"Astaga ibu hamil satu ini. Bukan aku yang hamilin tapi aku yang dibikin repot. Untung cantik, kalau enggak cantik aku lempar pakai sapu ijuk," batin Aldava tengah menggerutu namun juga cekikikan lucu melihat tingkah Yasmin yang tengah cemburu berat.
Yasmin langsung masuk ke kamar dan tidur rebahan ala-ala merajuk di kasur. Isak tangis terdengar di telinga Aldava membuat lelaki ini mengelus dada dan memperbanyak stok sabar. Lalu ia menyusul Yasmin ke kamar, beruntung tidak dikunci oleh bumil yang tengah sensi ini.
"Yas, kok kamu marah sih? Aa kan enggak ngapa-ngapain sama janda genit itu. Buat apa juga genit sama yang lain kalau yang di rumah saja gak ada habisnya bila Aa mau," tutur Aldava seraya mengelus punggung Yasmin yang tengah bergetar karena menangis.
"Aa itu sekarang lebih tampan dan gagah dari biasanya. Pasti di luar sana banyak suka dan pengen nikung Aa Davi dari Yasmin. Apalagi sekarang Yasmin gak cantik, enggak langsing tapi sudah mulai gendut pasti nanti Aa Davi gak puas sama Yasmin. Aku takut Aa pergi ninggalin aku," cicit Yasmin seraya menangis tersedu-sedu.
"Hei, lihat Aa. Apa kamu lihat Aa tukang playboy? Enggak kan. Tenang saja Yas, jiwa dan raga Aa sudah kepentok sama Neng Yasmin yang cantik ini," ucap Aldava lembut seraya mencolek dagu Yasmin ia angkat agar bisa langsung bertatap mata.
"Ah Aa, jangan gombal deh. Nanti Yas takut nyungsep kalau Aa ingkar janji atau bohongi Yasmin," desah Yasmin dengan helaan nafasnya.
"Cup..."
Aldava mengecup kening Yasmin dengan lembut dan cukup lama seraya memeluk bumil yang tengah sensi ini agar mereda.
"Aa cuma cinta sama Yasmin. Enggak ada yang lain karena yang lain belum tentu nerima diri Aa apa adanya. Banyak orang lain menerima hanya karena ada apanya. Apalagi calon Bunda yang cantik jelita harum mewangi ini sudah rela mengandung benih Aa yang hanya orang miskin," cicit Aldava lirih.
Yasmin mendengar suaminya berkeluh kesah dan merendah diri di hadapannya sungguh membuat dirinya merasa bersalah. Kini mata Yasmin berkaca-kaca sungguh ia melihat ketulusan cinta yang terpancar dari raut wajah dan mata suaminya. Tak ada kebohongan di dalamnya.
Semakin membuat dirinya terbang ke awang karena dicintai setulus jiwa raga oleh lelaki yang ia cintai juga. Walaupun Ayah kandungnya belum merestui suaminya secara seratus persen tetapi suaminya ini selalu memarahinya jika dirinya membangkang pada sang Ayah.
"Maafin Yas. Aku cinta Aa setulus hati," bisik Yasmin seraya membelai pipi suaminya dan mengecup bibirnya sekilas.
Tentu saja kelincahan Yasmin membuatnya mematung dan tertohok. Hatinya berdesir karena terasa begitu dicintai oleh seorang wanita untuk pertama kalinya tanpa melihat siapa dirinya yang seorang CEO kaya raya.
Hatinya sungguh membuncah dan mendoakan mendiang Aldavi serta berjanji sepenuh hati akan menjaga Yasmin dan buah hati mereka seumur hidupnya. Selepas segala urusannya selesai, ia akan mengatakan sejujurnya pada Yasmin siapa dirinya dan juga perasaannya pada wanita ini.
Aldava berharap Yasmin mau memaafkan dirinya. Bukan maksud ingin membohongi Yasmin tetapi hanya karena keadaan yang menurutnya begitu bukan karena keinginan diri pribadinya seperti ini.
Aldava membalas pelukan Yasmin dengan lembut lalu mengelus punggung bumil agar tidak terus bersedih.
"Bumil jangan menangis terus nanti si utun ngambek lho ikutan nangis di dalam sana," tutur Aldava seraya mengelus perut Yasmin.
"Iya Aa. Utun sama Bundanya gak nangis lagi kok sekarang. Yang ada Utun makin kangen berat nih sama Ayahnya. Sudah kangen ingin dijenguk di dalam diajak main bola sama Ayahnya," bisik Yasmin mesra di telinga Aldava.
"Ehm, kalau semisal Ayah gak jengukin si utun apa Bunda akan pergi ninggalin Ayah?" tanya Aldava lirih dan sendu.
"Hah, maksud Aa? Apa sekarang Aa hipertensi eh salah impoten maksud Yasmin," tanya Yasmin seraya melipat bibirnya dan memicing melihat suaminya yang tengah gegana.
"Astaga gegara Lexi dikira aku impoten. Yang benar saja. Bikin merem melek kamu sekarang kelojotan juga bisa Yas," batin Aldava menggerutu sebal karena dirinya dikatakan impoten.
"Enggak, sayang. Aa normal dan pria tulen kok. Kalau gak normal mana mungkin bikin kamu melendung hingga sembilan bulan mendatang," ucap Aldava seraya terkekeh yang dibalas cengiran dan senyum merekah Yasmin.
Bagaimana impoten? Jika dirinya bersentuhan atau melihat belahan d@da Yasmin saja membuatnya berdesir bahkan kemarin karena terlalu memeluk Yasmin serta dibalas pelukan erat ibu hamil satu ini yang saat tidur tangannya terus saja meraba perut kotak-kotak Aldava.
Alhasil sebelum Yasmin terbangun, pagi buta dirinya mencuci un-der wearnya sendiri sebab dirinya harus basah karena mimpi akibat ulah tangan jahil Yasmin.
Akhirnya bumil yang sensi sudah tak merajuk lagi setelah Aldava berikan ciuman hangat. Dengan terpaksa ia keluar sesaat dari batas ambang yang dibuatnya sendiri. Entah berapa lama dirinya nanti bertahan berdekatan dengan Yasmin dengan status seperti ini.
Semoga macan betina ini tidak mengamuk saja nantinya yang membuat dirinya kebingungan untuk memenangkan hatinya kembali dengan status yang nyata yaitu sebagai Aldava bukan Aldavi yang telah tiada.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sabar dava, ujianmu berat.
2024-04-27
2
himawatidewi satyawira
palung tumpul blm brani ngegosip ma megalodon jg basoka,msh nyungsep, kicep tp jg gelisah...
2024-02-06
1
himawatidewi satyawira
latihan untk piala dunia pra u 5 thn yas?
2024-02-06
1