Bab 3

Puspa melangkahkan kakinya melewati jalanan berbatu yang di samping kanan dan kirinya dipenuhi rumput ilalang yang tinggi.

Sepanjang perjalanan Puspa terus menyapa beberapa tetangga yang berpapasan dengannya ataupun para tetangga yang sedang beraktivitas di depan rumahnya. Itulah Puspa di kampungnya ia di kenal sebagai gadis yang ramah, penuh senyum, dan juga periang, saat ini Puspa tinggal di sebuah desa yang terletak di pulau Jawa. Setelah berjalan selama 10 menit akhirnya Puspa tiba di warung yang paling dekat dengan rumahnya yaitu warung miliknya Mbak Sari.

" Eh Puspa mau beli apa? " sapa Sari saat melihat Puspa datang ke warungnya.

" Mbak Sari beli obat merah sama Plaster dong? " pinta Puspa yang berdiri di depan warung Sari.

Sari segera mengambilkan barang pesanan Puspa lalu menyerahkannya.

" Untuk apa obat merah sama Plaster Puspa? Siapa yang luka? " tanya Sari sambil memasukkannya ke dalam kantong plastik.

" Untuk Ibu Mbak tangannya ke iris pisau. " jawab Puspa yang berbohong.

Tidak mungkin Puspa mengatakan yang sebenarnya karena itu sama saja dengan ia yang membongkar aib keluarganya sendiri.

" Oalah bilang sama Ibu kamu hati-hati Puspa. " ujar Sari menasehati.

" Iya Mbak Sari, jadi berapa semuanya Mbak? " tanya Puspa saat Sari memberikan pesanannya.

" Semuanya jadi 10 ribu Puspa. " jawab Sari dan Puspa pun segera memberikan uang pecahan 10 ribuan pada Sari.

Setelah membeli obat merah dan Plaster Puspa segera pergi meninggalkan warung Sari untuk kembali pulang ke rumahnya, namun saat sedang dalam perjalanan pulang Puspa tiba-tiba terjatuh seperti ada seseorang yang mendorong tubuhnya.

Bruuukk...

" Heeessttt aww sakit. " rintih Puspa saat lututnya terkena batu hingga berd**ah.

Puspa sampai terduduk di tanah karena saking sakitnya, karena kakinya sedikit kotor Puspa membersihkan lukanya terlebih dahulu namun tiba-tiba.

Deegh..

Perasaan Puspa mendadak jadi tidak enak dan Puspa langsung teringat dengan Ibunya di rumah.

" Kenapa perasaanku mendadak jadi tidak enak ya? Semoga Ibu gak kenapa-kenapa. " Gumam Puspa yang mulai bangkit lalu berjalan tertatih-tatih menuju ke rumahnya.

Semakin dekat dengan rumahnya perasaan Puspa semakin bertambah tidak enak bahkan jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang seperti genderang yang mau perang.

" Kenapa jantungku berdetak semakin kencang begini? " gumam Puspa yang semakin mempercepat langkah kakinya walaupun lututnya semakin terasa sakit serta ngilu.

Sesampainya di rumah Puspa segera membuka kunci pintu rumahnya dan dia pun langsung masuk ke dalam rumahnya.

" Ibu Puspa pulang. " ucap Puspa dengan suara yang sedikit berteriak sambil melangkah menuju ke kamar.

" Ibu tidur ya? " panggil Puspa lagi.

Namun saat Puspa membuka tirai penutup pintu kamarnya, Puspa terkejut bukan kepalang saat dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Ibunya sudah gantung diri dengan menggunakan kain jarik yang tadi Puspa berikan untuk menutup tubuh Ibunya saat tertidur.

" Iiiiibbuuuuuuu.... " Puspa berteriak sekencangnya sambil berlari mendekat ke arah Ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi bersama dengan calon adiknya.

" Iibuuuuu jangan tinggalin aku Buuuuu jangan tinggalin akuuuu. " teriak Puspa sambil menangis histeris.

Puspa naik ke atas ranjang lalu dia langsung memeluk kaki Ibunya yang sudah pucat dengan sangat erat.

" Ibu kenapa ninggalin aku Bu? Ibu kenapa pergi secepat ini Bu. " Raung Puspa sambil tetap memeluk kaki Ibunya.

Cukup lama Puspa berada dalam posisi seperti itu hingga tiba saatnya Puspa Sadar jika ia harus meminta bantuan warga untuk menurunkan jenazah Ibunya.

" Bu aku pergi dulu ya Bu? Aku cari bantuan dulu. " pamit Puspa yang segera menghapus air mata dan air hidungnya secara kasar.

