Rumah sakit xxxxxxx
pusat kota.
Hayat bergerak berlarian menyusuri lorong rumah sakit, mengabaikan siapapun yang ada disekitar nya bahkan mengabaikan ucapan Ahem yang berkata agar dia bergerak hati-hati mengingat kehamilan Hayat yang jelas masih terlalu dini. Laki-laki tersebut mengejar langkah istrinya, takut jika jika hanya terjatuh karena larinya yang sedikit ceroboh dan tergesa-gesa.
Hayat sendiri terus melangkah maju, mencari sosok seseorang yang begitu dia kenal dan dia sayangi, dibalik tubuh yang tidak baik-baik saja dan air mata yang terus membasahi pipi. Begitu dia menemukan sosok yang dia cari di ujung sana, seketika Hayat langsung berlarian mendekati sosok tersebut dengan cepat tanpa berpikir dua tiga kali.
"Mom," bayangkan bagaimana perasaan perempuan tersebut saat ini dimana dia jelas menyimpan satu kekhawatiran yang begitu besar soal daddy nya.
Hayat langsung memeluk buminya tanpa berpikir dua tiga kali begitu dia mendapati wanita baru bayar lebih tersebut berdiri dalam kecemasan diiringi dengan mata memerah yang hanya tebal pasti habis menangis karena keadaan.
"Dimana daddy.?" Hayat langsung bertanya kepada mommynya, melepaskan pelukan mereka dan dia ingin tahu di mana laki-laki yang menjadi cinta pertamanya tersebut.
Sang mommy seketika kembali menjatuhkan air matanya, kemudian dia langsung melirik ke arah ruangan yang ada di sisi kanan wanita tersebut, Hayat langsung menatap ke arah ruangan itu tanpa banyak bicara dan kemudian dia paham dimana daddynya berada saat ini.
Ruang operasi?!.
Dan seketika Hayat langsung memundurkan langkahnya, dia nyaris jatuh saat tahu dimana daddy nya berada saat ini, Ahem buru-buru meraih tubuh istrinya yang nyaris jatuh tumbang dalam keterkejutannya barusan.
*****
Entahlah berapa lama waktu berlalu, mereka duduk di depan ruangan operasi di mana tuan Zuu berada, Hayat memilih duduk di atas kursi tunggu sembari bola matanya sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari ruangan yang ada di hadapannya tersebut dalam rasa cemasnya. Beberapa kali dia menggenggam erat telapak tangannya dan mencoba untuk menetralisir berbagai macam rasa yang ada di dalam hatinya saat ini, perasaan majelis tidak baik-baik saja di mana berbagai macam pemikiran berkacamuk menjadi satu, cukup takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada daddy nya tersebut.
Beberapa kali pula dia melirik kearah mommy nya, meraih telapak tangan wanita paruh baya tersebut yang terlihat hujan dan juga cemas sembari sesekali Hayat mengelus lembut punggung tangan mommy nya. Dusta jika dia tidak lebih khawatir dari mommy nya, tapi Hayat berusaha untuk menenangkan dirimu sendiri terlebih dahulu kemudian dia belajar menenangkan wanita paruh bayar lebih di samping nya itu.
"Jangan khawatir soal apapun mom, daddy laki-laki yang kuat." Dia berbisik pelan, mencoba menenangkan mommy nya secara perlahan.
Wanita itu diam, membiarkan bola matanya menatap telapak tangan putrinya yang terus mengelus lembut punggung tangannya.
"Dia baik-baik saja," mommy nya bicara pelan, seolah-olah mencoba untuk mengingat kejadian yang terjadi pada suami yang tadi di mana laki-laki itu jelas baik-baik saja sebelumnya, Masih sempat mereka melewati makan malam bersama dan masih sempat dia mengajak mengobrol suaminya tapi seketika semuanya berubah mereka masuk ke dalam kamar tidur dan berencana untuk mengistirahatkan diri malam tadi.
"Dan ketika daddy mu baru saja akan beranjak kearah kasur, tiba-tiba saja -," wanita itu menghentikan ucapannya seolah-olah dia tidak sanggup untuk meneruskan apa yang dikatakannya.
Ambruknya sang suami membuat dia panik dan menjerit histeris karena takut, mengejutkan pelayan rumah dan security didepan sana, kegaduhan jelas terjadi di mansion utama putra tertua mereka dimana laki-laki tersebut tengah mengurus pekerjaan di luar kota dan meminta mereka tinggal disana hingga kepulangan putra mereka, yakinkan apa yang terjadi pada suaminya mencipta ketakutan demi ketakutan yang terus menghantam dirinya karena putranya tidak ada.
Nyonya Zuu tahu pemikiran suaminya tidak baik-baik saja, dia menentang keras pernikahan putri nya dan putra dari musuhnya tapi realitanya laki-laki paruh baya lebih tersebut tidak kuasa kehilangan putri nya dan hidup berjauhan dari Hayat.
Ditengah keadaan mereka yang terus saling larut dalam pemikiran masing-masing, tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka secara perlahan, hal tersebut sontak membuat Hayat dan nyonya Bii berdiri secara bersamaan dari posisi duduk mereka, bergegas berjalan mendekati salah satu dokter yang keluar dari tempat itu secara perlahan.
Bola mata mereka menatap dokter dihadapan mereka secara bergantian.
"Bagaimana dok?," Hayat bertanya dengan tidak sabaran sembari menatap dalam bola mata laki-laki di hadapan tersebut.
"Apakah daddy ku baik-baik saja?." Tanya gadis tersebut lagi kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Budiwati
lanjut
2023-05-23
0
Kholisotin Kholisotin
semoga Dady Zuu segera sehat kembali dan kehamilan hayat baik" saja,jadi khawatir dengan banyaknya masalah yang datang 😔😔😔
2023-03-09
0
Eka Elisa
smoga ktika papa zuu...sdr di ktika itu restu biat kliam ber2...sgra di ACC.....
2023-03-08
1