Bab 13

Sarah tidak bisa menahan Edwin, ia hanya bisa diam duduk melihat kemarahan suaminya, karena jika dijelaskan sekarang sekarang mungkin Rudi tidak akan mengerti. Yang ada malah emosi.

"Tuh mah. Papah ngerti, masa mama nggak ngerti, Natasha itu belum mau kiwin. "

Rudi mengerutkan dahinya, menatap kearah putri satu satunya itu," Natasha apa maksud kamu?" Pertanyaan sang papah membuat, Sarah menjawab. " Natasha itu sudah main kuda kudaan dengan pacarnya yang tadi. "

Perkataan mama muda itu membuat sang suami berdiri, " Apa. "

Natasha berusaha memperbaiki keadaan," jangan dengarkan kata mama, pah. Semua itu hanya kebohongan semata."

"Kebohongan semata bagaimana, kamu harus mengaku Natasha."

"Mengaku untuk apa ma, aku tidak melakukan sesuatu yang mama katakan."

"Jangan bohong. "

Perdebatan itu berlanjut menjadi sebuah kerusuhan di meja makan. Sampai teriakan Rudi, membuat keduanya berhenti berdebat. " DIAM."

"Kembali makan, nanti kita akan bicarakan di ruangan keluarga." Tegas sang papah yang menjadi kepala keluarga di rumah.

Sarah dan juga Natasha mulai menghabiskan makanan mereka terlihat keduanya nampak ketakutan akan amukan sang papah.

"Kenapa mama selalu mengungkit perkataan semalam lagi, apalagi saat membahas kuda kudaan." Gerutu hati Natasha, mempelihatkan tatapan sinisnya dihadapan sang mama.

"Natasha, Sarah. Papah tunggu kalian di ruang keluarga, agar masalah yang dikatakan mama kamu jelas." Tega Rudi. Lelaki tua yang sudah memiliki rambut putih, beranjak berdiri ia lalu pergi dengan raut wajah penuh amarah.

"Mama sih, ngapain coba bahas kuda kudaan sama papah, urusan jadi berabe kan?"

Pertanyaan Natasha, membuat sang mamah menjewer kuping anak satu satunya itu.

"Biarin, biar kamu di kawinin sama si Edwin itu, padahal kalau mama jadi kamu, mama mau kawin sama si Edwin, dia itukan tampan. Berbadan kekar, bebulu, uuhhh!" jawab Sarah, membayangkan apa yang ia lihat tadi malam.

"Ckk, mama gila apa. Kenapa mama aja yang kawin sama si Edwin, cowok cugkring, lemah tunah itu, " ucap Natasha, menghina Edwin di depan sang mama.

Memukul kepala Natasha, Sarah mulai membalas, " kamu ini wanita, kalau ngomong itu jangan asal. Nanti kalau nggak laku sama cowok baru tahu rasa."

Natasha hanya memajukkan bibir atas bawahnya, ia tak peduli jika dirinya tak laku laku, karena definisinya tidak ingin menikah sampai kapanpun. Bagi Natasha mempunyai suami itu ribet, apalagi kalau sudah mendengar curhatan teman temannya tentang seorang suami selalu membuat Natsha kesal.

"BODO AMAT. "

Natasha berlari untuk segera menemui sang papah, dimana Sarah mengejar anaknya yang keterlaluan dalam bicara.

"Natasha, sini kamu. "

Natasha mendarat pada pangkuan sang papah," pah, liat mama sudah kaya nenek sihir yang mau ngutuk anaknya. "

"SARAH."

Mama muda itu terdiam, ia memegang sapu pada tangannya, " turunkan sapu itu, CEPAT."

Sarah mulai melemparkan sapu itu kearah pinggir, ia membulatkan kedua mata menatap kearah anaknya yang kini bersembunyi dibalik punggung sang papah.

"Natahsha."

"Iya pah. "

"Cepat duduk. "

"Baik pah. "

Natasha mulai duduk, ia bersebalahan dengan sang papah, terlihat percakapan mulai kearah yang lebih serius.

"Mah, tadi papah dengar kamu membahas tentang kuda kudaan. Apa maksud dari perkataanmu itu?" tanya Rudi, dimana Natasha menimpal perkataan sang papah.

"Tadi itu, mama bahas permainan. "

Rudi tak suka dengan orang yang selalu menyela perkataanya.

"Natasha, papah tak suka jika kamu menyela perkataan papah."

Perkataan lelaki tua itu membuat Natasha diam seribu bahasa, ia menundukkan wajah.

"Mama, papah tanya lagi sama mama? Apa maksud dari perkataan tadi?"

Sarah mulai menjawab perkataan suaminya. " Kemarin Natasha pulang bersama laki laki bernama Edwin. "

"Tunggu, Edwin. Bukannya dia?"

"Iya pah dia. Orang yang tadi papah usir di meja makan!"

"Jadi, tadi mama membohongi papah."

Raut wajah penuh amarah itu, kini diperlihatkan Rudi, dimana Sarah berusaha menjelaskan semuanya. " Tadi itu, mama bukan bermaksud membohongi papah, hanya saja mama takut penyakit papah kumat jika mendengar laki laki itu sudah ada di rumah sejak semalam. "

Rudi berusaha tetap tenang, " sebenarnya apa maksud dari lelaki itu, hah."

