aku berdiri terpaku tepat di pintu pagar yang terbuat dari bambu itu,pria yang sedang ku perhatikan tadi masih sibuk menyulam tali berukuran halus ke seuntai jaring yang tergantung di hadapan nya
pria itu masih tak menyadari kehadiran kami,di sangat fokus pada pekerjaan yang sedang ia lakukan,aku melihat ke arah bibi,bibi juga sedang memperhatikan pria itu,walau dari kejauhan aku bisa melihat dengan jelas wajah pria itu
tak dapat di pungkiri,mata bulat dihiasi bulu mata lentik dan alis tebal melengkung tajam,hidung mancung dan bibir yang sedikit tebal,pria di hadapan ku itu sungguh seperti bayangan ku,kami sangat mirip,pantas saja setiap orang yang mengenal ayah ku akan mengatakan kalau aku mewarisi bentuk wajah ayah kandung ku yang terkenal tampan dan tukang kawin
sekarang aku mengerti mengapa ibu bisa di tipu daya oleh pria itu,bahkan setelah seusia ini pun dia masih terlihat menawan walau dari jauh
"assalamualaikum..." salam yang di ucap kan bibi Ku membuat pria itu mengangkat wajah nya lalu melihat ke arah kami yang berada beberapa meter dari pintu pagar tempat kami berdiri
"waalaikum salam..." usai menjawab salam pria itu lalu bangkit dari duduk nya dan menghampiri kami,lama ia berdiri terpaku melihat ke arah bibi lalu ke arah ku,aku menggenggam tangan bibi erat saat pria itu melihat ke arah ku,aku merasa sedikit kikuk,mata tajam nya terus menelisik,mata yang tak pernah ku lihat tetapi seperti tidak asing
"bang danus,apa kabar?" ucap bibiku memecah ke heninggan sesaat tadi,pria itu menoleh ke arah bibi
"baik... kamu Maya kan? bibi hanya mengangguk kan kepalanya lalu melihat ke arah ku,sekarang pria paruh baya itu kembali melihat ke arah ku
"dia syahira putri mu bang..." ucapan bibib tak lantas membuat nya terperanjat,aku hanya melihat embun di mata pria yang sudah meninggal kan ku sejak bayi itu
"aku tau,tak perlu kau katakan pun aku tau,lihat lah wajah nya,sama persis seperti ku" kini embun itu mengalir lembut di pipi nya yang sudah sedikit keriput
pria itu kini semakin mendekat kepadaku,aku mundur beberapa langkah,dia kah ayah ku... orang yang seharus nya melindungiku,menjaga dan memberikan kasih sayang kepadaku tapi justru meninggalkan ku dan ibu tanpa pernah kembali
harus kah aku menyapanya,aku tak mengerti perasaan ku saat ini,kenapa aku harus menemuinya demi mencari wali nikah ku,pantaskah dia dijadikan wali? orang yang tak pernah menganggap ku putri nya
melihat ku mundur pria itu tak lagi mendekatiku,dia hanya berdiri terpaku dan bibi kini menghampiri ku yang berdiri dalam kebingungan
"Ira... apapun yang telah dia lakukan pada kalian dulu,dia tetep ayah kamu nak,orang tua kandung mu" perkataan bibi tak membuat ku tenang,perasaan dihatiku tak ku mengerti,yang pasti tak pernah ada rindu untuk nya,mungkin hanya ada amarah akan orang yang sudah menelantar kan ku selama hidup ku
mataku masih menatap nya dengan air mata yang beruraian,kulihat pria itu sesekali menyeka matanya,kenapa engkau menangis wahai ayah kandungku,apakah kau terkejut saat melihat anak yang kau tinggal kan ketika bayi ini sekarang sedang berdiri di hadapan mu sebagai seorang gadis
"nak... maaf kan ayah..." maaf... begitu mudah perkataan itu dia ucap kan,bahkan jika aku tak menjumpainya sekarang aku masih belum tau di mana ayah ku,seperti apa rupanya
"kenapa meninggal kan ku?" suaraku datar,walau airmata terus mengalir di pipiku suaraku sama sekali tak bergetar
pria itu tak menjawab pertanyaan ku,dia kembali melangkah mendekatiku,tubuh nya sedikit lunglai dengan langkah yang berat
" berhenti..!! jangan mendekatiku,kenapa meninggal kan ku" ucapan ku kembali menghentikan langkahnya,ia memandang ku dengan wajah memelas
