Bab 5

Sri begitu amat syok setelah mendengar cerita dari Puspa, ia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi saking terkejutnya. Saat Puspa sedang bercerita ternyata bukan hanya Sari yang mendengarkannya tetapi ada beberapa Ibu-Ibu lain yang ikut menguping pembicaraan antara Puspa dan juga Sari di dekat pintu kamar.

Ibu-Ibu yang sengaja menguping pun ikutan syok dan mereka tidak menyangka bahwa hubungan kedua orangtua Puspa bisa hancur seperti itu, karena yang mereka tahu hubungan Husna dan Dimas sangatlah harmonis mengingat Husna yang selalu tersenyum bahagia setiap ditanya prihal rumah tangganya.

" Astaghfirullah Puspa. " hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Sari.

" Ayah jahat Mbak Sari, Ayah jahat tapi wanita itu jauh lebih jahat. " ucap Puspa dengan suara yang lemah.

" Kamu yang sabar Puspa, kamu harus ikhlas menerima semuanya Puspa supaya Ibu kamu tenang di alam sana. " ujar Sari menasehati.

" Bagaimana aku bisa sabar Mbak, dan bagaimana juga aku bisa ikhlas jika gara-gara mereka aku harus kehilangan Ibuku dengan cara yang sangat tragis. " seru Puspa dengan suara yang semakin melemah namun sorot matanya memancarkan dendam.

Sari terus mengusap lembut punggung Puspa yang masih saja bergetar, sungguh Sari tidak menyangka di usianya yang masih sangat belia Puspa sudah dihadapkan dengan kenyataan yang sangat menyakitkan.

" Sudah jangan di bahas lagi ya Puspa sekarang lebih baik kamu makan dulu yuk? supaya kamu lebih bertenaga dan tidak jatuh sakit. " ajak Sari yang tidak ingin melihat kondisi Puspa semakin memburuk.

" Aku nggak laper Mbak Sari. " Puspa menjawab seraya menatap kain jarik yang masih menggantung di atas tempat tidur karena ia melarang siapapun untuk melepaskan kain jarik tempat di mana ibunya meregang nyawa.

Sari yang mengerti dengan kondisi Puspa tidak memaksanya karena ia sendiri pun akan melakukan hal yang sama ketika kehilangan orang yang paling di sayang terlebih orang itu adalah sosok Ibu.

" Ya udah kalau kamu nggak laper sekarang lebih baik kamu tidur ya? biar acara tahlilan di sini biar Mbak dan para tetangga di sini yang mengurusnya. " ujar Sari.

" Iya Mbak Sari terima kasih banyak ya? dan sampaikan rasa terima kasihku pada warga yang sudah banyak membantuku? " ucap Puspa yang tidak mengalihkan pandangan matanya sedikitpun dari kain jarik yang menggantung tersebut.

" insya Allah nanti akan Mbak sampaikan ya Puspa, ya udah sekarang kamu istirahat Mbak tinggal dulu ya? " seru Sari yang menutupi separuh badan Puspa dengan menggunakan kain sarung.

Setelah itu Sari segera berlalu meninggalkan Puspa sendirian di dalam kamar. Walaupun Sari meminta Puspa untuk beristirahat namun nyatanya Puspa sama sekali tidak dapat memejamkan matanya barang sedetik pun. Yang Puspa lakukan hanyalah berbaring sembari terus menetap kain jarik yang menjadi saksi bisu saat Ibunya meregang nyawa.

Akhirnya acara tahlilan untuk almarhumah Husna berjalan dengan lancar berkat bantuan dari para warga desa yang prihatin dan ikut bersedih dengan nasib yang Puspa alami.

" Mbak permisi pulang dulu ya Puspa? kamu baik-baik di sini atau kamu mau ikut tinggal di rumah Mbak saja? " ujar Sari saat berpamitan setelan acara tahlilan selesai.

" Terimakasih banyak atas tawarannya Mbak Sari tapi aku akan tetap tinggal di sini Mbak karena rumah ini satu-satunya harta peninggalan dari almarhumah Ibuku dan banyak sekali kenanganku dan Ibuku di rumah ini. " Puspa menjawab dengan suara yang sedih namun sudah tidak ada lagi air mata yang menetes.

" Iya sudah jika memang itu keputusan kamu tidak apa-apa tapi kamu baik-baik ya di sini dan jika kamu membutuhkan sesuatu dengan sungkan untuk meminta bantuan Mbak ya? " ucap Sari sembari memeluk Puspa dengan erat.

Puspa hanya mengangguk lalu ia balas memeluk Sari juga.

