Yasmin hari ini pulang terlambat karena ada les tambahan yang ia berikan pada anak didiknya. Mood swing ibu hamil satu ini sedikit sensitif. Terkadang ceria, terkadang sedih bahkan marah-marah tak jelas.
Sepulang dari mengajar, ia berjalan kaki dan tak sengaja bertemu dengan Hasan tetangganya. Lelaki ini sejak lama menaruh cinta dalam diam pada Yasmin. Pernah sekali menyatakan cintanya sebelum Yasmin dinikahi Aldavi namun dengan tegas ibu guru satu ini menolaknya dengan tegas pula.
Akan tetapi bukan berarti hubungan keduanya memburuk karena penolakan cinta. Hasan sangat dewasa sehingga ia memahami bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Namun untuk membuang nama Yasmin dalam hatinya juga tidaklah mudah.
Keduanya bersikap seperti tetangga biasa. Bahkan mendiang Aldavi tak tahu bahwa Hasan menyukai istrinya. Yasmin pun tak pernah bercerita apapun pada Aldavi tentang perasaan Hasan padanya. Dikarenakan menurut ibu hamil satu ini hal itu bukan sesuatu yang penting. Hanya dianggap angin lalu semata.
"Usia kandunganmu sudah berapa bulan Yas?" tanya Hasan seraya keduanya berjalan berdampingan dimana lelaki ini sembari menuntun sepedanya.
"Empat bulan Kang Hasan. Ini minggu depan mau dibuatkan pengajian kecil-kecilan di mushola syukuran si utun," tutur Yasmin.
"Wah si utun sudah makin besar saja. Kamu juga terlihat makin geulis Yas," ucap Hasan memuji.
Ibu hamil yang dipuji pun mendadak mematung bukan berbunga mendengar pujian Hasan. Yasmin merasa akhir-akhir ini sikap suaminya tetap baik hanya saja jarang memuji atau menggombal lagi sejak kemarahan dirinya karena janda genit beberapa waktu silam.
"Apa Aa Davi tak menjenguk utun karena bodyku sudah tak seksi lagi sehingga ia malas menjamah? Atau ada wanita lain di luar sana yang sudah menyenangkan antena Mas Davi?" batin Yasmin berkecamuk resah.
"Yas, apa kamu bahagia dengan Davi?" tanya Hasan yang kemudian memecah keheningan.
"Maksud Kang Hasan?" tanya Yasmin dengan dahi mengernyit.
"Bukan apa-apa Yas. Akang perhatikan, Davi agak berbeda saja dari yang dulu. Akang berharap kamu bahagia selalu dengan Davi. Jika dia tak bisa membuatmu bahagia, akang siap menerimamu sama utun."
Yasmin begitu tertohok dengan penuturan Hasan barusan. Ia berjalan cepat tak menggubris Hasan.
"Yas tunggu. Jangan jalan cepat atau lari-lari. Inget kamu lagi hamil. Kasihan si utun!" teriak Hasan.
"Kang Hasan jangan pernah melewati batas atau menjelekkan suami Yasmin. Selamanya cinta Yasmin hanya untuk Aa Davi bukan yang lain. Permisi!" ucap Yasmin dengan tegas lalu berjalan meninggalkan Hasan.
Dari depan rumahnya, Aldava yang sedari tadi mondar mandir karena Yasmin belum juga tiba di rumah. Sebab biasanya Yasmin sudah pulang mengajar lebih dulu daripada ia pulang kerja dari perkebunan karet.
"Kamu jangan mondar-mandir seperti gasing atuh Davi. Lier saya lihatnya," cicit Pak Mandor Agus.
Akhirnya Aldava lega dari depan rumahnya ia melihat Yasmin berjalan cepat dan di belakangnya di susul Hasan. Keduanya tampak seperti pasangan yang tengah bertengkar saja. Itu yang ada di benak Aldava.
Banyak hal yang ia duga negatif terjadi diantara Yasmin dan Hasan namun ia coba berpikir positif dahulu. Khawatir tuduhannya salah malah makin runyam nantinya.
Akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa dirinya cemburu melihat ada lelaki lain mendekati Yasmin. Entah apa dia tengah merasakan jatuh cinta pada ibu hamil satu ini atau hanya rasa kagum. Dirinya masih berusaha menelaah sanubarinya.
"Aa Davi maaf Yasmin pulang telat. Apa Aa sudah nunggu lama?" tanya Yasmin dengan rasa bersalahnya dan sebelumnya ia sudah mencium tangan suaminya sebagai tanda baktinya seorang istri pada suami.
"Enggak kok. Aa baru sampai rumah sama Pak Mandor," ucap Aldava seraya menggandeng tangan Yasmin ke dalam.
"Eh Pak Mandor tumben ke sini. Ada apa?" tanya Yasmin cukup heran sebab sangat jarang Pak Mandor perkebunan singgah ke gubuk mereka kecuali sangat penting.
"Begini Yas, kebetulan ada proyek di Jakarta. Saya tak bisa ke sana karena Yani tengah kurang enak badan. Si Bos nyuruh Davi ke Jakarta gantiin saya dan juga setelah balik dari Jakarta jika sukses proyek di sana maka Davi nanti bisa naik pangkat juga," tutur Pak Mandor Agus.
"Gimana Yas, Aa boleh ke Jakarta sebentar gak?" tanya Aldava lirih.
"Berapa lama Aa di Jakarta?" tanya Yasmin sendu.
"Beberapa hari saja Yas tidak lebih dari satu minggu kok. Benar kan Pak Mandor?" tanya Aldava seraya melirik Pak Agus, sang mandor bini dua.
"Iya Yas. Kan sebentar lagi katanya kalian mau buat acara pengajian empat bulanan si utun. Davi pasti sudah pulang saat itu," ucap Pak Mandor meyakinkan.
"Janji ya Aa pulang sebelum acara pengajian si utun. Kalau enggak Yasmin ngambek pokoknya!" bentak Yasmin seraya menangis.
"Eh...eh kok Bunda nangis sih. Aa kan gak ke mana-mana. Aa janji akan segera pulang kan kangen sama Bunda sama utun juga," cicit Aldava.
"Beneran? Kalau gitu yuk jengukin utun sekarang mumpung Bunda juga lagi pengen," cicit Yasmin seraya menggandeng tangan suaminya hendak masuk ke dalam rumah mereka.
"Lanjutin gempur Yasmin sana. Davi kasih sangu kangen yang banyak ke Yasmin ya. Biar pas ditinggal ke luar kota si Bunda gak belingsatan nyari antenamu," ucap Pak Mandor ceplas ceplos seraya tertawa terbahak-bahak pamit pulang.
"Dasar mandor mesum," gerutu Aldava dalam hati.
"Astaga bagaimana ini?" batin Aldava yang tengah kebingungan mengatasi urusan jenguk menjenguk utun.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Yasmin kasih obat tidur aja... 🤭
2024-05-02
1
himawatidewi satyawira
waduuhhh..palung tumpulnya lg nyungsep sinyalnya yaas..
2024-02-06
2
himawatidewi satyawira
tenang yas..antene aa baru bisa nangkap sinyal kl dkt km
2024-02-06
2