"Ira... jangan lupa rencana kita kemari untuk apa,lupakan masa lalu nak, ikhlaskan lah hatimu" bibi coba menyadarkan niat kami sebenarnya bukan lah untuk menanyakan perihal dia meninggal kan ku dan ibu,tapi hanya untuk meminta nya menjadi wali nikah ku
"tapi Ira mau tau kenapa dia tidak pernah menjumpai Ira bi... usia Ira sekarang sudah dua puluh tahun tapi baru sekarang Ira melihat wajah ayah kandung ira,itupun setelah Ira yang mencarinya kemari" ku tatap pria itu tajam
"apakah dia begitu benci kepada ku bi,atau dia sudah melupakan kalau dia memiliki seorang putri yang di tinggalkan nya dulu bi...!?" suaraku yang meninggi mengundang beberapa orang yang berada di dalam rumah itu keluar dan menghampiri kami
"maaf kan ayah nak... maaf kan ayah..." dia menagis terisak,beberapa orang yang keluar dari rumah itu melihat kami dengan keheranan,sedang kan aku kini hanya bisa diam mencoba meredam amarah ku,bagiku maaf nya tak cukup untuk dua puluh tahun hidup ku yang ku lalui tanpa mengenal ayah kandung ku,bahkan aku harus hidup dijalan yang salah karena ibu telah menikah kembali dengan lelaki bejat seperti ayah tiriku,jika saja dia tak pernah meninggalkan kami mungkin aku tak akan mengalami nasib seperti itu
"nak... masuk lah dulu,kita bicarakan baik-baik semua ini" salah seorang dari penghuni rumah itu menghampiri seraya memegang tangan ku
"iya Ira... bibi tau kamu kecewa pada ayah mu, tapi ingat lah tujuan kita kamari untuk apa" bibi sekarang merangkul tubuhku dan berusaha menarik ku masuk kerumah itu,di sekeliling ku kini sudah ramai oleh orang yang entah dari mana datang nya
aku duduk bersebelahan dengan bibi, pria yang merupakan ayah kandung ku kini duduk di hadapan ku,sesekali kulihat ia masih menyeka matanya yang basah,ada seorang wanita yang usianya sudah tua kurasa dia adalah nenek ku,wanita tua itu pun menangis dan pandangan nya tak pernah lekang dari ku,dan juga beberapa orang lagi yang tak ku kenali
"ayah tau nak kesalahan ayah ini tak bisa di maaf kan,tak apa jika Ira tak mau memaaf kan ayah" pria itu memulai pecakapan memecah keheningan
"ayah bukan tak pernah menjumpai Ira,setelah sepuluh tahun ayah meninggalkan kamu dan ibu mu ayah pernah datang kembali mencari kalian,tapi ayah melihat ibumu sudah menikah kembali,jadi ayah mengurungkan niat ayah untuk menjumpai kamu" pria itu terlihat menarik nafas sebelum kembali berbicara
"ayah fikir kalian pasti sudah bahagia,ayah tak mau mengganggu lagi" pria itu kini terbatuk sangat keras tak henti-henti,salah seorang yang ikut ada di ruangan itu mendekati nya dan menepuk-nepuk pundak nya lembut
seorang lagi memberikan nya segelas air putih,usai batuk nya yang lama itu reda dia mulai berbicara lagi
"ayah sudah menderita sakit paru selama beberapa tahun ini,ayah sangat ingin menemui kamu nak,tapi ayah masih tak berani,kamu pasti sangat membenci ayah karna meninggalkan kamu dan ibumu demi perempuan lain" aku masih tak bersuara,hanya berfikir seandainya ayah kembali sebelum ibu menikah lagi,mungkin aku tak akan pernah memiliki ayah tiri
"ayah sangat senang sekarang kamu sudah ada di hadapan ayah,tumbuh besar dan secantik ini,ibu dan ayah baru mu itu telah menjaga mu dengan baik" pria itu kembali menarik nafas dalam,sesekali kulihat ia memegang dadanya,mungkin ia kesakitan
"Maya... terimakasih telah membawa anak ku kemari" ucap nya pada bibi yang masih duduk di samping ku
"sebenarnya kami kesini ingin meminta bang danus untuk menjadi wali nikah Ira" ucapan bibi membuat semua yang ada di situ terperangah
"jadi kamu akan menikah nak...?" wanita tua yang sedari tadi turut menangis melihat ke arah ku dengan wajah bahagia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments