"Bagaimana perjalananmu, Raga? Sudah sangat lama Ayah menanti hari ini. Akhirnya orang yang Ayah nantikan sekian tahun tiba juga di perusahaan yang sebentar lagi akan beralih menjadi milikmu ini." Kedua tangan Dahlan tampak merentang menyambut kedatangan sang anak. Kedua pria berbeda usia itu tampak saling memeluk singkat lalu melepaskannya.
"Ayah sudah mempersiapkan ini semua untuk menyambutmu. Maka dari itu kami tidak ke bandara menjemputmu." jelas Dahlan yang di angguki oleh Raga.
Lagi pula ia juga tidak mungkin datang dengan di sambut kedua orang tua serta kerabatnya. Raga tidak ingin sang ayah dan bunda pusing dengan tingkah teman-temannya yang sulit di kendalikan itu.
Langkah Raga yang memasuki gedung kantor itu tampak di sambut meriah dengan para karyawan. Mereka serentak menundukkan kepala tanda hormat hingga seorang wanita paruh baya datang mendekati Raga.
"Bunda," Raga memeluk erat tubuh wanita itu dengan penuh kerinduan.
Rima Putri adalah bunda yang melahirkan Raga dan selama ini menderita stroke. Beruntung di detik terakhir kedatangan sang anak wanita paruh baya itu mulai sehat dan saat ini bisa berjalan normal meski ada sedikit gerakan yang sulit ia lakukan. Yaitu tangan yang masih terasa sedikit kaku.
"Akhirnya Bunda melihat anak Bunda lagi. Kamu sehat, Ga?" tanyanya dengan menatap nanar sang anak. Raga pun menganggukkan kepala senang. Ia begitu merindukan sosok bunda.
"Ayo sekarang potong tumpeng ini sebagai tanda syukur kamu telah menyelesaikan sekolahmu dan siap menjadi pemimpin di perusahaan ini." pintah Dahlan pada sang anak.
Di dampingi kedua orangtuanya, Raga memotong tumpeng yang berada di hadapannya. Seiring dengan potongan itu suara riuh tepuk tangan pun menggema di kantor yang menjulang tinggi itu. Hari bahagia begitu terlihat jelas di wajah semua yang hadir.
Banyak wajah yang cerah dengan kedatangan Raga hari ini. Berbeda dengan keadaan di Singapura.
Tasha tengah sibuk bermake up sementara Gara tampak sibuk mengomentari make up maminya.
"Kak, sudah jangan di ulangi lagi pakai lipstiknya." ujar Gara dengan menahan tangan sang mami.
Tasha menatapnya sejenak. "Kenapa, Gara? Mami belum selesai ini nanti celemotan loh." Tasha hendak menggerakkan tangannya lagi untuk meratakan lipstik di bibir namun tangan kecil itu tak juga melepaskan pergelangan tangannya.
Gara kecil menggelengkan kepala. "No, Kakak. Jangan cantik-cantik. Gara tidak mau ada yang suka sama Kakak." ujarnya membuatnya wajah Tasha melongo tak mengerti.
"Suka? Ini kan hanya lipstik. Bukan apa-apa, Gar. Kamu ini ada-ada saja sih."
"Kakak tidak boleh cantik-cantik di depan orang. Gara tidak mau Kakak di ambil orang." bocah kecil itu melepaskan tangannya dari tangan Tasha dan bersedekap dada. Bibirnya kembali ia keluarkan dengan jurus andalan mengambek.
Melihat itu lagi-lagi Tasha tak bisa menahan tawa. Ia mengusap kasar rambut Gara yang sudah di tata dengan serapi mungkin.
"Anak mami ini kenapa posesif sekali sih? Mami kan hanya pakai lisptik. Lihat kalau tidak pakai bibir Mami pasti pucat, Gar." Tasha pelan memberi pengertian pada sang anak meski rasanya begitu sulit.
Sebab Gara tetap tidak mau mendengarkannya. Pria kecil itu terus memanyunkan bibirnya. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca menahan tangis agar tidak jatuh.
"Air mata jangan jatuh, wajahku sudah di pakaikan bedak nanti jadi berantakan. Malam ini aku kan ingin foto yang terbaik di mall Singapura ini." gumamnya dalam hati yang sungguh menggemaskan sekali jika saja Tasha mendengar ucapan sang anak itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Kotin Rahman
jarakter gara trlalu dewasa Thoorr untuk anak usia 4tahun cara bicaranya sprti ank SMA.....mf ya thor walau hnya cerita tpi tlong tutur bhasanya d sesuaikan dengan umur.....ceritanya bgus walau udh tmat aku sukaa.....👍👍👍👍👍
2024-06-03
2
Nenti Malau
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-04-24
0
Maria Magdalena Indarti
gara posesif gemessss
2024-04-22
0