Bab 3

Keesokan paginya, saat Lea baru saja sampai di ruangannya, salah satu bawahannya tiba-tiba datang menghampiri sambil membawa bingkisan untuknya.

"Bu Lea, Anda mendapat bingkisan dari seseorang," kata Wina.

"Siapa, Win?" tanya Lea sembari meletakkan tas slempangnya di atas meja.

"Saya pikir bingkisan ini dari Direktur Emmanuel, Bu, karena tadi asistennya yang membawanya kemari," jawab Wina.

'Dia lagi. Mau apa lagi dia? Bukankah kemarin aku sudah menyesaikan urusanku dengannya.' Batin Lea.

"Bingkisannya saya letakkan di atas meja ya, Bu," kata gadis itu sebelum pergi.

Lea mengangguk. "Terima kasih ya, Win."

"Sama-sama, Bu."

Lea kemudian menatap bingkisan itu tanpa menyentuhnya. Dia bingung, antara membuka bingkisan itu atau mengembalikannya pada si pengirim.

Tiba-tiba ponsel Lea berdering, ada pesan dari nomor asing.

'Bukalah, jangan hanya menatapnya saja tanpa menyentuhnya.'

Lea langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Apa pria itu diam-diam sedang mengawasinya di suatu tempat sekarang? Pikir Lea, tapi dia tidak melihat keberadaan L di mana pun. Karena penasaran, Lea pun segera membuka kotak bingkisan tersebut. Lea sangat terkejut ketika mendapati isi dari bingkisan itu berisi uang cash senilai 30 juta, jumlahnya sama seperti nominal yang dia transfer pada lelaki itu kemarin. Bukan hanya 3 gepok uang saja, L juga meninggalkan pesan pada secarik kertas untuk Lea.

'Aku tidak membutuhkan uangmu, aku hanya ingin kau datang menemuiku.'

Srek, srek. Lea langsung menyobek kertas itu usai membaca isinya.

"Sebenarnya apa maunya pria brengsyek itu?" Masih pagi tapi sudah ada yang membuat wanita itu kesal, belum selesai masalahnya dengan mantan tunangannya, kini L tiba-tiba datang dan membuat hidupnya semakin rumit.

Dengan perasan kesal campur aduk, Lea berjalan cepat membawa bingkisan itu menuju lift, detik ini juga, wanita itu akan datang menemui L di kantornya, tepatnya 2 lantai di atas kantor Lea. Namun, begitu lift terbuka, kekesalan Lea semakin menjadi saat melihat mantan tunangannya tiba-tiba muncul di sana.

'Ya Tuhan, dosa apa yang sudah aku perbuat? Kenapa pagi ini aku begitu sial?'

Lea segera memutar badan. Usai memutuskan hubungannya dengan Daniel karena Daniel berselingkuh dan tidur dengan wanita lain, rasanya Lea sudi lagi bertemu apalagi melihat wajah pria pengkhianat itu.

"Sayang, tunggu!" panggil Daniel sembari menarik pergelangan tangan Lea dari belakang.

"Lepaskan!" Lea menghentakkan tangan Daniel, tapi tidak berhasil terlepas karena Daniel mencengkramnya dengan cukup kuat.

"Sayang, tenanglah. Ku mohon. Ayo kita bicarakan masalah kita baik-baik," bujuk Daniel.

"Berhenti memanggilku seperti itu, aku jijik mendengarnya!" tegas Lea. "Dan satu lagi, tidak ada lagi yang mesti kita bicarakan. Bukankah malam itu sudah jelas, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi."

Sadar bahwa sekarang mereka jadi pusat perhatian karyawan lain, Daniel pun menarik tangan Lea menuju tempat sepi, lebih tepatnya di depan toilet. Sepanjang dia menarik tangan Lea, wanita itu terus saja berteriak memakinya.

"Lea, tenanglah. Apa kamu tidak malu kita menjadi tontonan banyak orang?" tanya Daniel.

"Tidak! Aku sama sekali tidak malu! Aku justru merasa malu kalau kembali percaya pada omongan laki-laki menjijikkan seperti kamu!"

"Azalea!" bentak Daniel tanpa sengaja, melihat wanita itu terkejut karena teriakannya, Daniel buru-buru minta maaf. "Sa-Sayang, a-aku minta maaf, aku tidak sengaja membentakmu."

Melihat Daniel kasar dan membentaknya, air mata Lea seketika luruh. Hatinya yang tadinya sakit karena pengkhianatan pria itu kini semakin sakit karena bentakannya.

"Aku benci padamu, Daniel. Aku benci! Pergi dari hadapanku sekarang juga! Aku tidak sudi melihatmu!" Lea kembali berteriak.

"Tidak Sayang, aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkanku." Daniel berusaha memeluk Lea tapi wanita itu malah mendorong dadanya kuat-kuat.

"Jangan sentuh aku brengsyek!" Lea masih saja berteriak disela-sela tangisannya.

"Ada apa ini? Pengawas Lea, kenapa kamu menangis?" Seorang pria tiba-tiba muncul diantara pertengkaran keduanya.

