semua yang ada di ruangan itu terlihat bahagia mendengar penuturan bibi tadi,tapi tidak dengan raut wajah ayah kandung ku itu,ada kegelisahan di sana
"kapan kau akan menikah nak... kami akan datang ke pernikahan mu itu" ucap salah seorang yang tadi mengambilkan air minum untuk ayah ku
"aku hanya perlu suara nya untuk menjadi wali nikah ku,cukup suara,tak perlu ada yang hadir" ucap ku datar,mereka kini saling menatap satu sama lain lalu pandangan mereka tertuju kepadaku
"tapi kenapa nak... apa begitu bencinya terhadap kami hingga kau tak ingin kami hadir di pernikahan mu" wajah wanita yang merupakan adik ayah ku itu kini terlihat masam
"kenapa harus membenci orang yang tidak pernah ku kenali,entah kalian ada atau tidak dalam hidup ku tidak akan mengubah takdir dan kebenaran bukan" ucap ku lagi sambil menatapi mereka satu persatu
"apa maksud mu nak...?" kini wanita tua yang sedari tadi tak henti menatapku bertanya
"tak perlu ku jelaskan semua itu nek,andai saja kalian ada di posisi ku,aku hanya ingin orang yang berhak menjadi waliku,menikah kan ku hanya lewat sambungan telfon saja tidak lebih" ucap ku lagi
"nak... tak mau kah kau mengenal kan kami pada laki-laki pilihan mu,biar kan ayah melakukan kewajiban ayah terhadap mu dengan sempurna,setidak nya untuk kali ini saja,mungkin inilah yang pertama dan terakhir dalam hidup ayah,juga dalam hidup mu" ucapan pria yang sedari tadi terlihat murung membuat semua hening,aku hanya menatap nya tanpa bergeming
"mungkin sesudah nya ayah tak akan lagi melihat mu,biarkan ayah merasakan bahagia sekali saja" pria itu kembali bersuara,ada pilu yang teramat dalam ku lihat di mata itu
"sebenar nya kondisi ayah mu semakin hari semakin memburuk,kami tak mampu memberikan pengobatan yang bagus buat ayah mu" ucap wanita yang merupakan adik dari ayah ku itu
"maksud nya..?" bibi yang sedari tadi diam ikut berbicara
"penyakit bang danus sudah semakin parah,karena kami tak mampu mengobati nya,dia di tinggal kan istri termudanya setelah semua harta ia keruk,saat itu bang danus sudah mulai sakit-sakitan dan dia memutuskan kembali ke kampung ini,bang danus sekarang mengisi waktunya dengan membuta jaring pesanan nelayan" ucap adik dari ayah ku lagi
"mungkin itu karma bagi ku may,aku telah telantarkan anak dan istriku,bukan hanya Tina dan ira,tapi juga istri dan anak ku yang sebelum nya" kulihat ada penyesalan di wajah yang masih terlihat tampan walaupun sudah dimakan penyakit dan usia itu
"tidak ada yang sempurna di dunia ini bang,semua manusia pernah berbuat ke kekhilafan,yang penting kita ada ke inginan untuk bertaubat" bibi ku may kini menatap pilu kepada ayah ku itu
"bagai mana nak... boleh kah ayah menikah kan mu secara langsung?"
