik Gula Kapas.

Terpopuler

Comments

Ima Kristina

Ima Kristina

hahahaha dasar licik tuan Willy

2025-03-03

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

modus Willy... pengusaha sukses seperti dia emang paling jago membaca peluang keuntungan..

2024-05-29

1

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

menemukan? mencari aja nggak🤫

2024-02-27

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 TW 1: Isabella Alfaro
3 TW 2: Belum Di Mulai
4 TW 3: Permulaan
5 TW 4: Pendaftaran
6 TW 5: Izin
7 TW 6: Bermain Trik
8 TW 7: TIDAK!!!
9 TW 8: Mengikuti Keinginanku
10 TW 8: Pura- Pura
11 TW 10: Menjadi Pengasuh
12 TW 11: Bercerita
13 TW 12: Menguji
14 TW 13: Berdebat
15 TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16 TW 15: Yang Sebenarnya
17 TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18 TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19 TW 18: Merenggut
20 TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21 TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22 TW 21: Ciuman Selamat Datang
23 TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24 TW 23: Aku Percayakan Padamu
25 TW 24: Aku Tidak Cemburu
26 TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27 TW 26: Masih Mau Menampik?
28 TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29 TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30 TW 29: Guru Daren
31 TW 30: Clara Tahu
32 TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33 TW 32: Tidur Bersamaku
34 TW 33: Perasaan Willy
35 TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36 TW 35: Menangis Seharian
37 TW 36 : Siapa Clara?
38 TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39 TW 38: Tembakan
40 TW 39: Pengorbanan Isa
41 TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42 TW 41: Sakit Hati
43 TW 42: Pulang
44 TW 43: Aku Merindukannya
45 TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46 TW 45: Kedatangan Willy
47 TW 46 :Kau Cantik
48 TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49 TW 48: Pertemuan Kembali
50 TW 49: Maafkan Aku
51 TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52 TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53 TW 52: Marahlah!
54 TW 53: Kencan Buta
55 TW 54: Tidak Berdaya
56 Epilog
57 EkPart 1
58 ExPart 2
59 Mampir Yuk!
60 Bukan Sekedar Secretary
61 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Prolog
2
TW 1: Isabella Alfaro
3
TW 2: Belum Di Mulai
4
TW 3: Permulaan
5
TW 4: Pendaftaran
6
TW 5: Izin
7
TW 6: Bermain Trik
8
TW 7: TIDAK!!!
9
TW 8: Mengikuti Keinginanku
10
TW 8: Pura- Pura
11
TW 10: Menjadi Pengasuh
12
TW 11: Bercerita
13
TW 12: Menguji
14
TW 13: Berdebat
15
TW 14: Semua Ada Di Tangan Willy
16
TW 15: Yang Sebenarnya
17
TW 16: Bagaimana Jika Kelak Aku Pergi?
18
TW 17: Ada Udang Di Balik Gula Kapas
19
TW 18: Merenggut
20
TW 19: Haruskah Aku Minta Maaf
21
TW 20: Ada Apa Dengan Tuan Willy
22
TW 21: Ciuman Selamat Datang
23
TW 22: Tidak Akan Membiarkan Kau Selingkuh
24
TW 23: Aku Percayakan Padamu
25
TW 24: Aku Tidak Cemburu
26
TW 25: Tak Ingin Kecewa Lagi
27
TW 26: Masih Mau Menampik?
28
TW 27: Ya, Aku Cemburu!
29
TW 28: Willy Mematahkan Tulangnya!
30
TW 29: Guru Daren
31
TW 30: Clara Tahu
32
TW 31: Jangan Jadi Bodoh
33
TW 32: Tidur Bersamaku
34
TW 33: Perasaan Willy
35
TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
36
TW 35: Menangis Seharian
37
TW 36 : Siapa Clara?
38
TW 37: Aku Adalah Calon Istrinya
39
TW 38: Tembakan
40
TW 39: Pengorbanan Isa
41
TW 40: Ungkapan Cinta Isa
42
TW 41: Sakit Hati
43
TW 42: Pulang
44
TW 43: Aku Merindukannya
45
TW 44: Buktikan Jika Kau Bersungguh- sungguh
46
TW 45: Kedatangan Willy
47
TW 46 :Kau Cantik
48
TW 47: Ucapan Adalah Sebuah Doa
49
TW 48: Pertemuan Kembali
50
TW 49: Maafkan Aku
51
TW 50: Rindu Yang Menyiksa
52
TW 51: Maukah Kau Menikah Denganku?
53
TW 52: Marahlah!
54
TW 53: Kencan Buta
55
TW 54: Tidak Berdaya
56
Epilog
57
EkPart 1
58
ExPart 2
59
Mampir Yuk!
60
Bukan Sekedar Secretary
61
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!