Beberapa hari menghabiskan waktu bersenang-senang dengan sang anak, kini tiba waktunya Tasha dan Gara melihat acara yang di adakan di sebuah hotel ternama.
Berkat bantuan Bu Dewi serta bantuan Firman sang papah, acara berlangsung dengan baik dan meriah. Tasha di buat bahagia sekali, beberapa model dewasa mau pun cilik berjalan berlenggak lenggong mengenakan semua hasil rancangan Tasha. Bukan hanya dari segi model, namun Tasha mengenalkan desainnya dengan bahan yang sangat nyaman di gunakan.
Terutama untuk kalangan anak-anak, ia sangat tahu jika seusia Gara pun sangat aktif, dimana mereka akan sangat gerah jika tak memakai pakaian dengan bahan yang tepat.
Itu sebabnya Gara sangat menyukai pakaian buatan sang mami.
“Kita panggilkan, Natasha Veronika!” Riuh tepuk tangan pun menggema di ballroom itu.
Bocah kecil tampan dengan pakaian sangat keren berjalan di tengah-tengah para model. Tangannya tampak menggenggam tangan sosok wanita yang begitu mencintainya.
“Kak, jangan lupa tersenyum.” pintah Gara mengingatkan Tasha.
Mendengar itu Tahsa sampai menggelengkan kepala. Anaknya benar-benar on setiap di depan kamera.
“Selamat yah, Nona Tasha.” Bu Dewi datang dari bawah podium membawakan sebuket bunga untuk Tasha.
“Terimakasih banyak, Ibu.” ujarnya.
Banyak kamera yang menangkap ke arah Tasha dan Gara. Bahkan ada salah satu yang melakukan live streaming. Siaran berita yang sampai pada negara Indonesia tampak membuat wajah dua orang paruh baya tersenyum bangga.
“Tasha sudah sukses, Papah.” Indri bahagia sampai menitihkan air matanya.
Banyaknya orang-orang penting yang hadir membuat Firman yakin sang anak akan sangat mudah memperkenalkan hasil karyanya.
“Bu Dewi bukan orang sembarangan, Mah. Berkat dia anak kita akan sangat mudah melewati ini semua. Nama perusahaan beliau sudah cukup di kenal selama ini, di tambah dengan Tasha bergabung bersama mereka.” tuturnya memuji perusahaan yang cukup di kenal itu.
“Tapi, apa Tasha tidak bisa maju jika tanpa bekerja sama dengan perusahaan asing itu, Pah?” tanga Indri penasaran.
Sebab sebagai ibu rumah tangga ia pun tidak begitu paham tentang dunia bisnis.
“Yah setidaknya mencari nama untuk bersaing dengan pasaran di luar sana itu tidak semudah jualan nasi goreng, Mah. Persaingan itu sangat besar dan luas. Tasha perlu mendapat kepercayaan dari masyarakat luas dulu. Lagi pula mereka hanya kontrak bukan selamanya.” Pelan Indri pun menganggukkan kepala.
Ia percaya apa pun yang sang suami setujui, pasti sudah terpikirkan secara matang.
Siaran televisi yang menyebut-nyebut dua nama dari Indonesia rupanya tak hanya membuat dua orang ini kagum, ada beberapa orang juga yang mengenal sosok Tasha. Mereka adalah pelanggan Tasha mau pun penggemar Gara.
Dan satu lagi, sosok pria yang baru saja menjabat pemimpin di perusahaan milik sang ayah, dia adalah Raga.
“Natasha? Na…tasha Ve…ronika? Mengapa nama itu tidak asing?” gumam Raga kala duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya. Pria itu tampak membelakangi televisi yang di tonton kedua orangtuanya.
“Wah ini anak bangsa namanya yah, Ayah?” Rima tersenyum memuji sosok gadis cantik yang berdiri di antara banyaknya para model.
“Bangga negara kita, Bunda.” lanjut Dahlan yang memuji.
“Bunda sih sudah sering dengar namanya. Banyak kok teman arisan Bunda yang pakai jasa dia. Tapi katanya sulit sekali ketemu dia.” Cerita Rima pada sang suami.
Raga yang mendengarkan percakapan kedua orangtuanya tampak penasaran. Ia pun menoleh ke arah televisi dan keningnya mengerut seketika.
Wajah cantik dan dewasa saat ini masih jelas membuatnya ingat siapa wanita yang berdiri di sana saat ini. Enggan mengingat hal gila yang pernah ia lakukan, Raga seketika bergegas pergi.
“Ga, kok pergi? Mau kemana?” tanya Rima pada sang anak.
“Ada perlu, Bun.” jawabnya singkat namun tak menghentikan langkah kakinya.
Acuh dengan kepergian sang anak, Rima dan Dahlan kembali membicarakan sosok wanita di televisi itu. Bahkan keduanya beberapa kali tertawa melihat tingkah Gara yang menuntun langkah Tasha di atas podium saat ingin menandatangani berkas resmi yang akan mereka perlihatkan di depan banyak tamu undangan.
“Hah ini kan Tasha?” Di bagian tempat yang berbeda, dua gadis yang sebaya dengan Tasha di buat hampir tersedak makanan.
Mereka adalah Ruth dan Cika, kedua teman Tasha di masa sekolah.
“Wah Tasha jadi hebat selama ini nggak pernah mau ketemu kita, rupanya dia sedang meraih cita-citanya.” celetuk Ruth mengangguk-anggukan kepala.
“Yah pasti dia mau buktiin ke semua orang kalau dia itu bisa meski sudah di hina banyak orang.” Cika menimpali dengan bangga.
Bagaimana pun mereka tak pernah bertemu, namun kebaikan Tasha selama sekolah masih tetap bisa mereka ingat.
“Semoga dengan munculnya Tasha sekarang, dia mau ketemu kita lagi yah?” ujar Ruth penuh harap.
Cika pun menimpali dengan anggukan kepala. Berharap hubungan mereka akan seperti dulu lagi bersama Tasha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Leng Loy
Ternyata masih ada yang tulus bersahabat dengan Tasya
2024-04-07
5
Alinanggana
persahabatan bagai kepompong
2024-04-05
1