" Kalau begitu nggak pulang dulu ya Puspa, Assalamualaikum. " pamit Sari yang melerai pelukan mereka lalu dia segera berlalu dari rumah Puspa.

" Wa'alaikumsalam Mbak Sari. " Jawab Puspa yang sedang berdiri di depan teras rumahnya sembari melihat ke arah Sari yang berjalan semakin jauh.

Setelah Sari selesai berpamitan dan pulang dari rumah Puspa, sekarang giliran Pak RT dan bu RT yang juga ikut berpamitan dengan Puspa.

" Hmm Puspa tadi saat Ibu dan beberapa tetangga di sini sedang membersihkan kamar Ibumu tanpa sengaja Ibu menemukan surat ini di bawah bantal yang ada di dalam kamar. " ucap bu RT sembari memberikan secarik kertas putih yang baru saja ia ambil dari saku baju gamisnya.

Dengan alis yang berkerut Puspa menerima surat yang disodorkan oleh bu RT.

" Terimakasih banyak Bu RT tapi ini surat apa ya? " ujar Puspa bertanya.

" Kalau untuk isinya Ibu tidak tahu Puspa karena Ibu dan beberapa tetangga yang menemukannya kami sama-sama tidak ada yang berani membuka karena kami yakin ini pasti surat yang ditinggalkan oleh Ibumu untuk kamu Puspa. " tutur bu RT menjelaskan.

" Surat dari ibuku? " monolog Puspa dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Puspa sama sekali tidak menyangka jika Ibunya masih sempat menuliskan surat terakhir untuknya.

" Iya Puspa, kalau begitu Ibu dan Pak RT pamit pulang juga ya? Kamu baik-baik di rumah ini dan jika kamu membutuhkan apapun jangan sungkan untuk meminta bantuan pada Ibu atau Pak RT ya Puspa? " tutur bu RT yang langsung memeluk tubuh Puspa dengan erat.

" Iya Bu RT, aku mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari Bu dan Pak RT, maaf Puspa tidak dapat membalasnya tetapi semoga Allah membalas semua kebaikan Bu RT dan Pak RT. " ucap Puspa yang ikut membalas pelukan dari Bu RT.

" Kamu baik-baik di sini ya Puspa kalau ada apa-apa segera hubungi bapak, bapak pamit pulang juga Assalamualaikum. " pamit pak RT dan Puspa langsung mencium punggung tangan keduanya.

Selesai berpamitan mereka berdua segera berlalu dari rumah Puspa dengan menaiki motornya, walaupun Puspa bukanlah sanak saudaranya tetapi Bu RT dan Pak RT ikut merasakan kesedihan yang Puspa alami, apalagi Puspa dan Ibunya terkenal sebagai Ibu dan anak yang sangat baik, ramah, dan juga penuh senyum, apalagi mereka juga dikenal sebagai orang yang suka membantu walaupun mereka sendiri dalam keadaan yang sulit. Puspa terus berdiri di depan teras rumahnya hingga motor yang dikemudikan oleh Pak RT berjalan semakin menjauh lalu hilang dalam kegelapan malam.

Setelah semuanya kembali ke rumahnya masing-masing rumah Puspa kembali sunyi dan sepi. Puspa segera masuk ke dalam rumah lalu Puspa menutup semua pintu dan jendela serta memastikan semuanya terkunci dengan rapat, karena kedua orang tuanya tidak memiliki sanak dan saudara maka dari itu saat dalam keadaan seperti ini Puspa hanya sendirian di rumah yang biasanya da tinggali berdua bersama sang Ibu

" Bu rumah ini terasa sangat sepi sekali setelah Ibu tidak ada? kenapa Ibu harus mengakhiri hidup dengan cara yang seperti itu Bu? kenapa Ibu tega meninggalkan aku sendirian di sini, padahal Ibu tahu di dunia ini aku tidak memiliki siapapun selain Ayah dan Ibu. setelah Ayah pergi bersama wanita itu sekarang Ibu juga pergi meninggalkan aku selama-lamanya dan akhirnya sekarang aku sendirian Bu. " ucap Puspa saat melihat foto Ibunya yang menggantung di dinding rumah mereka.

Karena Puspa sama sekali tidak mengantuk Puspa mengeluarkan semua barang-barang, pakaian dan apapun itu yang berhubungan dengan Ayahnya, setelah itu Puspa mengumpulkannya menjadi satu lalu memasukkannya ke dalam sebuah karung yang berukuran besar.

Terpopuler

Comments

Amelia

Amelia

❤️❤️❤️❤️👍👍👍😊

2024-03-11

0

Defi

Defi

yuk kuat yuk Puspa 💪

2024-02-19

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

mantuuul thor lanjutkan

2024-01-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!