Bab 7

Usai makan bersama di restoran, Lea akhirnya membawa L untuk melihat-lihat isi rumahnya. Begitu melewati pintu, L langsung tersenyum smirk saat melihat bingkai-bingkai foto Lea bersama Daniel yang masih terpajang di ruang tamu.

"Rumah yang dibeli bersama saat merencakan pernikahan, kemudian dijual kembali saat pernikahan itu batal. Bukankah kedengarannya sangat lucu?" kata L lalu tertawa.

Lea yang kesal karena merasa L sedang mengolok-oloknya pun langsung merebut bingkai foto miliknya yang saat ini ada di tangan pria itu.

"Kalau niatmu datang kemari hanya untuk menertawakanku, lebih baik kau pulang saja. Kita batalkan saja rencana jual beli ini," kesal Lea.

"Loh, kenapa harus dibatalkan? Aku sama sekali tidak ada niat untuk membatalkan niatku untuk membeli rumah ini. Berapa pun harganya, aku akan tetap membelinya darimu."

Lea kembali mendengus kesal. Pria ini benar-benar sangat menyebalkan. Apa jangan-jangan dia memang sengaja ingin membuat hidup Lea tidak tenang semenjak kesalahan malam itu.

Lea melenggang masuk ke dalam, dan L pun mengekor di belakangnya.

"Rumah ini memiliki dua kamar, 1 di lantai bawah dan satunya lagi di lantai atas," jelas Lea. Usai menunjukkan kamar utama yang ada di lantai bawah, Lea lantas mengajak L untuk naik ke lantai dua. "Di dalam kamar ini terdapat dua tempat tidur minimalis, cocok untuk anak-anak," jelas Lea.

Prok prok prok. L tiba-tiba saja bertepuk tangan sambil tersenyum dan berkata, "Luar biasa. Ternyata kalian juga sudah memikirkan hal ini dengan matang rupanya. Pernikahan yang menghasilkan dua orang anak. Hem ... sepertinya menyenangkan. Sekarang di benakku yang muncul adalah keluarga bahagia dengan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, yang laki-laki mirip ibunya dan yang perempuan mirip ayahnya. Ah, membayangkannya saja rasanya sangat menyenangkan."

Lagi-lagi Lea harus menarik napasnya dalam-dalam, laki-laki yang satu ini benar-benar suka sekali mengolok-olok dan menguji kesabarannya.

"Bagaimana, apa Tuan Emmanuel masih tertarik untuk membeli rumah ini?" tanya Lea yang tetap mencoba untuk bersikap seramah mungkin meski calon pembeli itu sangatlah menyebalkan.

"Tentu saja aku tertarik, dan aku sangat meyukainya. Meski pun rumah ini tidak begitu mewah, tapi aku menyukai rumah dengan konsep modern dan keluarga bahagia seperti ini. Sepertinya ke depannya aku harus merencanakan punya dua orang anak setelah menikah," ucap L sembari tersenyum menatap Lea dengan penuh arti.

Lea yang salah tingkah karena terus-terusan saja ditetap oleh L tiba-tiba saja berdehem. "Ehem. Baiklah, Tuan Emmanuel, untuk transaksi jual belinya bisa kita lakukan lusa setelah akhir pekan."

"Tidak masalah. Kau aturlah waktu dan tempat kita bertemu," kata L.

*

*

Usai bertemu dengan calon pembeli, Lea akhirnya kembali ke apartemennya. Wanita itu sedikit terkejut dengan keberadaan ibu dan adiknya yang saat ini sedang menyiapkan makan malam.

"Kakak, akhirnya kau pulang juga. Ibu dan ayah sudah menunggumu sejak tadi," kata Leon, adik kandung Lea.

"Kenapa kalian datang tanpa memberitahuku? Kalau begitu 'kan aku bisa berbelanja kebutuhan dapur," ucap Lea.

"Tidak perlu repot-repot, tadi sore sebelum datang kemari, Ibu memang sudah berbelanja. Ibu tahu kau sangat sibuk, jadi Ibu tidak mau merepotkanmu," kata Ibu.

Lea lantas berjalan mendekati ibunya, dia ingin melihat apa yang sedang dimasak oleh wanita paruh baya itu.

"Wah, Ibu baik sekali. Aku memang sudah lama tidak memakan sup daging buatan Ibu." Lea memeluk ibunya karena wanita paruh baya itu memasak makanan kesukaannya malam ini. "Oh iya, Bu, ayah mana?" tanya Lea kemudian.

"Ayahmu sedang duduk di balkon," jawab Ibu.

"Kalau begitu aku ingin menemui ayah sebentar, Bu." Lea melepaskan pelukan pada sang ibunda, dengan wajah tersenyum wanita itu hendak berjalan menemui ayahnya yang sudah seminggu lebih tidak bertemu dengannya, namun langkah Lea seketika terhenti saat ibunya memanggilnya.

"Lea, tunggu dulu."

"Ada apa, Bu?" tanya Lea.

"Itu," Ibu menunjuk dua cangkir teh yang ada di atas meja, "tolong bawa teh itu jika kau ingin keluar menemui ayahmu."

Kening Lea mengerut. "Kenapa cangkirnya ada dua, Bu?"

"Satu untuk ayahmu dan satunya lagi untuk nak Daniel," jawab Ibu.

Deg.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Masih berjuang kau Daniel🤔😄
Semangat💪🙏

2023-03-06

1

Ajusani Dei Yanti

Ajusani Dei Yanti

dasar danil laki-laki egois

2023-02-26

0

Rahmi Miraie

Rahmi Miraie

ngapain daniek diaitu sedang meminta bantuan kah kpd ayah kea untuk melanjutkan pernikahannya

2023-02-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!