begini sekali takdir mempermainkan hidup ku,tak pantas kah aku hidup bahagia,baru saja aku melihat secercah harapan,namun kini kembali kelam dan suram
hanya ada keheningan di antara kami,di iringi tetesan hangat yang tak henti membasahi pipi,tubuhku sekarang masih ingin disini entah apa yang aku nanti,tak mau bangkit, mungkin sedang mengumpulkan kembali kekutan agar mampu menompang segala pilu dihati
"Ira... ada pepatah mengatakan bahwa cinta butuh pengorbanan" Aril berbicara pelan memecah kesunyian sembari menatap hamparan bunga yang ada di hadapan kami,dan aku hanya mendengarkan
"ketika kita di uji dengan segala kepahitan pasti akan ada manis yang menati untuk di nikmati kemudian" kini Aril meraih tangan ku dan mengegam nya,kedua tangan kami bersatu walau tubuh kami dipisahkan oleh jarak,dengan mata saling menatap dalam
"Abang akan ikut Ira,Abang akan dampingi Ira,Abang akan menikahi Ira,walua harus meninggal kan keluarga Abang di sini,Abang tak akan biarka Ira sendiri melalui semua ini" aku menatap mata itu,coba menelisik kebenaran dari ucapan nya,aku melihat ke sungguhan di sana,ucapan Aril begitu pasti,ternyata Tuhan ku benar-benar menyayangi ku,dengan mengirimkan malaikat tanpa sayap yang kini sedang menggenggam tangan ku erat
kini pandangan wajah Aril nampak kabur di penglihatan karena air mata yang semakin deras,semakin ku seka semakin mengalir,apa lagi yang akan ku katakan,ketika orang yang aku cintai mau menjalani hidup dengan ku meski itu rumit
"tapi Ira harus bersabar dulu,Abang harus memberitahukan ibu bahwa Abang akan pergi" kini ekspresi wajah ku berubah penuh tanda tanya
"Abang tidak aka mengatakan perihal hubungan antara Ira dan ayah tiri Ira itu,Abang hanya akan memberikan pengertian pada ibu agar tidak kaget saat Abang tak pulang ke rumah" aku bernafas lega,tak bisa ku bayang kan jika bu nila tau aib ku
"lalu bagai mana jika ayah pulang,jika ayah langsung memaksa Ira untuk pergi Ira tak akan bisa mengelak" itu bisa saja terjadi,bukan kah ayah sudah mengatakan jika pulang nanti akan langsung membawa ku pergi
"Abang tak akan biarkan itu terjadi,lagi pula menurut Abang dia akan membutuhkan beberapa hari untuk istirahat sebelum membawa Ira pergi" yah... bisa jadi ayah tak akan langsung mengajakku pergi,dia pasti lelah karna pekerjaan nya dan butuh istirahat
"sebaik nya,Ira juga katakan perihal ini pada seseorang yang bisa Ira percaya,agar ibu Ira tidak berfikir buruk mengenai kepergian Ira" pendapat Aril itu ada benarnya,aku harus memberitahu kan seseorang,bahwa aku akan pergi tapi siapa yang bisa ku percaya
"berilah alasan yang bisa diterima akal mereka perihal kepergian Ira,agar ibu Ira tak terlalu khawatir" kini Aril sudah bangkit dari duduk nya dan mengajak ku serta untuk meniggalkan taman ini
aku kembali pulang dengan hati di penuhi harapan pasti
***
sudah tegah hari saat aku tiba di rumah,ibu sedang duduk di ruang tamu dengan wajah cemas,dia pasti mengkhawatirkan ku karena pergi tanpa meminta izin
"dari mana kamu Ira,ibu kan udah bilang kamu jangan kemana-mana selama enggak ada ayah" ibu menanyaiku dengan wajah marah,aku coba memberi senyuman terbaikku agar marah nya mereda
"Ira tadi cuma jumpai kawan sebentar Bu, buktinya Ira baik-baik aja kan bu" aku menghampiri ibu yang masih duduk di kursi
"harus nya kan kamu bisa tunggu ibu pulang dulu Ra,jadi ibu enggak khawatir gini liat kami enggak dirumah" ibu masih terlihat kesal padaku
"iya Bu... maafin Ira ya,karena buat ibu kahwatir" kulihat ibu hanya menghela nafas,aku memilih meninggal kan ibu dan melangkah ke kamar ku,aku harus memikirkan apa yang di katakan Aril tadi,bahwa aku harus mengatakan kepada seseorang perihal kepergian ku,tentunya yang bisa kupercaya,tapi siapa...?
aku melangkah tergesa setelah meminta izin kepada ibu untuk kerumah bibi,ya... bibilah orang yang paling bisa kupercayai sekarang ini,aku berharap bibi akan mengerti dengan keadaan ku
"assalamualaikum..." ku ucap salam saat sudah berada di depan pintu rumah bibi
"waalaikum salam... Ira,udah lama enggak ke mari kamu nak"bibi menyambut ku hangat,begitulah selalu adik dari ibu ku ini,kadang aku merasa kasih sayang nya sama seperti kasih sayang ibu kepada ku
"iya bi... selama ini Ira kan kerja bi" ucap ku lalu masuk dan mencium punggung tangan bibi
"macam jauh kali rumah bibi ini sampai gak sempat mampir kamu Ra,padahal bibi kangen kamu" ucap bibi seraya memeluk ku penuh kasih sayang
aku duduk bersebelahan dengan bibi,tak ingin berlama-lama untuk mengatakan maksud ku pada nya,somoga dia tidak terkejut mendengar keinginanku untuk pergi meninggalkan ibu
"BI... ada yang mau Ira katakan sama bibi,tapi Ira harap bibi enggak akan marah dan bisa memahami keadaan Ira" bibi mengerut kan dahi mendengar penuturan ku
"kamu kenapa Ra,kok bibi lihat kamu serius sekali" bibi mengenggam tangan ku yang pastinya terasa dingin,aku khawatir dengan reaksi bibi,takut bibi tidak bisa menerima keinginan ku
"BI... hanya bibi yang bisa ira percaya" ucap ku sambil melihat keadaan sekeliling ku
"kenapa Ra,paman enggak ada Ra belum pulang kerja, adik-adik juga lagi main,Ra.. jangan buat bibi kahawatir gini dong nak.." wanita itu kini terlihat semakin cemas,mata nya tak lekang mentap ku penuh rasa ingin tau
"BI... Ira mau pergi,Ira mau meninggal kan kota ini..." ucap ku pelan tapi mampu membuat bibi terperanjat
"apa maksud kamu mau pergi Ra,kamu ada masalah apa!!?" suara bibi kini penuh penekanan
"BI... Ira mau pergi karna satu hal yang Ira enggak bisa kasih tau bibi,tapi Ira memang enggak bisa di sini lagi untuk sementara waktu,Ira cuma mau bibi bilang ke ibu nanti enggak perlu khawatir kalau nanti ira udah enggak ada" jelasku panjang lebar dan berharap bibi bisa memahami
"kamu mau pergi tapi tak mamberi alasan sebab kepergian kamu itu,bibi enggak akan biar kan itu terjadi nak..." raut wajah bibi terlihat sangat khawatir,melihat ekspresi nya,dia pasti tidak akan mau mengerti keadaan ku
"BI... Ira benar-benar tidak bisa mengatakan sebab kepergian Ira,tapi Ira lakukan ini demi kebaikan semua,Ira mohon bibi bisa mengerti keadaan Ira" aku memelas pada bibi
"kalau tak beri tahu alasan kepergian kamu ini Ira,bibi tak akan lepaskan kamu,bibi akan beritahu ibu kamu sekarang juga" bibi kini bangkit dari duduk nya,aku berusaha memeluk tubuh bibi agar tak lagi melangkah,mungkin memang harus kukatakan penyebabnya agar bibi bisa mengerti keadaan ku
"BI... jangan kasih tau ibu,baik lah Ira akan katakan pada bibi sebab dari keinginan Ira untuk pergi" kulihat bibi kembali mundur lalu duduk di sebelah ku,dengan mata yang mengembun karna melihat aku yang sedang mengis,aku tak tau bagai mana ekspresi bibi selanjut nya,apa bibi akan membenciku,atau bisa memahami situasi ku seperti aril
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments