Siang...
Li terbangun dari tidurnya, Karena merasa lapar. Li pun menuju ke ruang makan dan duduk di sana.sebenarnya untuk waktu makan siang Dani Rettes sudah mengatur jam 12 siang pelayang harus sudah menyiapkan makanan di meja makan,Sedangkan Li ke ruang makan karena lapar dan itupun baru jam 11 lewat 2 menit.Tak ada satupun orang di ruangan itu karena jam istirahat sudah ada bagi koki dan pelayan dari jam 10 sampai 11:30.Li yang duduk merasa perutnya mulai berontak. akhirnya Li memutuskan untuk ke dapur mencari apa yang ada. Tak lama Li menemukan Mie instan di dalam lemari yang jumlahnya tidak banyak, lalu Li memasak mie menggunakan kuali. setelah beberapa saat Li sudah memasak mie untuk dirinya sendiri dan membawanya ke ruang makan. Baru saja Li mau duduk Li melihat Riska menuju ruang makan menghampirinya dan duduk di dekat Li dengan senyum-senyum sendiri.
"Ada masalah dengan wajah tampanku sehingga buat bibi senyum terus-terusan menatapku"kata Li sambil meniup mie di depannya.
"Iya aku akui kamu ganteng keponakan, Bisa bantu bibi ambil air dingin gak di kulkas di dapur, perut bibi sedang tidak enak"kata Riska meminta bantu Li dengan memegang perutnya yang seolah sakit.
"Baiklah,,, tunggu aku sedang baik hari ini"kata Li sambil berdiri dan berjalan menuju dapur.
Saat Li membuka kulkas merasakan jiwa kehadiran Riska malah terasa menjauh dalam akal kesadarannya.
"Mungkin dia sakit perut"pikir Li tanpa curiga, sambil mengambil botol kaca di dalam kulkas yang berisi air putih. Setelah itu Li keluar dari dapur menuju ruang makan dan perutnya terus berbunyi. sesampainya di tempat biasa dia duduk deh menaruh air.
"eh eh eh Bibi kurang ajarrrrrr, Bibi gak ada ahlaaaaakkk "Li terkejut dan berteriak karena Mie instan yang sudah ia masak tidak ada di atas meja makan.
Li yang berteriak begitu keras membuat pelayan yang ada di kamar-kamarnya yang bersebelahan dengan ruang makan, mereka langsung keluar buru-buru dan berbaris di belakang Li dan memandang Li dengan takut-takut, jumlah pelayan itu setidaknya 10 orang untuk membersihkan ruangan, nyuci dan masak.
"Maafkan kami tuan muda kalo kami ada salah"kata mereka bersama
Li yang mendengar itu terkejut dan langsung menoleh kebelakang melihat semua pelayan itu menunduk.
"Ini bukan salah kalian, Bibiku yang sialan itu yang aku teriaki karena mengambil Mie yang sudah ku masak itu"Kata Li memandang pelayan-pelayan itu dengan sedih sambil memegangi perutnya sendiri
semua pelayan itu menahan tawanya, karena baru ada tuan muda keluarga paling kaya di Negara Mekar sejati yang merasa sedih kehilangan sebuah mie instan. tapi dari mereka tidak ada yang berani tertawa.
"Apakah ada yang perlu tuan muda perlukan...?"tanya pelayan Paling depan yang umurnya terlihat sudah hampir 40 tahun itu.
"Tidak ada... Masih ada sepuluh menit lagi untuk kalian istirahat, jadi maaf mengganggu istirahat kalian, Ya sudah aku mau ke dapur mau masak mie dulu"kata Li melihat semua pelayan itu
"Jangan.. biar kami saja tuan muda, kami sudah cukup istirahatnya"Kata pelayan paling depan itu.
"Oke, tapi tidak sekarang napsu makanku sudah hilang Gara-gara bibiku"Kata Li memandang mereka
"Tidak ada... aku minta waktu sepuluh menit kalian buat bertanya-tanya saja, apa kalian keberatan"kata Li kepada mereka
"Kami tidak berani tuan muda" jawab pelayan paling depan.
"Oke kalo begitu....Berapa Gaji kalian selama bekerja di sini...?" tanya Li ke pelayan-pelayan itu.
"Gaji kami sama semua Tuan muda 10 juta perbulan"Kata pelayan paling depan itu.
"hmm apa kalian punya anak dan suami..?kenapa kalian rela jadi pelayan di rumah ini...? dan Berapa yang libur hari libur kalian dalam sebulan...?"tanya Li tiga pertanyaan sekaligus
"Semua dari kami punya anak tapi sebagian ada yang masih punya suami dan tidak punya suami,kami jadi pelayan disini karena gajinya yang lumayan dan kerjanya ada istirahatnya, tapi kalo masalah libur kami hanya di kasih 1 hari pulang sebulan menemui keluarga dan anak kami tuan muda"jawab pelayan paling depan.
"Tanggal berapa biasanya kakekku menstransfer gaji ke kalian....?" tanya Li lagi
"Tanggal 1 tuan muda, itu udah pasti masuk"Kata pelayan paling depan itu
"Bisa minta tolong ambilkan kertas dan pulpen tidak di kamar kalian, tapi 1 orang aja"kata Li
"Bisa tuan muda "Kata pelayan paling depan
lalu pelayan paling depan memandang pelayan yang paling dekat dengan pintu sambil mengangguk, lalu pelayan itu masuk ke kamarnya dan langsung membawa kertas putih polos keluar dan menyerahkannya ke Li.
Li memandang jam di dinding yang sudah menunjukkan jam 11:34. sambil berjalan duduk di kursi di tempat makan lalu Li menaruh kertas dan pulpen di sampingnya di atas meja.
"Gaji kalian aku akan tambah 5 juta per orang, tapi aku akan mentransfer setiap tanggal 20 mulai bulan depan, Tolong tulis nomer rekening dan Nama kalian di kertas ini dan yang gak hapal bisa ambil dulu buku tabungannya ke kamarnya masing-masing"Kata Li sambil menunjuk kertas di atas meja.
Mendengar penambahan gaji, pelayan-pelayan itu senangnya,sebagian ada yang memasuki kamar dan ada yang sudah mulai menulis.
"Setelah menulis itu silahkan Lanjutkan kerjaan kalian"kata Li
"terima kasih tuan muda...
"terima kasih tuan muda..
"terima kasih tuan muda...
"terima kasih tuan muda...
Kata itu terus terucap setelah pelayan -pelayan menulis nomer rekening dan namanya.
Li hanya menaruh kepalanya di atas meja sambil memegang perutnya yang sudah mulai tidak tahan lapar,
sesekali tersenyum licik, entah apa yang di rencanakan Li.
setelah lama menunggu akhirnya jam 12 Pelayan membawa makanan keluar dari dapur dan menaruhnya di atas meja, menatanya dengan rapi.
setelah semua makanan itu disiapkan Li langsung makan dengan cepat tanpa menunggu seorangpun datang ke ruang makan.
selesai makan Li tersenyum senyum menuju kamarnya yang di lantai atas.sebelum sampai kamarnya Li melepaskan akal kesadarannya untuk mencari Riska.
Selanjutnya Li menulis di kertas paling atas bertuliskan
"Tambahkan gaji pelayan 5 juta per orang transfer setiap tanggal 20"
Lalu Li menuju ke ruangan tempat Riska berada di sebelah kanan setelah naik dari tangga, Li terus Berjalan lurus sehingga ke ujung melewati beberapa kamar di lantai atas.
di kamar paling ujung di situ Li merasakan keberadaan Riska.Li mengetuk pintu tanpa memanggil.
pintu terbuka....
"Ehhh Keponakan manis"kata Riska sambil melihat Li di depan pintu. dengan senyum.
"Makasih Bibi Pencuri,,,,,, Nih titipan kakek dari ruang makan tadi"ucap Li sambil menyodorkan kertas polos terlihat rapi.
"oke"kata Riska sambil mengambil kertas itu dan langsung masuk menutup pintu.
Li langsung pergi menuju kamarnya setelah itu.
Di dalam Ruangan tempat Riska sekarang adalah Tempat dia bekerja....
"Tumben Ayah angkat menitip sesuatu"Kata Riska menatap kertas di tangannya Lalu membukanya sepenuhnya
Membacanya dari awal dan pas dia membaca tulisan terakhir di kertas itu mukanya merah karena marah, tulisan itu di tulis Li Berbunyi" Saya sudah memberi tahu pelayan tentang kenaikan gajinya, Tolong jangan di kecewakan karena kita sudah berjanji kepada mereka. Bayar mie"
"Tidaaaaaakkkk.... "Teriak Riska Di kamarnya dengan marah
kembali ketempat Li yang merasakan kemarahan Riska lewat akal kesadarannya...
"Hahahhahahha hahahhaha haahahahhahaha hahahhaha" tawa Li di kamar nya sambil berkata"Jangan main-main sama saya sang pemimpin dunia"
Memang kalo Li bertemu sama Riska gak pernah bisa akur seperti Kucing dan anjing.
Menunggu sampai siang pun Master yang di tunggu Li masih berada ditempat yang jauh karena Li selalu menyadari keberadaan master itu dan mengawasinya selalu lewat akal kesadarannya.
Li yang menunggu itu merasa bose terpaksa berbaring di atas kasur dan tak lama Li akhirnya tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Yo...ayo...
2023-07-10
0