Natasha ingin sekali menimpal perkataan sang mama, namun disaat serius seperti sekarang ia tak diberi kesempatan untuk membela dirinya.

"Dia itu pacar Natasha. "

"APA?"

Sontak Rudi terkejut dengan pernyataan sang papah, seakan jantunya terasa sakit secara tiba tiba.

Natasha yang berada di dekat sang mama berusaha angkat bicara. " Pah. Dia itu .... "

Tetap saja Natasha malah dibentak oleh Rudi." Diam kamu, jangan banyak bicara. "

Rudi menatap ke arah istrinya dengan bertanya lagi?" Jadi dia hanya sebatas pacar tidak lebih?"

"Justru itu pah, Natasha dan Edwin sudah bermain kuda kudaan!"Jawab sang mama menggerakan tangan, memperaktekan apa yang ia katakan.

Natasha tak terima ia berdiri lalu membentak sang mama," cukup mah, jangan bicara omong kosong. Sarah tidak melakukan hal itu sama sekali, semua hanya fitnah. "

Natasha meluapkan kekesalanya, Rudi yang tak tahan dengan cerita dari Sarah membuat ia memukul meja dengan begitu keras " papah benar benar tak habis pikir dengan kamu ya, Natasha, bisa bisanya kamu mengecewakan mama dan papah. Mau jadi apa kamu kedepannya, belum menikah sudah melakukan hal yang kotor."

Natasha mendengar kekecewaan dari mulut sosok lelaki yang menjadi papahnya.

"Pah, percaya pada Natasha. Tidak pernah Natasha melakukan hal sekotor itu."

"Natasha, jika memang kamu tidak melakukan hal sekotor itu, kenapa kamu malah pulang dengan lelaki itu?" tanya Rudi, membuat Natasha kebingungan harus menjawab apa.

"Katanya lelaki itu akan menikahi Natasha, besok dia datang lagi ke rumah kita, pah!" balas Sarah, membuat Natasha membulatkan kedua matanya, sedangkan sang papa tiba-tiba saja batuk.

" Bagus, kalau memang lelaki itu bertanggung jawab kepada anak kita. Papa berharap jika anak itu datang lagi besok ke rumah, tapi jika anak itu tidak datang lagi ke sini, papa akan beri dia pelajaran," ucap Rudi terdengar mengancam.

Natasha menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ia menggerutu kesal dalam hatinya," Aduh gimana ini kenapa bisa papa dan juga mama sampai sebegitunya. "

"Natasha, apa berharap kamu bisa merenungi kesalahan kamu sendiri, padahal Papa ini percaya kepada kamu bahwa kamu bisa menjaga harga dirimu sebagai seorang wanita, tapi kepercayaan papa itu ternyata salah, Kamu sudah melukai hati papa dan mengecewakan papa," keluh sang papa kepada anak semata wayangnya yang ia selalu banggakan.

Sarah mencoba mendekati sang suami, menenangkan lelaki tua yang bernama Rudi itu," Sudahlah, tidak perlu ada yang Papa sesali saat ini, semoga saja setelah Natasha menikah iya banyak berubah," ucap Sarah berusaha menenangkan sang suami.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21 Salah
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75 Main bola
76 Bab 76 Teriakan Edwin
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 87
87 Bab 88
88 Bab 89
89 Bab 90
90 Bab 100
91 Bab 101
92 Bab 102
93 Bab 103
94 Bab 104
95 Bab 105
96 Bab 106
97 Bab 107
98 Bab 108
99 Bab 109
100 Keraguan hati.
101 Bab Rasa penasaran Perwira
102 Operasi di mulai
103 kejutan
104 Tak percaya.
105 Tangisan Perwira
106 Ingin mendengar Natasha berkata jujur.
107 Tersenyum
108 Terkejut
109 Menabrak.
110 Obrolan Perwira dan Edwin.
111 Lorenza kenapa?
112 Seperti mimpi.
113 Debat lagi.
114 Sarah benci suster
115 Ketakutan Suster Gina.
116 116
117 117
118 118
119 Merenungnya Edwin.
120 120
121 Bunga untuk sang istri.
122 Pulang ke rumah.
123 Natasha melahirkan
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21 Salah
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75 Main bola
76
Bab 76 Teriakan Edwin
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 87
87
Bab 88
88
Bab 89
89
Bab 90
90
Bab 100
91
Bab 101
92
Bab 102
93
Bab 103
94
Bab 104
95
Bab 105
96
Bab 106
97
Bab 107
98
Bab 108
99
Bab 109
100
Keraguan hati.
101
Bab Rasa penasaran Perwira
102
Operasi di mulai
103
kejutan
104
Tak percaya.
105
Tangisan Perwira
106
Ingin mendengar Natasha berkata jujur.
107
Tersenyum
108
Terkejut
109
Menabrak.
110
Obrolan Perwira dan Edwin.
111
Lorenza kenapa?
112
Seperti mimpi.
113
Debat lagi.
114
Sarah benci suster
115
Ketakutan Suster Gina.
116
116
117
117
118
118
119
Merenungnya Edwin.
120
120
121
Bunga untuk sang istri.
122
Pulang ke rumah.
123
Natasha melahirkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!