Bab 4

Pak RT amat sangat terkejut saat mendapati salah satu warganya sudah tewas dengan gantung diri, ini kali pertama ada yang gantung diri di desanya semenjak ia menjabat sebagai ketua RT.

" Astagfirullah Husna. " seru pak RT yang sangat terkejut.

" Ya Allah Puspa kenapa Ibu kamu bisa sampai seperti ini Nak? " tanya Pak RT yang masih syok namun ia berusaha untuk tetap tenang walaupun sejujurnya dia sedang dalam keadaan panik.

Puspa tidak bisa menjawab pertanyaan Pak RT karena air mata Puspa semakin mengalir deras dan tubuhnya sudah luruh ke lantai, Puspa hanya bisa menangis sambil terus menatap tubuh Ibunya yang sudah meninggal dunia. Setelah mengetahui prihal kematian Husna pak RT langsung menghubungi salah satu perangkat Desa untuk membatalkan acara pembagian sembako gratis dan meminta para warga untuk datang ke rumah Puspa.

Ternyata semua warga tidak berada di rumahnya karena mereka sedang berkumpul di lapangan untuk menghadiri acara pembagian sembako gratis yang di adakan oleh pihak desa maka dari itu saat Puspa berteriak minta tolong tidak ada satupun warga yang datang. Setelah mendapatkan kabar dari pak RT, warga dan beberapa petugas dari puskesmas datang untuk membantu menurunkan tubuh Husna sembari memeriksanya.

Puspa sudah tidak bisa lagi berbicara ataupun bergerak saat petugas dari puskesmas menyatakan jika Ibu dan bayi yang ada di dalam kandungannya sudah meninggal lima menit sebelum Puspa sampai di rumah. Itu artinya saat Puspa terjatuh di jalan saat itu juga Ibunya sedang meregang nyawa hingga akhirnya meninggal dunia.

" Puspa Ayah kamu di mana? biar bapak hubungi sebelum Ibu kamu di makamkan? " ucap Pak RT sesaat setelah Puspa baru saja ikut memandikan jenazah Ibunya.

" Tidak usah menunggu laki-laki brengsek itu pak RT dia sudah mati. " ucap Puspa dengan nada datar lalu dia pergi masuk ke dalam rumahnya di bantu oleh Sari yang sedang memapah tubuhnya.

Sebenarnya tubuh Puspa tidak lagi bertenaga, jangankan untuk berjalan untuk berdiri pun Puspa tidak sanggup. Namun Puspa memaksakan diri untuk ikut memandikan jenazah ibunya sebagai bakti pada almarhumah Ibunya untuk yang terakhir kali, beruntung ada Sari sang pemilik warung yang dengan sigap membantu memapah tubuh Puspa sampai ke tempat pemandian jenazah Ibunya dan saat kembali ke rumah pun Sari masih tetap membantu Puspa.

Setelah Puspa pergi Pak RT hanya bisa mengerutkan kedua alisnya saat dirinya tidak mengerti dengan maksud ucapan dari Puspa, tetapi pak RT yang tahu Puspa sedang dalam keadaan berduka tidak berani bertanya lebih lanjut dan akhirnya di sore hari menjelang malam Puspa yang dibantu dengan seluruh warga desa memakamkan jenazah Husna di tempat pemakaman umum setempat.

Sejak mengetahui Ibunya sudah gantung diri di dalam kamar, air mata Puspa tidak pernah berhenti mengalir bahkan sampai jenazah Ibunya masuk ke liang lahat pun air mata Puspa terus mengalir dengan deras seperti tidak ada habisnya. Saat melihat jenazah Ibunya masuk ke dalam liang lahat hati Puspa sudah hancur lebur, remuk, terkoyak-koyak, tercabik-cabik bahkan sudah tidak berbentuk lagi bagaimana rupanya. Seluruh dunia Puspa serasa hancur, runtuh dan ingin sekali rasanya Puspa ikut mengakhiri hidupnya agar bisa bersama dengan Ibunya.

" Iiiibuuuuuuuu. " Puspa menangis sembari berteriak histeris saat dua orang warga mulai menutup liang lahat Ibunya dengan tanah.

Bahkan saking histerisnya Puspa sampai jatuh pingsan dan hal itu membuat Sari yang sejak dari awal terus mendampingi Puspa terkejut bukan main.

" Astaghfirullah Puspa. " ucap Sari yang terkejut dan hal itu mengundang atensi semua warga yang sedang berada di pemakaman.

" Tolong Puspa pingsan, tolong bantu angkat. " ucap Sari yang sedang memegang tubuh Puspa agar tidak jatuh ke tanah.

Akhirnya tubuh Puspa digendong oleh seorang pemuda desa yang membawanya kembali ke rumah diikuti oleh Sari di belakangnya. Karena kamar di rumah Puspa hanya satu jadi Puspa yang sedang pingsan ditidurkan di atas ranjang di kamar yang sama tempat Ibunya gantung diri. Beruntung para tetangga Puspa sangat baik sehingga tanpa diminta dan tanpa disuruh oleh siapapun mereka bersama-sama bergotong-royong membersihkan rumah Puspa serta mempersiapkan untuk acara tahlilan nanti malam.

" Ya Allah Puspa kasihan sekali kamu? sebenarnya apa ya sudah terjadi dengan Ayah dan Ibumu mengapa Ibumu sampai nekat mengakhiri hidupnya seperti itu? " ucap Sari yang prihatin dan juga sedih dengan nasib yang Puspa alami.

Selama Puspa pingsan Sari terus memberikan minyak kayu putih di telapak kaki, telapak tangan serta leher Puspa agar tubuhnya terasa hangat dan tidak lupa Sari juga memberikan sedikit minyak kayu putih di hidung Puspa agar dia dapat segera sadar.

Eeennngghh...

Puspa menggeliat dan secara perlahan ia mulai membuka kedua kelopak matanya, kepalanya serasa pusing karena kebanyakan menangis sekaligus sisa dari benturan Ayahnya.

" Mbak Sari aku di mana? " tanya Puspa dengan suara yang lemah.

" Kamu sudah ada di rumah Puspa. " jawab Sari dengan lembut.

Sari mengusap lembut puncak kepala Puspa sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya kepada gadis remaja yang ada di hadapannya.

" Mbak Sari Ibu mana Mbak Sari Ibu mana? " ucap Puspa yang kembali teringat dengan Ibunya dan ia langsung memaksakan diri untuk bangun berdiri namun ditahan oleh Sari.

" Kamu yang sabar Puspa, kamu yang kuat, kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Ibu kamu Puspa? " seru Sari sembari menarik tubuh Puspa ke pelukannya.

Puspa kembali menangis namun sudah tidak histeris seperti sebelum-sebelumnya, hanya air matanya saja yang masih mengalir.

" Bagaimana aku bisa ikhlas Mbak, kenapa Ibu harus mengakhiri hidupnya? kenapa Ibu harus gantung diri? dan kenapa Ibu tega meninggalkan aku sendirian Mbak? " Puspa bertanya dan Sari pun tidak bisa menjawabnya.

" Ini semua gara-gara Ayah Mbak, ini semua pasti gara-gara Ayah, Puspa benci Ayah, Puspa benci Ayaaaaaah. " teriak Puspa yang ingin melepaskan diri dari pelukan Sari namun kembali ditahan oleh Sari dan selanjutnya Puspa malah balik memeluk Sari dengan erat.

" Memangnya apa yang terjadi di antara Ayah dan Ibu kamu Puspa? " ujar Sari bertanya karena ia juga sangat penasaran alasan apa yang mendasari Husna sampai nekat mengakhiri hidupnya.

" Ayah jahat Mbak selama ini Ayah sering menyiksa Ibu, selama ini Ayah sering menyakiti Ibu tapi Ibu tidak pernah mengatakan apapun padaku, Ibu menyimpan semua rasa sakitnya sendiri Mbak, Ibu selalu terlihat baik-baik saja di depanku padahal sebenarnya Ibu sedang tidak baik-baik saja. " tutur Puspa yang berbicara sembari terus mengeluarkan air matanya.

" Dan dan puncaknya tadi pagi Ayah datang sambil membawa seorang wanita yang Ayah akui sebagai calon istrinya, di situ Ayah dan Ibu berantem hebat beberapa kali terdengar Ayah memukul Ibu dan saat aku ingin membantu Ibu, Ayah malah mendorong tubuhku hingga kepalaku terantuk ke dinding, di situ aku melihat ayah menampar Ibu, Ayah juga meludahi wajah Ibu serta hal yang paling tidak bisa aku lupakan adalah di mana Ayah dan wanita itu berciuman di depan aku dan Ibu Mbak, aku sakit Mbak hatiku sakit dan aku juga hancur tapi Mbak bisa bayangkan pasti hati Ibuku jauh lebih hancur Mbak. " tutur Puspa dengan ekspresi wajah yang sedih, kalut, bercampur marah, emosi dan semuanya terbalut menjadi satu.

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Puspa yang sabar ya nak, banyak-banyak kirim doa untuk ibumu biar tenang di alam sana

2024-02-19

1

Fina Silaban Tio II

Fina Silaban Tio II

karna di dunia nyata juga uda banyak seperti ini

2024-02-07

0

Widi Widurai

Widi Widurai

yaaa no komen lah kl dunia husna terpusat sama suaminya bukan anaknya. jd nya gini deh

2024-01-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!