ucap ayah ku itu lagi aku hanya bisa menarik nafas dalam,masih tak tau harus menjawab apa
"bang danus... Ira tidak akan menikah di sini,dia akan pergi ke kota lain dan menikah di sana" ucap bibi coba menjelaskan situasi ku
"apakah jodoh mu orang dari kota itu nak?" tanya ayah ku lagi,aku hanya bisa mengangguk kan kepalaku,tak ingin memberi tau mereka apa yang sebenar nya terjadi
"baik lah... kamu bisa hubungi ayah saat akan ijab kabul nanti,ayah akan menjadi wali mu" aku merasa lega dengan ucapan ayah ku itu,kini satu lagi masalah sudah bisa aku selesaikan,entah bagai mana ke adaan ibu sekarang di rumah,tadi bibi meminta izin akan mengajak ku ke pasar untuk menemani bibi belanja,sudah tiga jam kami pergi dari rumah,mungkin ibu sekarang sedang mengkhawatirkan ku
***
"kamu dari mana saja Ra,ibu sudah bolak balik kerumah bibi mu tapi kalian belum pulang" ibu menyambut ku dengan raut khawatir
"bibi banyak belanja tadi Bu,kami juga singgah sebentar di warung bakso karna lapar dan kecapean" ucap ku beralasan
"memang nya belanja apa bibi kamu tadi sampai selama itu?" tanya ibu lagi penasaran
"bibi belanja keperluan dapur sama ada beberapa barang lain,kami lama karna barang yang bibi mau enggak ada di satu toko,kami harus pindah ke beberapa toko baru ketemu Bu,makanya lama" lagi lagi aku membohongi ibu
"masalah nya ayah mu dari tadi nelfon nanyain kamu" aku melihat wajah ibu sekilas karena terkejut,lalu cepat ku palingkan wajah agar ibu tak menyadari ke gelisahan ku
suara ponsel ibu kembali terdengar,aku yakin pasti itu dari ayah tiri ku,ku lihat ibu berlari kecil dari dapur ke ruang tengah untuk mengambil ponsel nya
"assalamualaikum yah... iya Ira udah pulang ni yah,iya ibu akan jaga anak-anak yah,ayah kapan oleh palang?" begitulah pembicaraan sepihak yang ku dengar dari ibu,entah apa yang ayah tanya kan pada ibu
"malam ini ayah mu pulang,pekerjaan nya sudah selesai" ucap ibu dengan senyum bahagia,sedang aku sedang dengan suasana jantung yang tak karuan berdetak khawatir,jangan sampai ayah mengajakku lari sebelum Aril membawaku pergi
aku memperhatikan sekeliling, keadaan rumah sepi karena jika sore hari ibu biasanya duduk ngerumpi dengan ibu-ibu di rumah depan,aku akan kembalikan ponselku ke lemari pakaian ayah agar ayah tak curiga,sekarang aku akan menggunakan ponsel yang ku beli second dengan Aril kemarin,tak mengapa bekas pakai yang penting aku bisa menghubungi Aril dan bibi saat aku akan pergi,aku juga membeli SIM-card baru untuk ponsel itu
Aril entah apa kabar nya,hari ini sangat menguras tenaga dan air mata mengingat drama pertemuan ku dengan ayah kandung,sampai lupa mengabari Aril
[assalamualaikum Ira,kamu sudah di rumah?] pesan masuk di aplikasi hijau itu ku balas dengan cepat
[ sudah bang,semua baik-baik saja,ayah kandung Ira bersedia menjadi wali nikah Ira nanti] balas ku tak ingin pria yang ku cintai itu merasa khawatir
[Alhamdulillah... ibu juga sudah Abang kasih pengertian dan mau mengizinkan Abang pergi Ra]
[syukurlah bang,kapan kita akan pergi? ayah mungkin malam ini pulang Ira semakin khawatir]
[secepat nya,kamu tunggu aja nanti Abang kabari kamu,jangan lupa ponsel nya kamu sembunyikan jangan sampai ayah kamu lihat]
[baik bang...] kami menutup percakapan dan aku segera me membunyikan ponselku di dalam tas yang sudah lama tergantung dan tak ku pakai
entak jam berapa saat ayah mendatangi ku yang sudah terlelap,ayah meminta ku mengikutinya kebelakang seperti biasa dia lakukan setiap ingin melampiaskan hasrat nya
mataku masih sangat mengantuk setengah sadar aku ikut saja kemauan pria itu,ternyata dia benar-benar pulang malam ini dan langsug aku yang menjadi tujuan nya
hampir satu jam aku melayani kemauan ayah tiriku walau dalam hati ku menjerit tak mau,aku pikir dia tak akan bisa menjamah lagi tubuh ku,tapi ternyata masih saja karna aku masih di sini
usai memakai kembali pakaian yang tadi ia lepas kan ayah berjalan menuju lemari dapur yang di isi berbagai peralatan oleh ibu,kulihat tangan nya meraih sesuatu yang ada di atas lemari itu,sebuah amplop berwarna coklat kini ada di tangan ayah,amplop yang ukuran nya cukup tebal,ayah berjala ke arah ku dan menyerah kan amplop itu
"ini uang sepuluh juta,kamu yang pegang,agar kamu yakin ayah tidak akan menyia-nyiakan kamu,kita akan berangkat ke kota Medan dua hari lagi,besok ayah akan beli tiket,uang itu buat bekal kita di sana nanti" aku menerima amplop itu dengan mulut menganga,sepuluh juta untuk kawin lari dengan ayah tiri kini ada di tangan ku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Diastin
bwa lari sma aril aj ira...
2023-02-22
1