"masuk..!! masuk ku bilang...!!!" ayah menarik tangan ku untuk masuk kesebuah rumah kosong di pinggir pantai,tak ada rumah lain di kiri kanan rumah itu,letak nya pun jauh ke hunjung jalan
"jangan ayah... Ira enggak mau,lepaskan Ira... !" pintaku pada pria yang sedang menyeret ku kasar,aku meronta coba melepaskan cengkraman tangan ayah tapi tak mampu, ingin menjerit minta tolong tapi aku takut jika ayah di tangkap warga ibu yang akan kena imbas nya,dan lagi bisa saja hubungan ku dengan ayah selama ini terbongkar
ayah menghimpit tubuh ku ke dinding,nafas nya naik turun,kemarahan nya membuncah tak bisa ia kendalikan,tangan nya kini ada di kepala ku yang tak berhijab lagi karena tarikan ayah,rambut ku di tarik nya mendongak kan kepala ku kehadapan nya dan aku hanya bisa menutup mata
"aku sudah bilang kau jangan ada hubungan dengan laki lain kenapa kau keras kepala" leher ku terasa sakit karna di dongak kan sperti itu oleh ayah
"ayah lepsakan,Ira... cuma mau hidup normal,Ira capek harus terus seperti ini ayah,Ira mohon lepasakan Ira" rintih ku seraya menahan sakit,ayah melepaskan himpitan nya ketubuh ku,lalu mendorong ku hingga terjatuh,aku merangkak mendekati pria yang sedang di selimuti amarah itu
"ayah... sudahi semua ini,biarkan Ira hidup bebas,Ira hanya ingin memiliki pasangan hidup seprti orang lain,Ira mohon... sudahi" aku bersimpuh di kaki ayah tiri ku itu,hanya itu yang terlintas di pikiran ku
"kau mau hidup seprti orang lain yang memiliki pasanga!? baik lah...
aku akan menikahi mu!!" ucapan ayah bagi petir yang menggelegar menyambar tubuh ku,aku melepaskan kaki ayah dan terduduk,bagai mana bisa dia miliki pikiran seperti itu
"apa maksud ayah... lalu ibu bagai mana,ayah akan menjadikan ku madu bagi ibu ku!!?" tanyaku pada pria yang masih berdiri dengan gagah nya
"kita akan pergi meninggal kan kota ini,kita tinggal kan semua yang membuat ku merasa muak!!" ucap nya lagi dengan wajah penuh kebencian
"ini enggak mungkin! ini enggak bisa terjadi,Ira enggak mau!" aku yang masih duduk di lantai rumah yang kotor itu terus menolak kemauan ayah yang gila itu
"jika kau tak mau mengikuti kemauan ku,aku akan benar-benar menghabisi mu,biar lah kalau aku harus dipenjara,tapi hati ku puas tak melihat mu dengan orang lain" aku kembali terperangah,mulut ku seakan terkunci tak bisa mungucap kan apaun lagi kala ayah mengatakan itu
"aku mencintai mu Ira... aku tidak akan melepas kan mu,kau kurawat sejak kau kecil, hingga kau dewasa dan secantik ini,aku tidak akan bisa melihat mu di miliki orang lain,aku bisa gila memikirkan itu" kini ayah juga sudah duduk tepat di hadapan ku,ku lihat air mata mengalir di pipi pria yang selalu terlihat gagah itu,dia menangis... begitukah perasaan nya kepadaku selama ini,mencintaiku....
