Sorenya Sofi dan Vina benar benar langsung kembali ke rumah mereka , Gibran mengatakan jika sudah mendapat pesan jika Gista sudah pergi dari rumah mereka .
Langkah mereka terasa sangat ringan dengan hati yang sangat membuncah ketika merasa terbebas dari seorang Gista . Akhirnya tidak ada aturan aturan yang membuat mereka tidak nyaman di rumah mereka sendiri . Dan Sofilah yang akhirnya akan menjadi pemegang keuangan dirumah itu .
" Sejak kapan perempuan itu minggat dari sini Nem !? Dia bawa apa saja ? Jangan jangan banyak barang barang di rumah dia angkut , " tanya Sofi sambil mengamati setiap sudut rumah , mungkin memastikan tidak ada barang hilang di rumah mereka .
" Nyonya hanya bawa satu koper baju ,satu tas ransel dan satu tas jinjing .... "
" Jangan panggil dia nyonya lagi Nem !! Dia hanya orang asing dirumah ini. "
lnem hanya melihat sinis dua wanita yang masih berkeliling rumah mengamati rumah mereka . Sudah pergi pun sang nyonya masih saja dihina oleh mereka .
Sebentar kemudian terdengar teriakan Vina memanggil ibunya , gadis itu sedang menggedor kamar utama yaitu kamar Gibran dan Gista . Pintu kamar itu ternyata terkunci rapat .
" Wanita sialan , pakai di kunci segala kamarnya !! Sudah minggat masih saja menyusahkan . Ibu pintu kamar Mas Gibran kok di kunci sih !?? "
Sofi terlihat mendekat , tangannya kemudian mendorong pintu kamar Gibran . Dia baru ingat jika hanya ada dua kunci kamar itu yang di bawa Gista dan Gibran sendiri .
" Nem !! Perempuan itu kasih kunci kamar ke kamu apa enggak !!?? "
" Mboten Ibu Nyonya !! Saya hanya dititipi pesan agar bekerja baik baik disini. " jawab Inem apa adanya , jika dititipi kunci pun akan ia serahkan langsung pada tuannya .
" Perempuan itu pasti sedang mencoba menarik perhatian Mas Gibran lagi Bu ! Sok sokan tidak mau mengambil mobil yang di bawa Pak Kris . Vina yakin dia pasti ambil barang yang lebih berharga . Surat surat rumah dan tanah kan disimpan sama Mas Gibran di kamar . Takutnya rumah ini di gadai sama dia ! "
Inem hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan dua majikannya , jauh di lubuk hatinya ia bersyukur jika wanita sebaik Gista sudah keluar dari kandang macan ini .
" Tenang saja , kita telpon Gibran biar pulang . Kita minta untuk meneliti siapa tahu ada barang berharga di dalam kamar yang hilang , sekarang dia pasti lebih menurut sama lbu, "
Sofi dan Vina tidak tahu jika sebenarnya Gibran memang dalam perjalanan pulang karena baru saja membaca pesan Gista pagi tadi yang mengingatkan keberangkatannya ke Jogja .
Vina mengambil ponsel dan mencoba menelpon kakaknya , sudah tersambung tapi belum juga diangkat oleh Gibran .
" Bu belum diangkat sama Mas .... Lhohh kok Mas Gibran pulang !!?? " Vina terkejut ketika melihat kakaknya masuk ke rumah dengan keadaan terburu buru .
" Aku lupa jika sore ini harus ke Jogja , tolong bantu Gibran menyiapkan baju gantinya Bu !! " seru Gibran yang terlihat sangat terburu buru .
lnem yang melihat tuannya sudah pulang langsung mendekat , ia ingat dengan pesan Gista tadi pagi .
" Tuan kopernya sudah disiapkan nyonya Gista di ruang tamu . Tadi Nyonya berpesan agar di cek lagi siapa tahu ada barang yang belum tuan bawa "
Gibran terpaku , bahkan semua keperluannya pun masih sangat diingat oleh mantan istrinya . Gista selalu bisa mengurus semua keperluannya tanpa terkecuali .
Dibukanya koper , seperti biasanya Gista tak pernah melewatkan satu hal kecil pun kebutuhannya . Berkali kali ia menghela nafasnya , sejak semalam ia tak bisa tidur akibat keputusan besar yang sudah ia buat tentang rumah tangganya .
Gibran masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya untuk berpisah adalah tepat . Mungkin karena kebersamaan mereka yang cukup lama membuat hatinya tak juga yakin . Pagi tadi hatinya seperti tercubit ketika Gista mengirimkan pesan jika wanita itu tidak akan mempersulit proses perpisahan mereka . Gista akan datang jika pengacara yang mengurus perceraian mereka memang membutuhkan kehadirannya .
" Gibran berangkat dulu Bu .... "
Akhirnya Gibran bangkit setelah menutup kembali kopernya . pria itu masih belum sanggup jika berada lama di rumah yang banyak menyimpan kenangannya dengan mantan istrinya . Semakin di ingat semakin berat untuk mengikhlaskan perpisahan mereka .
" Lhohh nggak mandi dulu ?? " tanya Sofi yang sebenarnya ingin sekalian meminta kunci kamar utama .
" Gibran sudah membersihkan diri di hotel tadi, "
Gibran bahkan lupa untuk salam takzim pada ibunya sendiri , yang ia inginkan adalah segera keluar dari rumah penuh kenangan itu . Tapi sampai di teras depan ia dikejutkan dengan Pak Kris yang sedang mencuci mobil SUV warna hitam yang seharusnya di bawa oleh Gista .
" Pak Kris !! Sudah saya katakan jika mobil itu akan di bawa Nyonya kan ?? Kenapa masih ada di sini !? "
" Tuan Gibran , tadi Nyonya tidak berkenan membawa mobil ini . Beliau di jemput sama angkot tadi , saya dan satpam jaga yang membantu Nyonya angkat koper dan tasnya " tutur Pak Kris , dia tidak mengatakan jika yang menjemput adalah suami lnem karena Gista sudah berpesan untuk menutup hal ini .
" Dasar masih keras kepala , masih saja sok tidak butuh !! Kenapa kamu selalu menjadi pembangkang !? " lirih Gibran sambil memandang mobil warna hitamnya .
Kembali ia di ingatkan semua momen dengan sang istri bersama mobil itu . Mobil yang pertama kali ia beli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri , bukan mobil mobil mewah warisan sang ayah yang berjejer di garasinya .
Sesaat kemudian Gibran menyeret kopernya menuju mobilnya , semakin lama mengingat semua kenangannya hatinya terasa sangat nyeri . Yang Gibran inginkan hanyalah pergi untuk sementara waktu untuk menenangkan pikirannya .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Usmi Usmi
akan menyesal ya Thor mas Gibran nya 🤣
2025-02-16
1
wkwkwkwkw jalu
gibran..kapok a wes
2025-01-09
0
Sulaiman Efendy
KRNA MNTAN ISTRI LO BKN WANITA MATRE SPRTI IBU & ADEK LOO
2024-05-05
2