Bab 9

"Bu, bagaimana jika seandainya calon menantu Ibu benar-benar berselingkuh, hingga sampai tidur dengan wanita lain?" tanya Lea meminta pendapat ibunya. Namun, reaksi ibunya justru tidak sesuai harapan, wanita paruh baya itu malah tertawa.

"Nak Daniel bilang, kamu juga menuduhnya demikian, tapi Ibu tidak percaya calon menantu Ibu melakukan hal serendah itu. Ibu sudah mengenal Daniel lebih dari 10 tahun, bahkan jauh sebelum kalian menjadi sepasang kekasih. Daniel itu anak baik-baik, dia tidak mungkin mengkhianati putri Ibu yang cantik dan baik ini," kata Ibu lalu menyentuh pipi putrinya dengan penuh cinta.

Melihat Ibunya begitu mempercayai Daniel ketimbang mempercayai dirinya sendiri, Lea tentu saja merasa sedih dan terluka. Entah apalagi yang Daniel katakan untuk mencuci otak kedua orang tuanya.

"Oh iya, besok nak Daniel akan membawa ayahmu untuk kontrol kesehatan, kamu bisa ikut menemaninya, 'kan? Mumpung akhir pekan." Ibu kembali berkata.

Lea mendengus kesal, Daniel benar-benar pintar sekali mengambil hati orang tuanya.

"Maaf, Bu, aku tidak sempat karena pekerjaanku sangat banyak," kata Lea sembari berdiri dari duduknya, kemudian dengan cepat berlari naik ke kamarnya.

"Loh, Lea! Besok 'kan hari minggu, Nak!" teriak Ibu, tapi tidak dihiraukan oleh Lea. "Anak itu. Dia benar-benar mewarisi sifat keras kepala ayahnya. Apa coba kurangnya nak Daniel? Sudah baik, tampan, mapan, kaya raya, sayang sama keluarga lagi. Dari mana lagi dia bisa mendapatkan pria seperti nak Daniel jika dia melewatkannya?" gumam Ibu berbicara sendiri.

Sementara itu di dalam kamarnya, Lea langsung melompat naik ke atas tempat tidurnya dengan posisi tengkurap sambil menangis. Wanita itu merasa sangat sedih. Dia sungguh tidak ingin lagi memperbaiki hubungannya yang telah rusak dengan Daniel. Dia tidak bisa memaafkan pria itu karena Daniel sudah merusak kepercayaannya. Dulu, dia mempercayai Daniel melebihi apa pun, namun sayangnya pria itu telah merusak! kepercayaannya, dan tidak ada kesempatan kedua untuk pria pengkhianat itu.

*

*

Setengah jam kemudian. Makan malam akhirnya dimulai. Lea memakan makanan yang ada dipiringnya dengan sangat lahap, malah lebih mirip orang kesetanan, makan terburu-buru hingga seisi rongga mulutnya dipenuhi makanan.

"Makannya pelan-pelan, Sayang," kata Daniel sembari mengusap punggung Lea dengan lembut.

Lea yang merasa semakin emosi karena disentuh oleh Daniel rasanya ingin menyemburkan semua makanan yang ada di mulutnya ke wajah pria itu, tapi dia masih bisa menahan diri karena tidak ingin dianggap gila oleh anggota keluarganya.

"Lea, makan yang benar," tegur sang ayah.

Lea hanya melirik ke arah ayahnya sebentar kemudian melanjutkan kembali makannya. Setelah makanan yang ada di mulutnya sudah dia telan semuanya, dia pun mengambil minum dan berkata sudah kenyang sembari berdiri dari tempat duduknya.

"Lea, tetap di tempat, ayah ingin bicara denganmu." Ayah berkata dengan penuh penekanan. Itu artinya, jika Lea berani membantah, pria paruh baya itu pasti akan langsung murka. Karena tidak punya pilihan lain, Lea pun akhirnya kembali duduk di kursinya menunggu yang lain kenyang seperti dirinya.

*

*

"Ayah dan Nak Daniel sudah berbicara." Ayah berkata saat semua orang sudah selesai dengan makanan di piringnya. "Ayah tahu kamu masih marah pada Nak Daniel, makanya kamu bersikap seperti tadi."

Lea terdiam, matanya kini tertuju pada tempat lain, bukan kepada salah seorang yang duduk di meja makan bersamanya, apalagi melihat ke arah Daniel. Lea terlalu muak dengan semua sikap pria itu sehingga menatap wajah Daniel saja dia merasa enggan.

"Ayah dan Nak Daniel sudah membicarakan untuk memajukan tanggal pernikahan kalian," kata Ayah yang berhasil membuat Lea mengalihkan pandangan dan menatap pria paruh baya tersebut. "Pernikahan kalian akan diselenggarakan akhir bulan depan, lebih tepatnya 1 setengah bulan lagi," tambah Ayah.

Karena emosi, Lea lantas berdiri dari duduknya. Sudah cukup dia menahan diri karena tidak ingin penyakit jantung ayahnya kumat. "Seharusnya Ayah berbicara denganku dulu sebelum mengambil keputusan."

Saking kecewanya pada kedua orang tuanya, Lea lebih memilih untuk naik ke kamarnya sebelum amarahnya meledak dan tidak bisa lagi dia kendalikan.

"Kak! Tunggu aku, Kak!" teriak Leon yang ikut berlari menyusul sang kakak.

"Jangan khawatir, Nak Daniel, kami akan berusaha membujuk Lea," kata Ibu pada calon menantu kesayangannya itu.

Daniel tersenyum. "Terima kasih, Bu, terima kasih, Ayah. Oh iya, saya punya sesuatu untuk Ibu dan Ayah. Tunggu sebentar."

"Apa itu?" tanya Ibu dan Ayah penasaran, sambil menatap punggung Daniel yang berjalan menuju sofa.

"Ini adalah ramuan herbal yang sangat bagus untuk kesehatan, saya memesannya di China khusus untuk Ibu dan Ayah." Daniel memberikan masing-masing paper bag berukuran sedang pada kedua orang tua Lea, dan hal itu tentu saja membuat ayah dan ibu semakin menyukainya.

'Kalau aku tidak bisa memenangkanmu dengan cara membujukmu, maka aku akan memenangkanmu kembali melalui kedua orang tuamu. Kamu hanya boleh menjadi milikku Lea, tidak boleh dimiliki oleh lelaki mana pun di dunia ini.' Batin Daniel.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Tak ada akar rotan pun jadi, itu yg dilakukan Daniel, merebut hati ke2 ortu Lea 🤔😄

2023-03-06

1

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

dasar laki-laki egois

2023-02-26

0

Rahmi Miraie

Rahmi Miraie

daniel kelaut aja kamu..ayo lea nending kabur aja atau pergi ketempat L

2023-02-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!