dia masih menangis seraya sesekali menyeka air mata nya,aku masih tak bisa mengatakan apapun,aku masih terkejut dengan apa yang baru ku dengar dari mulut ayah tiriku itu
"kamu jangan melawan ayah lagi ya sayang... Ikuti kemauan ayah,tunggu sampai waktunya tiba kita akan pergi,ayah hanya tinggal mengumpulkan sedikit uang lagi" rayu nya padaku,aku berfikir keras apa yang harus aku lakukan sekarang,sebaik nya mengikuti saja kemauan ayah untuk saat ini,agar ayah tak menyakitiku lagi
aku mengangguk lemah,ayah merangkul ku seraya menciumi seluruh wajah ku,terasa hangat karena air mata masih mengalir di pipinya
"sekarang kita pulang,pakai kembali penutup kepala mu,mulai hari ini ayah tak akan izinkan kami bekerja,kamu cukup duduk di rumah,sampai uang dari kerjaan ayah di berikan kita akan pergi" dia membangkitkan tubuh ku yang masih bersimpuh dilantai,merapikan pakayan ku yang berantakan dan kotor,lalu menarik ku untuk menaiki motor
kami pulang,tapi roh ku seperti tertinggal di rumah kosong itu,tak ada lagi gairah tak ada lagi keinginan untuk hidup,semua terasa suram
suami dari ibu ku ingin menikahi ku dan meninggal kan istri dan anaknya yang juga ibu dan adik-adik ku,bisakah aku melakukan hal yang bahkan tak terpikirkan oleh ku,nasib apa ini yang sedang Tuhan beri padaku,bukankah selama ini aku sudah mendekatkan diri kepada Nya,dan selalu memohon agar dipermudah kan hidup ku,tapi kenapa semakin sulit saja,apa karena tubuh ku yang kotor ini maka ia enggan mendengar kan doa ku
Aril... seprti apa keadaan nya saat ini,masih kah ia duduk di atas butiran pasir,menahan perih dan malu karna kelakuan ayah tadi
***
sudah dua Minggu aku dirumah,tak melakukan kegiatan apapun,hanya berharap ada cara untuk pergi sejauh mungkin dari sini,tapi tak pernah ada celah,ayah selalu mengawasi ku baik siang atau malam, handphone ku juga di sita ayah
"kamu enggak kepingin cari kerja lagi nak" ibu memulai pembicaraan saat aku sedang melipat pakayan yang baru di angkat dari jemuran
"belum Bu... Ira mau istirahat aja dulu" sahut ku sambil menatap nya
ahhh... perasaan sakit itu kembali ku rasa saat menatap wajah ibu,ngilu hingga kehulu hati,apa yang harus aku lakukan Bu... aku tak mau lagi menyakiti mu,tak mampu ku bendung butiran bening yang berdesakan ingin membasahi pipi,aku hanya bisa memalingkan wajah,tak ingin ibu tau bahwa sekarang aku sedang menderita
"assalamualaikum... " sebuah suara yang cukup ku kenali terdengar dari arah teras
"waalaikum salam..." jawab ibu seraya beranjak dari duduk nya menuju pintu
"Sarah... sama siapa ini?" sambut ibu pada tamu yang barusan memberi salam
"ini ibu nya Sarah Bu Tina" aku bangkit mendengar penuturan Sarah tadi,benarkah dia bersama Bu nila,ada apa mereka kemari,apa karna beberapa waktu lalu ayah telah menyakiti putranya
"oh... ibu silahkan masuk" sambut ibu ramah kepada kedua tamu itu,aku masih berdiri mematung terkejut dengan kehadiran mereka
"Ira ada Sarah sama ibunya ni...." ucap ibu seraya mempersilah kan keduanya untuk duduk,aku menghampiri Bu nila dan mencium punggung tangan wanita itu,lalu mendekati Sarah dan duduk bersama nya,di wajah bu nila sedari tadi hanya ada senyuman,tak ada raut marah seperti yang ku khawatirkan,begitu juga dengan Sarah hanya tersenyum melihat ku
"sebentar saya buat kan minum dulu" ucap ibu yang akan beranjak dari duduk nya
"jangan... enggak usah Bu,kami enggak lama" ucap Bu nila menghentikan ibu
"enggak apa Bu .. cuma teh hangat saja" ibu lalu bangun dan melangkah ke dapur
"kamu apa kabar Ira..." bu nila bertanya lembut kepada ku
"kabar Ira baik Bu" wanita itu menatapku dengan pandangan yang tak ku mengerti,dia terus mngulam senyum di bibir nya
"kamu udah enggak kerja lagi ya Ra" tanya Sarah seraya menyenggol lengan ku
"enggak sar,udah dua minggu aku enggak kerja lagi,pingin istirahat" Sarah haya manggut-manggut mendengar penuturan ku,sesaat kemudian ibu datang dengan beberapa gelas teh di atas nampan,air panas selalu tersedia di termos, jadi tidak butuh waktu lama untuk ibu membuat teh
ibu menyusun satu persatu gelas yang berisi teh hangat buatan nya lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Bu nila
" Bu... sebelum nya saya minta maaf,kedantangan saya kemari sudah merepotkan kan" Bu nila memulai percakapan
"enggak apa-apa Bu,sepertinya adahal yang ingin ibu sampaikan" tanya ibu ku penasaran,aku pun demikian bertanya dalam hati,apa sebenarnya tujuan Bu nila mendatangi rumah ku,jika karna ayah memukuli Aril waktu itu,seperti ya tidak mungkin,melihat dari ekspresi wajah mereka berdua yang hanya mengumbar senyum
"saya mewakili anak saya Aril,mau bertanya apa Ira anak ibu sudah ada yang punya,jika belum saya bermaksud melamar Ira untuk di nikah kan kepada anak saya Aril" suara Bu nila tenag,namun mengetar kan hati dan jiwaku
"apa... maksud nya ibu mau melamar Ira buat anak ibu" tanya ibu ku dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan,sedangkan aku masih menahan gejolak rasa di hati ku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments