"Ira... kamu sama bang Aril itu beneran pacaran?" pertanyaan sarah sontak membuat ku kaget,lalu wajah ku tersipu malu.
"siapa yang bilang sar.. enggak kok" aku memang tak ingin ada yang tau mengenai hubungan ku dengan Aril,walau sudah sepuluh bulan kami bersama tapi masih menjadi rahasia,bahkan teman satu kerjapun tak mengira kami pacaran,mereka hanya tau kalau kami dekat karena bang Aril Abang teman ku Sarah ini
"alah ... udah ngaku aja,pakek di sembunyiin lagi" aku tak bisa menjawab perkataan gadis yang sedang melirikku nakal itu
"aku setuju kok,kalo kamu jadi kakak ipar ku" ucap sarah lagi seraya menyenggol lengan ku
"apa sih sar,jadi kamu kesini cuma mau nanya itu ya sama aku,kirain kangen aku" ucap ku lagi dengan muka cemberut
"ya kangen lah,udah lama kita enggak ketemuan kan" tadi sarah memjemput ku ke rumah karena kebetulan aku cuti kerja,ayah sedang tak di rumah,jadi aku bisa keluar dengan sarah,sesekali melepaskan penat
kami duduk di kafe yang biasa kami tongkrongi waktu masih sekolah dulu,menikmati segelas jus pokat kesukaan kami,biasanya selalu aku yang traktir sarah setiap kami jalan berdua gini,karena ayah selelu memberikan ku uang,tapi kali ini sarah menolak,dia minta membayarkan minuman ku
"jadi ia kan kamu pacaran sama Abang ku!?" tanya Sarah lagi masih penasaran karena belum ku jawab sedari tadi
" ya... gitu lah sar,tapi kami masih rahasiakan hubungan ini,kamu tau kan ayah ku gimana"
"ya aku tau... bang Aril udah ceritain semua sama aku,ibu ku juga udah tau kok,dan ibu setuju" mata ku berbinar mendengar pernyataan Sarah,ternyata bang Aril juga sudah memberitahukan ibunya mengenai hubungan kami.
Meraka setuju... Tantu saja karena sudah lama mengenal ku,aku dan Sarah sudah bersahabat sejak SMP aku memang sangat dekat dengan ibu Sarah karna dulu sering mendatangi rumah mereka,tapi jika mereka tau seperti apa aku ini,apa mereka masih mau menerima ku,dan bang Aril... entah lah,jika dia tau aku tak seperti yang dia gambarkan mungkin dia akan meninggalkan aku juga,lagi pula buat apa aku berharap terlalu jauh,toh ayah tidak akan pernah mengizinkan ku memiliki kekasih, biasa-biasa ayah menghabisi aku karna kemurkaannya
seketika aku menjadi murung mengigat hal itu,sebenarnya untuk apa ku jalin hubungan dendan Aril jika aku tau tidak akan berakhir bahagia seperti impian ku,tapi hati tak bisa di bohogi bahwa ada cinta yang bersemi indah di hatiku untuk nya,cinta yang kuharap bisa membawaku kedalam kebahagian,walau itu mungkin cuma hayalan tapi tak salah kan jika aku berharap
" kenapa kok berubah sedih gitu sih Ira... ada yang salah sama omongan ku" tanya Sarah heran dengan perubahan sikap ku
"enggak sar,enggak tau tiba-tiba sedih aja" ah... kenapa pula harus kutunjuk kan kegusaran ku pada Sarah,bukan kah kami hari ini ingin bersenang-senang
"assalamualaikum..." sebuah suara datang dari arah belangkang tempat kami duduk,suara yang tak asing bagiku,benar saja saat kutoleh kan wajah pria bertubuh jangkung itu sedang tersenyum manis kepadaku
"bang Aril.. kok disini" pria yang berstatus pacar ku melirik kan matanya pada Sarah yang sedang menampak kan sebaris gigi nya menertawakan ku
"jawab dulu salam nya" mata teduh itu memandang ku dalam
"eh... waalaikum salam.." aku sampai lupa membalas salam nya karena kaget dia bisa ada di sini
"aku yang kirim pesan ke abang tadi kalau kita lagi nongkrong di sini,lagi pula udah lama pacaran kalian enggak pernah kan makan di luar gini" aku hanya mengangguk, memang tak pernah karna aku selalu menolak ajakan Aril, alasannya tak ada lain yaitu ayahku
Aril duduk tepat disampingnku yang di sambut oleh waiters dengan brosur menu yang ia tawarkan,aku jadi risih karna tak pernah duduk berdua dengan nya di keramaian seperti ini,bahkan bisa dikatakan ini pengalaman pertamaku duduk dengan cowok di kafe,walaupun ada Sarah di seberang meja sana,bahagia pasti,tapi ada sedikit khawatir di hati ku,dan seperti nya Aril menyadari itu
"Abang enggak lama kok,bentar aja... ni udah mau masuk kerja lagi" ucap nya seperti mengerti kegundahan ku,Aril memang memakai seragam kerja,jam istirahat nya dia manfaat kan untuk menjumpai kami
"iya bang... enggak apa" dia sudah ada di sini tak mungkin aku menolak kehadiran nya
kami berbicara banyak sambil sesekali tertawa karna ulah Sarah,dia memang sangat dekat dengan Abang nya,kedekatan yang jarang ku jumpai pada hubungan adik Abang lain
"Abang pamit ya,kalian jangan kelamaan tu pulangnya" ucap Aril seraya bangkit dari duduk nya
"baik Abang ku sayang... bentar lagi kami juga pulang kok" jawab Sarah dengan seyuman manis nya,kulihat bang Aril menghampiri kasir terlebih dahulu sebelum meninggal kan kami
"udah di bayar ya..." ucap nya sambil berlalau
***
aku tiba dirumah di antar Sarah dengan motor nya,kulihat ayah sedang duduk di teras depan dengan muka tak bersahabat,aku yakin dia pasti marah karna aku keluar dengan Sarah tanpa meminta izin
"dari mana...?" aku bahkan belum turun dari motor ayah sudah menayakan dari mana aku pulang
"dari cafe yah..." lelaki itu beranjak masuk kerumah masih dengan wajah masam nya
"Ira... ayah kamu kayak nya marah ya kalo aku jalan sama kamu,tapi dulu ayah mu enggak gitu deh Ra" wajah Sarah nampak khawatir melihat sikap dingin ayah ku tadi,memang dulu ayah tak mempermasalahkan kalau aku di ajak Sarah jalan,tapi sekarang ya seperti itu,ayah berubah posesif,jika bisa dia akan mengurung ku saja mungkin
"enggak apa sar,mungki ayah ku memang lagi kesal aja, jangan di ambil hati" Sarah hanya mengguk seraya menghidup kan motor nya lalu pulang
"kamu kenapa enggak izin ayah dulu mau keluar sama si Sarah itu!?" tanya ayah sambil berkacak pinggang,kebetulan tak ada ibu dirumah,jadi dia bebas bersuara semaunya
"Ira udah izin ibu yah..." jawabanku seraya masuk ke kamar,baru dua langkah aku masuk ayah menarik tangan ku kasar
"aduh... sakit yah!" Ako coba melepas kan tangan ku dari cengkraman nya.
"kamu tadi sebenar nya kemana!?" ayah masih tak melepaskan tangan ku,Semakin hari perlakuan nya semakin kasar pada ku
" Ira cuma duduk di kafe yah,Ira enggak kemana-mana" aku masih mencoba menarik tangan ku yang mulai merah karna di cengkram ayah kuat
"awas aja kalua ayah tau kamu bukan cuma sama Sarah tadi!!" bentak ayah lagi
"assalamu'alaikum..." suara ibu terdengar dari teras rumah,ayah langsung melepas kan tangan ku dan beranjak keluar kamar secepat kilat
"udah pulang Bu..." sambut ayah menjumpai ibu yang sudah di pintu masuk
"iya udah pulang... ngapain ayah dari kamar anak-anak" tanyata ibu melihat ayah tadi Baru keluar dari kamar ku
"oooh... ini ayah nyari mancis tadi di mainin azka" pandai sekali dia membuat alasan,bukan nya dia tadi barusaja menyakiti ku
"Ira udah pulang yah .. tadi dia keluar sama Sarah"
"udah bu,tadi ayah lihat di kamar lagi rebahan" aku mendengarkan saja percakapan mereka dari kamar
"anak-anak udah pada makan belom yah,kemana mereka kok enggak di rumah"
"udah Bu,udah makan tadi,lagi main di luar mungkin Bu" ayah dan ibu lalu masuk ke kamar mereka,entah apa lagi yang mereka obrol kan aku sudah terlelap karna kelelahan
aku ketiduran sampai sore,terbangun karna suara adzan ashar,tadinya ingin kekamar mandi untuk membersihkan kan diri,lalu berwudhu dan sholat,tapi ku urung kan niat ku karna mendengar percakapan ibu dan ayah
"yah ibu heran lihat Ira,dia kan udah dewasa,tapi belum pernah ibu lihat Ira dekat sama laki-laki" perkataan ibu sayup ku dengar dari kamar ku
"maksud nya ibu mau Ira pacaran!?" suara ayah sedikit meninggi mendengar ibu mengatakan hal itu
"ya enggak gitu juga yah,tapi kan anak seusia Ira itu biasanya udah punya teman dekat" ibu mungkin berfikir seharus nya aku sudah punya pacar seperti teman sebaya ku yang lain,mereka bahkan ada yang sudah menikah,andai ibu tau apa yang sudah ayah lakukan kepadaku
"ah... udah lah ngapain ibu bahas masalah ini,terserah dia mau pacaran atau enggak!!!"
tummm...!!! suara dentuman daun pintu terdengar sangat keras,pasti ayah yang melakukan nya,kemudian ayah menyalakan motor nya meninggalkan rumah dengan kemarahan
"kenapa pulak dia marah gitu kalau anak nya pacaran,mau di jadiin perawan tua memang nya" ucap ibu dan suasana pun hening
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments