Aldava tengah menikmati perannya menjadi buruh kasar di perkebunan karet. Dirinya sungguh merutuki sang asisten bahlulnya yaitu Lexi. Tega-teganya dia yang seorang CEO perusahaan terbesar se Asia bahkan namanya menjadi jajaran CEO paling tampan dan kaya raya lima besar dunia mendadak menjadi seorang buruh perkebunan karet.
"Awas kau Lexi jika tak segera mengubah pekerjaanku yang sekarang. Aku buang kamu ke kutub biar kawin dengan beruang," umpat Aldava dalam hati.
Kini dirinya tengah sibuk karena secara kebetulan hari ini perkebunan karet mulai panen raya. Yang biasanya para buruh akan bekerja lembur dalam jangka beberapa Minggu ke depan. Sebab pemilik perkebunan tidak mau menambah karyawan baru tentu saja karena keuntungan semata.
Alhasil para buruh yang ada menjadi pekerja rodi sebab uang lemburan juga tak seberapa nilainya. Mau tak mau demi sesuap nasi semua buruh akan menerima dengan legowo alias ikhlas berapapun yang diberi perusahaan.
Hal ini dikarenakan dominan pekerjanya tak bisa baca tulis alias buta huruf dan tak lulus sekolah. Yang lulus sekolah menengah atas hanya segelintir orang saja. Kebanyakan buruh kasar perkebunan karet adalah warga setempat yang rumahnya tak jauh dari area perkebunan.
Aldava tengah berkeringat deras kala tubuhnya yang gagah tengah menggotong getah karet dalam sebuah gentong besar menuju truk pengangkut menuju pabrik pengolahan hasil perkebunan karet.
Tangannya juga tengah pegal setelah mengangkat banyak ember getah karet ke sana kemari untuk dipindahkan.
"Tumben kamu lesu, Davi. Apa sedang sakit?" tanya Pak Mandor.
"Iya maaf Pak. Saya kurang enak badan," jawab Aldava asal.
"Pak? Sejak kapan kamu panggil saya Pak. Biasanya juga panggil Kang," tutur Pak Mandor dengan terkekeh lucu.
"Haha... Maaf Kang, saya sedikit enggak fokus. Lagi kepikiran istri di rumah tengah hamil," cicit Aldava sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Selamat ya Davi. Akhirnya tokcer juga kamu buat Yasmin bunting. Yang sabar ngadepin ibu hamil. Kalau lagi manja gak ketulungan. Kalau lagi ngambek sudah kayak singa menyantap mangsa," tutur Pak Mandor seraya tertawa terbahak-bahak.
Aldava pun ikut tertawa dan dalam hatinya membenarkan apa yang disampaikan Pak Mandor tersebut. Baru beberapa hari menjadi Aldavi saja, dirinya sudah dibuat tegang gak karuan berada di dekat Yasmin dan bingung mau ngapain sama istri orang.
Sore pun tiba, Aldava pulang ke rumah. Saat berjalan menuju rumah, dirinya pun di sapa beberapa tetangga wanita yang ada di kampungnya. Kebetulan Aldava hari ini berpakaian beda dari biasanya.
Aldavi terbiasa bekerja menggunakan kaos biasa terkesan lusuh yang longgar jika tengah panen raya. Namun jika urusan menemani Pak Mandor bertemu petinggi perkebunan atau hal lainnya yang bersifat resmi maka Aldavi terbiasa menggunakan kemeja kotak-kotak atau batik.
Nah, Aldava memakai kaos polo cukup ketat seukuran pas bo-dynya yang ia pakai bekerja hari ini untuk panen raya sehingga otomatis mengundang decak kagum dari kaum hawa yang melihatnya. Kaos yang dikenakan Aldava terkena cukup banyak keringatnya sehingga pe rut kotak-kotaknya sangat jelas kentara.
Beberapa janda muda bahkan wanita single di desanya yang rumahnya dilewati Aldava sengaja menggodanya dikarenakan hari ini dia sengaja berjalan kaki menuju perkebunan.
Di kediaman Aldavi memang ada sebuah motor butut hanya saja Aldava tak bisa mengendarai sepeda motor. Alhasil dirinya memilih berjalan kaki dan beralasan pada Yasmin ingin berhemat guna tabungan untuk persalinan dan kebutuhan si jabang bayi saat lahir nanti.
Tentu saja seorang Aldava tak bisa mengendarai motor karena sejak ia bisa membawa sebuah kendaraan dalam lingkup keluarga Mahesa, dirinya hanya mengikuti kursus menyetir mobil dan pesawat bukan motor.
Aldava tak terlalu menghiraukan sapaan para wanita g3nit di desa tersebut. Ia hanya memberikan senyum biasa kemudian berlalu tetap berjalan tanpa berhenti. Ia hanya ingin sampai rumah Yasmin dan segera mandi karena tubuhnya sangat gerah dan capek.
Rasanya tulang belulangnya akan remuk seperti patah jadi sejuta. Berharap dipijat tetapi meminta pijat dengan siapa pula. Tak ingin Yasmin yang memijat khawatir p@lung tumpul miliknya yang bangkit dan pasti susah untuk ditidurkan. Lebih bahaya lagi jika Yasmin yang merengek meminta dimesrai.
Ia melihat dari jauh Yasmin berdiri di teras rumah tengah menunggunya pulang. Aldava segera memasang senyum tampannya guna menyambut Yasmin. Dikarenakan ia belum tahu kebiasaan Aldavi seperti apa maka ia berusaha bersikap sewajarnya.
"Sore Bunda, kok cemberut gitu mukanya? Nanti cantiknya luntur lho," ledek Aldava.
"Akang ngapain saja lama di jalan tadi? Pasti lewat depan rumah janda genit itu terus mampir masuk!" sungut Yasmin dengan mencebik bibirnya seperti mulut iteuk yang lagi ngambek.
"Masuk ke mana?" tanya Aldava terkejut.
"Masuk ke d@sternya!" teriak Yasmin dengan nada kesal dan cemburu tingkat tinggi.
"Hah," Aldava terpelongo.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Rie_za
msuk dastermu sja dia tkut yasmin gmna bsa msuk dster jendes/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-05-03
1
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ngapain akang dafi masuk ke daster janda, neng Yasmin? 🤣🤣🤣🤣
2024-04-27
1
lily
yang sabar ya Dava ngadepin bumil haha
2023-11-14
2