ku tatap lekat wajah ibu Aril,beralih menatap wajah Sarah,lalu wajah ibu ku,ketiga nya tampak sangat bahagia,sedang aku,apakah aku harus bahagia? bagai mana bisa... hal yang mereka sedang bicarakan tidak mungkin akan terjadi,menikahkan aku dengan sempurna,dihadapan saksi dan sanak saudara yang turut merayakan,karena Ira mereka telah menikah dengan pria yang ia cintai,itu tidak akan terjadi...! ayah tiriku akan menentang nya,bagi ayah lebih baik aku mati dari pada dimiliki pria lain,tak akan ada pernikahan bahagia disini
aku hanya akan pergi,walau tak tau arah tujuan,kemanapun langkah kaki ku membawaku kesitulah aku akan pergi
entah keluar kota atau keluarga pulau sekalipun,yang pasti aku tak mau lagi tinggal di tempat yang menyesak kan ini
"Ira.. bagai mana menurut kamu nak ..?" pertanyaan ibu membuyarkan lamunan ku,aku masih tak bisa mengatakan apapun,ingin sekali rasanya menjawab setuju,tapi bagai mana mungkin aku memberi harapan hampa kepada mereka
"Ira kalau masih butuh waktu untuk berfikir,ibu enggak apa nak..." aku menatap wajah Bu nila,wajah yang penuh dengan ke ikhlasan,beliau ingin memberiku waktu untuk berfikir,andai Meraka tau aku hanya ingin pergi dari sini
"bagai mana nak..." wanita itu kembali menanyakan perihal keputusan ku,kini raut wajah nya berubah khawatir karna ekspresi ku yang tidak bahagia
"Bu... terimakasih sudah Sudi melamar Ira untuk jadi menantu ibu,Ira minta waktu sedikit Bu,Ira akan kabari segera mengenai keputusan Ira" aku sedikit memaksakan senyum,aku berharap mereka tak merasa kecewa karna tak ada jawaban dari ku
"baik lah... ibu mengerti,mungkin kamu terkejut karna kehadiran kami yang tiba-tiba ini,nanti kalau Ira sudah ada jawaban segera kabari kami ya..." wanita itu masih terlihat tenang
"saya berharap kamu akan memberi kabar baik untuk kami" ucap nya lagi masih mengulas senyum
"ya maaf Bu nila,mungkin Ira masih butuh waktu untuk berfikir,saya juga berharap kita bisa besanan Bu..." timpal ibu ku seraya mempersilah kan kedua tamu itu untuk meminum teh yang belum mereka sentuh
"Bu... Ira mohon ibu jangan bilang ayah mengenai lamaran ini ya.. " pintaku pada ibu usai Sarah dan Bu nila meniggal kan rumah kami
"lho... kenapa Ra... ini kan kabar bahagia" ucap ibu seraya membereskan gelas di atas meja
"Ira enggak mau ayah tau sekarang,nanti aja kalau Ira sudah ada keputusan" ibu menghela nafas panjang lalu duduk di sebelah ku
"Ira... kamu kenapa enggak iyakan saja lamaran itu tadi" ibu menggenggam tangan ku yang terasa dingin
"Ira enggak mau buru-buru mengambil keputusan" ucap ku singkat
hari berganti,masih tak ada kesempatan untuk ku pergi,walau uang tabungan ku hanya sedikit aku akan tetap nekat,dari pada aku harus lari dan menikah dengan ayah tiriku,biar lah aku menghilang dari kehidupan mereka
***
"Bu .. ayah ada job tiga hari di luar kota,ada kerjaan yang harus di selesaikan di sana" ucapan ayah pada ibu membuatku terperanjat,ku dekat kan telinga ke dinding kamar ibu memastikan apa yang baru kedengartadi benar
"biasanya kalo ada kerjaan kan di kerjakan dari sini yah" pekerjaan ayah ku sebagai tukang las teralis besi memang banyak mengalami kemajuan,banyak orderan yang ayah kerjakan akhir-akhir ini
"iya Bu... udah di buat di sini tapi pasang nya harus ayah juga,makanya ayah harus ikut ke sana" mungkin ini kesempatan ku untuk pergi,ayah tidak di rumah untuk tiga hari maka aku akan meninggalkan rumah ini
"ya udah... kapan ayah berangkat?"
