" Kau ingat kan waktu itu Mama harus istirahat total selama empat bulan setelah operasi lambung ?? Kau sudah besar , Papa rasa kau tahu benar posisi Papa waktu itu . Papa menghabiskan waktu diperusahaan agar tidak meminta mamamu melayani nafsu jasmani Papa . Papa sangat menghargai mamamu Bram ! Hampir dua puluh tahun kami hidup bersama , sudah sangat banyak yang kami lalui . Dan Papa tidak akan mengorbankan kebersamaan kami dengan apapun "
" Mas .... "
Sartika memandang sayu ke arah suaminya , akhirnya keputusannya dua tahun yang lalu melukai putra mereka satu satunya . Waktu itu sengaja mereka menutupi pernikahan siri itu karena tidak ingin Bram yang masih berusia enam belas tahun terguncang . Mungkin juga akan berakibat fatal pada kejiwaan putra mereka .
Mereka yang selama ini terkesan ' baik baik saja ' ternyata menyimpan sesuatu yang sangat menyakitkan .
" Apa harus dengan jalan menikah lagi ?? Apa hanya sebatas itu Papa mencintai Mama !? Bram rasa waktu empat bulan apa apa jika di banding dengan pengabdian Mama selama ini . Dan Rachel ..... dengan hanya melihatnya saja Bram tahu jika dia bukan perempuan baik baik ."
" BRAAMMM !!! Hormati istri Papa ! " pekik Hardian yang tak suka jika putranya menghina istri mudanya .
" Dari sisi manapun aku tidak bisa melihat kebaikannya , dia hanya mencintai uang Papa !! Jika dia perempuan baik baik maka dia tidak akan mau menikahi pria yang beristri ... "
PLAKKKKK ... PLAKKKK
Spontan Hardian menampar Bram yang sekali lagi menghina Rachel . Tapi tubuh parubaya itu terhuyung beberapa langkah ke belakang ketika menyadari tangannya sudah menyakiti putranya .
" Maasss !! Cukup !! "
" Biarkan ... biarkan pria ini memukulku ! Tapi itu tidak akan pernah membuat j*lang itu baik di mataku . Hanya sebatas itu kekuatanmu Tuan Hardian Sadewo ? "
" Braaammm ... " lirih Sartika .
Sartika menggenggam tangan putranya dengan erat , dulu ia pun tak mengira jika sang sekretaris yang menjadi pilihan suaminya untuk di jadikan istri sirinya . Sartika akui jika Rachel memang punya seribu pesona untuk kaum adam , tubuh putih sintal tinggi semampai membuat siapapun tak akan kuasa menolaknya .
Tapi nasi sudah menjadi bubur , ia harus menghadapi konsekuensi dari keputusannya sendiri . Jangan ditanya tentang sakitnya menjadi istri yang di madu , tapi seribu lebih sakit ketika melihat putra satu satunya kecewa .
" Sekarang Mama pilih satu diantara kami . Aku atau pria itu ?? Kita pergi dari neraka ini , "
" Kau adalah jantung Mama sayang , dan Papa adalah udara yang Mama hirup !! Aku tidak bisa memilih , kalian adalah hidupku ."
Hardian berjalan ke arah Sartika dan bersimpuh di depannya . Dia tahu jika sudah keterlaluan kali ini , dia berani mengotori kamar mereka bersama wanita lain .
" Tika , maafkan Mas . Tadi .... "
" Sudah aku tidak ingin membahasnya . "
Bram tiba tiba berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya , hatinya masih tidak bisa menerima kenyataan jika sang papa punya wanita lain selain mamanya . Sampai di dalam kamar pemuda tampan itu langsung mengambil tas ranselnya .
Dibukanya lemari dan mulai dimasukkan satu persatu bajunya . Tidak terlalu banyak , tapi cukup untuk beberapa hari ke depan . Selesai mengemas ia segera keluar , tampak kedua orang tuanya sudah berdiri di depan kamarnya .
" Jangan begini sayang , jangan tinggalkan Mama ! "
" Mama sudah memilih dan Bram tidak akan memaksa lagi . Suatu saat aku pasti kembali tapi untuk sekarang Bram tidak bisa hidup seatap dengan suami Mama ... "
Hardian tercenung , bahkan putra satu satunya tidak mau lagi memanggilnya dengan sebutan papa lagi . Jika menuruti emosinya ia ingin sekali ia kembali meradang , tapi ia paham dengan perasaan putranya . Mungkin Bram butuh waktu untuk sendiri dulu untuk menata semuanya .
" Jaga diri Mama baik baik , hubungi Bram jika Mama sudah benar benar tidak kuat untuk hidup bersama dia . Bram pasti akan segera menjemput Mama ... "
" Tapi bagaimana hidupmu nanti ?! " lirih Sartika .
Selama ini Bram memang membantu usaha WOnya walau begitu Bram masih mengandalkan kartu debit yang rutin di isi olehnya ataupun Hardian suaminya .
" Dia laki laki Mah !.Aku ingin lihat seberapa lama dia bisa bertahan di luar sana ... "
" Jangan khawatir Tuan Hardian , aku hanya membawa barang milikku ... yang di beli dengan uang hasil jerih payahku sendiri "
Setelah berkata seperti itu Bram segera melangkah keluar . Dia berusaha tidak menoleh ke belakang walau terdengar isak halus mamanya .
" Kita lihat saja ... besok pasti dia sudah kembali !!! Dia tak akan bisa hidup dengan uang kita , "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Ulfayanty Syamsu Rajalia
ibunya Bram jg bego bisax cuma nangis aj heran de
2025-03-14
2
Ninik Ningsih
itulah kebanyakan sifat laki laki bertindak tanpa memikirkan persan orang2 di sekelilingnya
2024-06-01
4
Nurhayati Nia
kamu keterlaluan tuan hadian tidk semestinya kamu membawa Rahel ke kamar nya bu sartika
2024-05-20
0