Sesering apapun Puspa menghapus air matanya tetap saja air matanya terus mengalir tiada henti malah semakin bertambah deras hingga ia sesenggukan. Puspa berlari sekencangnya berusaha meminta bantuan pada siapapun yang dia temui, namun sayang tidak ada satu pun warga yang terlihat lewat ataupun berdiri di depan pintu bahkan warung Sari pun sudah tutup padahal hari masih siang.

Tetapi Puspa yang tidak putus asa, dia tetap berlari walaupun tanpa alas kaki dan beberapa kali kakinya terkena batu hingga terluka bahkan ada yang sampai mengeluarkan da*ah namun rasa sakitnya sama sekali tidak terasa karena hati dan jiwanya jauh lebih sakit dari luka yang ada di kakinya. Puspa terus berlari hingga dia sudah berada di tengah kampung namun suasananya sangat sunyi seperti tidak berpenghuni.

" Tooolooooong, tooolooooong, tooolooooong aku tooolooooong. " Puspa berteriak sekencangnya di tengah kampung namun tidak ada satu wargapun yang muncul.

" Tooolooooong, tooolooooong akuuuu, tooolooooong. " Puspa berteriak lagi sambil berlari kesana kesini namun tetap saja tidak ada orang yang muncul.

Namun Dewi Fortuna masih berpihak pada Puspa, tiba-tiba Pak RT muncul dengan mengendarai motornya dan tanpa basa-basi Puspa langsung berteriak meminta bantuan.

" Pak RT tolong aku Pak RT tolong aku. " ucap Puspa yang berdiri di tengah jalan sambil menghadang laju kendaraan Pak RT.

" Ada apa nak Puspa kenapa kamu menangis seperti ini? " tanya Pak RT dengan wajah yang menatap bingung ke arah Puspa.

" Tolong Ibuku Pak RT, tolong Ibuku. " ucap Puspa yang masih terus menangis sambil menggoyang-goyangkan tangan Pak RT.

Puspa sangat bersyukur ia bisa bertemu dengan Pak RT yang bisa membantunya.

" Ibu kamu kenapa Puspa? Apa Husna mau melahirkan? " tanya Pak RT.

" Ibu.... Ibu.... " seru Puspa tergagap karena dia tidak sanggup jika harus mengetakan yang sebenarnya.

" Ya sudah kamu naik ke atas motor Bapak kita ke rumah kamu sekarang? " titah Pak RT dan Puspa pun langsung naik ke atas motor milik Pak RT tanpa berpikir dua kali.

Pak RT mulai melajukan motornya dengan pelan menuju ke rumah Puspa yang berada di ujung kampung.

" Lebih cepat pak RT lebih cepat lagi? " Pinta Puspa dengan tidak sabaran.

" Sabar Puspa jalan ini sangat jelek dan berbatu kalau tidak hati-hati kita bisa jatuh. " tutur Pak RT.

" Ayo Pak RT lebih cepat lagi. " pinta Puspa lagi.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya motor milik Pak RT sudah tiba di depan rumah sederhana milik orangtua Puspa.

" Ayo Pak RT cepetan. " Puspa menarik paksa tangan RT untuk masuk ke dalam rumahnya dan hal itu cukup membuat pak RT kesulitan untuk mengimbangi langkah kaki Puspa yang masih muda sedangkan Pak RT sudah berumur 65 tahun.

Puspa terus menarik tangan Pak RT hingga mereka hampir tiba di depan kamar, Pak RT menghentikan langkah kakinya membuat Puspa terpaksa menghentikan langkah kakinya juga.

" Ayo pak RT kenapa berhenti? " tanya Puspa dengan tubuh dan hati yang sudah tidak karu-karuan lagi rupanya.

" Tunggu dulu Puspa Ibu kamu kenapa? Kalau Ibu kamu mau melahirkan gak elok jika Bapak yang masuk ke dalam kamar kalian. " ucap Pak RT.

Tapi Puspa yang sudah tidak sabaran kembali memegang tangan pak RT dengan kedua tangannya lalu ia menarik paksa dan membawa Pak RT menuju ke kamar mereka di mana Ibunya yang sudah meninggal dunia dalam posisi menggantung.

Terpopuler

Comments

Arya Al-Qomari@AJK

Arya Al-Qomari@AJK

duh Yaa Allah ibunya sedang hamil dan malah bunuh diri maka dapat dipastikan seberapa dalamnya sakit hati Puspa thd ayahnya sbg penyebab utama tindakan ibunya Puspa bundir

2025-02-26

0

Jamaliah

Jamaliah

kasihan Puspa harus menyaksikan kematian ibunya yg tragis akibat ulah ayahnya

2024-03-04

0

Amelia

Amelia

👍

2024-02-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!