Hayat meringkuk seperti anak kecil membiarkan dirinya terus tenggelam ke dalam tidurnya sejak kemarin, selain karena dia sedih dengan penolakan daripada orang tuanya yang tak lain adalah daddy nya, dia juga merasa tubuhnya saat ini tidak baik-baik saja. Ada berbagai macam perasaan yang menghantam dirinya saat ini.
Di tengah rasa kantuk yang masih tersisa ditambah perutnya tidak baik-baik saja bisa dirasakan satu pelukan hangat memenuhi seluruh bagian punggung tubuhnya dan tangan kokoh mulai menyeruak masuk ke dalam perutnya secara perlahan kemudian diiringi dengan satu bisikan lembut yang memenuhi Indra pendengarannya.
"Belum ingin bangun kah?" suara khas milik Ahem suaminya, menggema di balik telinganya membuat perempuan tersebut seketika terjaga dari tidur yang tersisa lantas membuka bola matanya secara perlahan.
Tidak dipungkiri dia merindukan laki-laki tersebut yang pergi sejak pagi ke perusahaan dan meninggalkan dia sendirian di rumah. rasanya terlalu sepi karena tidak ada siapa-siapa di rumah besar tersebut kecuali seorang bibi pelayan yang melayaninya dan mempersiapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya.
"Apa sudah mendapatkan makan siang?" Ahem kembali bertanya pada sang istrinya, laki-laki itu bisa menebak jika istrinya pasti kembali kehilangan selera makannya. selama kehamilan sejak terhitung dari bulan bulan pertama Hayat di ketahui hamil dia cukup sangat kesulitan untuk mencocokkan perut Hayat, mengingat kehamilan Hayat di trimester pertama selalu mendapatkan morning sicknesnya hingga membuat perempuan itu sedikit memilih-milih makanan. Istri nya berkata merasa tidak nyaman setiap kali dia makan sehingga membuat Hayat terpaksa memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa bisa ditahan.
"Aku malas makan" Hayat menjawab pelan.
Seperti apa yang dia duga, Ahem diam sejenak membiarkan tangan nya mengelus lembut perut istri nya yang mulai membuncit secara perlahan.
"Mau aku temani makan?" Laki-laki tersebut menawarkan.
"Atau mau aku suapi?" Tanya nya lagi kemudian.
"Aku sengaja pulang jauh lebih awal untuk menemani mu memakan" Ahem bicara, membiarkan dirinya memeluk istrinya dengan dan menenggelamkan wajahnya pada punggung leher Hayat.
"Juga sengaja belum mendapatkan makan siang agar bisa menikmati makan siang bersamamu" Lanjut laki-laki tersebut lagi.
Mendengar apa yang diucapkan suaminya membuat perempuan tersebut diam untuk beberapa waktu, pada akhirnya secara perlahan Hayat membalikkan tubuhnya, membiarkan dirinya menatap suami yang kini ada dihadapan nya. Mereka berada dalam posisi berguling, di atas kasur mendominasi berwarna putih.
"Kenapa tidak makan di perusahaan?" Dia bertanya, membiarkan netral mereka berdua saling bertemu untuk waktu yang cukup lama.
"aku tidak bisa makan tanpa kamu" Bisik Ahem perlahan, laki-laki itu mengembang kan senyuman nya kemudian membiarkan kedua belah telapak tangan nya mengelus lembut wajah istrinya.
"Aku takut untuk mengkonsumsi apapun, takut kembali memuntahkan semua makanan yang akan masuk ke perutku" perempuan itu sengaja biar hal tersebut, Ahem tahu istrinya cukup kesulitan untuk mengkonsumsi sesuatu dan dia tahu juga hanya cukup takut untuk mencoba makan apapun selama beberapa waktu ini, mual dan muntah membuat istri nya begitu tersiksa
"Ini akan baik-baik saja, dokter bilang obat pencegah mual akan berkerja dengan baik, Mari makan sesuatu yang tidak menimbulkan mual seperti makanan yang mengandung karbohidrat hmmm juga ice cream " Lanjut Ahem lagi kemudian.
dengar ucapan laki-laki di hadapan tersebut Hayat terlihat diam, lama gadis tersebut memikirkan soal tawaran suami nya, hingga pada akhirnya secara perlahan dia mengangguk kan kepalanya.
"He em, baiklah". Ucap perempuan itu setelah nya.
"Katakan pada ku...." dan setelah itu Ahem kembali mencoba untuk melanjutkan kata-katanya, membiarkan dirinya terus menatap netra istrinya.
"apa ada yang kamu sembunyikan dariku saat ini sayang?" dia bertanya karena rasanya ekspresi istrinya saat ini sedikit berbeda.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Hayat sejenak membiarkan dirinya menatap suaminya untuk beberapa waktu, bisa dilihat bagaimana bola matanya mencoba menelisik wajah Ahem sembari dia berusaha untuk merangkai sedikit kata-kata.
"Mommy Nadya (Mommy Ahem) bilang daddy All (Daddy Ahem) ingin bertemu dengan ku dan bicara dengan ku" pada akhirnya perempuan tersebut mulai membuka suaranya bicara pada suaminya dengan ekspresi yang cukup serius.
mendengar ucapan dari istrinya tersebut seketika membuat laki-laki itu sejenak terdiam.
"Apa kamu yakin ingin datang menemui nya?" dan Ahem bertanya dengan jutaan ke khawatiran yang tinggi.
Dia tahu daddy nya pun tidak akan mudah untuk memberikan restu sama seperti daddy Hayat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Bundanya Pandu Pharamadina
rumah tangga tanpa restu orang tua🤔
2024-06-17
0
Budiwati
😘😘😘🤗
2023-05-22
0
Yuyun Yunita
didalam perut hayat ada baby nyx 🤗
2023-05-05
0