"Direktur L, tolong aku. Tolong usir laki-laki ini. Dia ingin berbuat kurang ajar padaku." Lea meminta perlindungan seraya memeluk lengan L.

"Sa-yang, kamu ini bicara apa? Jangan mengarang cerita."

"Hey, Bung, bukan laki-laki namanya kalau kasar pada perempuan, apalagi mau melecehkannya. Silahkan pergi baik-baik dari tempat ini atau aku akan memanggil petugas keamanan," ancam L.

"Aku sarankan sebaiknya kamu tidak usah ikut campur dengan urusan pribadi orang lain. Dia itu calon istriku. Mengerti?" Daniel yang tidak mau kalah mencoba memperingati L dengan emosi.

"Aku bukannya mau ikut campur urusan kalian, tapi Pengawas Lea sendiri yang meminta bantuanku. Tapi, jika kau berpikir bahwa aku terlalu banyak urusan, sebaiknya aku pergi saja. Urus saja urusan kalian berdua. Dan sekali lagi aku ingatkan padamu sebagai sesama laki-laki, tolong jangan kasar pada perempuan. Kamu juga mengerti, 'kan?" balas L. Dia kemudian mencoba melepaskan tangan Lea yang melingkar di lengannya, tapi wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Tolong, lindungi aku," pinta Lea dengan wajah memelas.

Melihat wajah Lea yang ketakutan, L jadi kasihan melihatnya. "Sebenarnya aku tidak mau ikut campur urusan kalian berdua, tapi kamu lihat sendiri 'kan kalau dia meminta aku untuk melindunginya? Jadi aku mohon, tolong pergi dari sini sekarang juga. Jika kalian ingin membicarakan masalah kalian baik-baik, tunggu sampai dia merasa lebih tenang."

Daniel mendengus kesal. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk dirinya menyelesaikan masalahnya dengan Lea. Pria itu lantas segera pergi dari sana.

"Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanya L pada Lea, dan wanita itu hanya menggeleng.

Begitu Daniel sudah hilang dari pandangan mereka, L lantas menuntun Lea kembali ke ruangan wanita itu. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu mengambil bingkisan yang tadinya Lea jatuhkan saat memberontak ingin melepaskan diri dari Daniel.

Lea nampak shock setelah bertemu dengan Daniel, air mata wanita itu terus saja mengalir membasahi pipinya.

"Duduklah dulu dan tenangkan dirimu." L berkata saat dirinya menuntun Lea untuk duduk di kursi wanita itu. "Istirahatlah, aku akan menyuruh bawahanmu untuk membawakanmu minum."

Ketiak L hendak meninggalkan ruangan Lea, wanita itu lantas berkata, "Direktur L, terima kasih banyak sudah menolongku."

L tersenyum. "Sama-sama."

*

*

Setelah menghabiskan akhir pekannya dengan memikirkan jalan keluar masalahnya, Lea akhirnya memutuskan untuk mengembalikan bingkisan berisi uang 30 juta itu kepada L, sekaligus dia ingin mengucapkan terima kasih karena pria itu pernah menolongnya saat Daniel datang mengganggunya.

Ruangan Direktur Emmanuel. Sekretaris L masuk ke dalamnya setelah mengetuk pintu.

"Pak, di luar ada Pengawas Lea yang ingin bertemu dengan Anda," kata sekretaris L.

"Suruh dia masuk."

"Baik, Pak."

Tidak berselang lama, Lea pun masuk ke dalam ruangan pria itu.

"Se ... lamat pagi, Direktur L," sapa Lea agak canggung.

Sebelum membalas ucapan selamat pagi wanita itu, L terlebih dahulu menatap ke arah wanita tersebut. Melihat Lea datang sembari membawa bingkisan yang dia kirim minggu lalu, L sudah bisa menebak apa tujuan wanita itu datang menemuinya, dan hari ini memang sudah dia tunggu-tunggu sejak 3 hari yang lalu.

"Pagi, silahkan duduk." L bangkit dari duduknya, kemudian duduk di sofa yang bersebarangan dengan tempat Lea duduk.

Selama beberapa saat suasana canggung menyelimuti hati wanita itu, bingung juga harus mulai berbicara dari mana karena biar bagaimana pun dia berhutang budi pada lelaki itu.

"Mm ... terima kasih banyak, Pak, karena sudah menolong saya tempo hari." Lea berkata sembari mendorong kotak kue yang dia jadikan sebagai ucapan terima kasih atas jasa L. "Dan ... maaf, saya harus mengembalikan ini karena saya tidak mau masalah kesalahan malam itu jadi berkepanjangan."

L tersenyum kecut seraya berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekat ke arah Lea. "Aku heran, kenapa kau terus saja menganggap bahwa malam itu adalah sebuah kesalahan?"

Terpopuler

Comments

Nila

Nila

salah tetap salah jadi jangan dulangi. buat sebagai pelajaran

2023-03-21

1

Ray

Ray

Sebuah kesalahan tetapi kesalahan yg enak walau tanpa sadar melakukannya karena pengaruh alkohol🤔😄🙏

2023-03-06

0

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

lanjut thorrrr kuh

2023-02-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!