"besok Bu,pastikan anak-anak ibu jaga dengan baik ya Bu,Ira juga jangan di kasih keluyuran,anak gadis harus bisa jaga diri" perintah ayah pada ibu
"Ira kan udah besar yah,masak masih ibu larang kalau mau pergi" ibu coba protes dengan perintah ayah untuk melarang ku keluar rumah
"ya dia kan anak gadis bu,memang ibu mau kalau nanti dia kenapa-kenapa sedangkan ayah jauh" sebisa mungkin ayah membuat ibu percaya untuk mengekang ku dengan alasan yang buat ku tersenyum sinis
"pokok nya ayah enggak mau anak-anak ayah kenapa-kenapa saat ayah jauh dari mereka" suara ayah penuh penekanan
"ya udah... kalau itu mau ayah" aku menjauh kan tubuh ku dari dinding pembatas kamar,aku harus manyusun rencana bagai mana caraku pergi tanpa ibu tau
malam ini aku harus melayani ayah seprti biasanya,aku sungguh berharap ini adalah pelayanan terakhir ku untuk nya,setelah puas melampiaskan nafsu ayah berbisik kepadaku
"ayah akan pergi tiga hari keluar kota,saat pulang nanti ayah akan dapat banyak uang dari upah kerja,itu akan cukup untuk rencana kita" aku menatap pria yang ku sebut ayah itu,dia benar-benar ingin membawaku lari,tapi maaf saja aku akan lebih dulu menghilang sebelum dia sempat membawaku pergi
saat akan melelap kan mata aku terbayang wajah Aril,bagai mana mungkin aku pergi Tanpa ia tau,aku tak bisa bersikap tak adil kepadanya,biarlah kutemui dia terlebih dahulu,mengunggkap kan apa yang sebelum nya tak sempat ku sampaikan,walau apapun jawaban Aril nanti akan aku terima,yang pasti aku sudah mengakui semuanya dan pergiku bukan karna tak menginginkan Aril atau lari dari lamaran pria yang ku cintai itu,aku pergi untuk melepaskan diri dari kehidupan yang sangat menjijikkan ini
pagi sekali ayah sudah di jemput teman nya dengan mobil pick up yang penuh dengan teralis besi yang siap di pasang di salah satu rumah sakit di luar kota,aku menunggu hingga keadaan rumah sepi lalu memasuki kamar ibu untuk mencari handphone ku yang di sembunyikan ayah,ku periksa setiap sudut kamar ibu juga lemari baju tempat pakayan ayah di letakkan,kebetulan tidak terkunci,biasanya ayah selalu menutup rapat,kurasa dia lupa
cepat ku sibak satu persatu pakaiannya ayah dan aku menemukan handphone ku di dalam lipatan baju yang sudah lama tak ayah pakai,ku raih benda itu cepat dan memasukkan nya ke saku celana,lalu merapikan kembali letak pakatan ayah yg sedikit berantakan
aku keluar perlahan menuju ruang tengah,ibu masih belum pulang dari mengantar adik ke sekolah,suasana masih terlihat sepi,akupun segera masuk kekamar ku untuk mengaktifkan ponsel ku
ada banyak pesan masuk saat ponsel ku menyala,tertera nama Aril dan juga Sarah,kurasa setiap hari mereka mengirimiku pesan,tak ada satupun yang ku baca,karna yg terfikir olehku hanyalah memberi tahu Aril bahwa aku ingin bertemu
[bang... Ira mau kita jumpa sekarang!] tulisku di aplikasi hijau dan langsung mendapatka dua centang biru
[Ira... Alhamdulillah,akhirnya kamu menghubungi Abang,boleh dimana?]
jawab pria yang sangat kurindukan itu
[jemput Ira di depan gang rumah sekarang!] pintaku
[baik,sepuluh menit lagi Abang sampai] aku gegas menuju gang rumah ku sebelum ibu pulang,mata hari sudah semakin naik,ibu biasanya akan pulang saat Azka selsai sekolah karena ibu selalu menunggui anak bungsunya itu sejak ibu tak lagi menjadi buruh cuci
aku menunggu beberapa saat hingga akhirnya pria yang kunantikan itu tiba,tanpa basa-basi kunaiki motornya dan kami pun pergi,tak ada sepatah pun kata yang Aril dan aku katakan kami hanya henig,hingga motor yang kami tumpangi berhenti di salah satu taman yang berada di komplek milik perusahaan migas di kotaku
suasana di sekeliling sepi belum ada pengunjung,hanya ada beberapa scurity yang berlalu-lalang dengan motor mengontrol keadaan area taman yang luas ini,taman ini memang di buka untuk umum tapi juga di jaga ketat agar tak tercemar karna tangan jahat yang dapat merusak keindahannya
kami duduk di sebuah bangku taman dengan tetap menjaga jarak,di hadapan kami terhampar tanaman bunga Bougenville yang bermekaran dengan berbagai warna,begitu indah di padukan dengan rumput yan hijau
"kamu baik-baik aja kan Ra? Aril memulai percakapan,aku menatap ke arah nya dam mengangguk
"apa yang sebenarnya terjadi Ra,apa kamu tak ingin menerima lamran Abang" aku memalingkan wajah ku dari nya menatap kedepan dengan pandangan hampa,apa yang akan aku katakan sesudah ini mungkin akan menyurut kan keinginan nya untuk menikahi ku,kutarik nafas dalam lalu menghembuskan kembali,berharap saat nafas ku terhembus maka beban dihatiku akan ikut bersamanya,tapi ternyata tidak,justru semakin berat terasa di hati
"bang... sebelum nya Ira minta maaf karena selama ini tak jujur pada Abang" pria itu menautkan kedua alis nya menatapku penuh tandatanya
"Ira akan terima apapun pendapat Abang tentang Ira setelah Abang mendengarkan apa yang akan Ira katakan" ku tarik nafas lagi dalam coba menguat kan diriku untuk bercerita,pria di hadapan ku itu masih duduk tenang menanti penjelasanku
"sebenar nya... Ira bukanlah gadis suci seperti yang Abang fikirkan selama ini" wajah Aril berubah seketika matanya menatap ku tajam,ada keterkejutan disana,aku belum pun mengatakan yang lebih menjijikkan lagi tapi ekspresi Aril sudah begitu,apa ku urungkan saja Niat ku untuk berterus terang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments