Untuk pertama kalinya tinggal di tempat yang berbeda, semangat Tasha tampak tak luntur sama sekali. Wanita itu bangun dengan sangat cepat, sementara di luar sana mentari belum saja menampakkan cahayanya. Sayup-sayup ia mendengar di sebelah kamarnya suara mengaji. Ada senyuman terlukis di wajah cantiknya.
"Aku sudah tinggal di tempat yang tepat sepertinya." gumamnya. Setidaknya Tasha tidak perlu khawatir jika ada yang dekat dengannya saat ini sebagai teman. Mereka adalah orang-orang yang baik.
Bergegas membersihkan diri, kemudian ia merapikan tempat tidur dan keluar kamar. Tasha sudah rapi pagi sekali, ia berniat untuk membeli bahan masak serta melihat-lihat sekeliling.
Selang beberapa menit, ia pun sudah tiba kembali di kos miliknya. Kedatangan Tasha di sambut hangat oleh teman sebelah kamarnya.
"Sudah beli sayur ternyata. Baru aja mau ngajak ke depan." celoteh Fani dengan wajah segar sehabis mengaji.
"Ini sudah beli banyak nggak usah ke depan lagi. Kita masak bareng aja langsung. Kamu mau kerja kan?" Tasha merasa mudah sekali akrab dengan wanita di depannya ini. Meski usia mereka sepertinya sedikit berbeda.
Cepat Fani menganggukkan kepalanya. "Iya, aku kerjanya jam setengah delapan kok." ujarnya yang di angguki juga oleh Tasha.
Memasak berdua di dapur, Tasha penasaran dengan pekerjaan temannya ini.
"Kerja di mana?" Suara Tasha tiba-tiba terdengar di sela memasak mereka.
"Kerja di matahari. Yah begitulah biar bisa sambil kuliah." tutur Fani yang membuat Tasha menoleh seketika.
"Kuliah? Berarti kuliah sambil kerja?" tanyanya yang di jawab Fani dengan anggukan kepala lagi.
Takjub tentu saja, Tasha sangat kagum dengan wanita seperti Fani. Ia tertunduk lemas membayangkan dirinya yang saat ini entah apa tujuannya ke depan. Sekolah SMA saja belum lulus, dan sekarang ia harus bekerja demi menghidupi dirinya sendiri serta anaknya kelak. Di usia muda ia harus di paksa berpikir dewasa semua karena kecerobohannya.
"Kamu memangnya kerja dimana?" Pertanyaan Fani akhirnya membuyarkan lamunan Tasha. Ia menatap lawan bicaranya dengan perasaan malu.
"Em...belum ada. Masih mau cari sih." jujur Tasha mengungkapkan tujuannya.
"Lulusan terakhir apa?" tanya Fani lagi.
Malu, Tasha pun menunduk sembari berkata. "SMA tapi berhenti di kelas tiga."
"Wah sayang banget. Pasti karena biaya yah?" tebak Fani yang tidak tahu jika Tasha merupakan keluarga mampu bahkan lebih dari mampu.
Tak ingin membuka jati diri, Tasha pun menganggukkan kepala mengiyakan jika ia orang yang sederhana.
"Mau kerja apa aja?" tanya Fani dan Tasha pun mengiyakan.
"Yasudah kalau begitu nanti aku bantu cari kerja yah?" celotehnya.
Keduanya pun tanpa sadar sudah menyelesaikan makan mereka usai memasak. Tasha sangat lahap mengisi perutnya sebab masakan Fani memang cukup nikmat meski hanya seadanya saja.
"Masakan kamu enak. Nanti aku coba belajar masak sendiri yah? kamu cukup liatin aku aja." Tasha girang berucap pada Fani. Mereka pun tampak sangat akrab meski baru bertemu satu malam.
Singkat cerita, kini adalah hari pertama Tasha bekerja di sebuah toko pakaian di salah satu mall. Berkat bantuan Fani, wanita itu akhirnya mendapatkan pekerjaan. Bahkan Tasha mengambil waktu kerja dari siang sampai malam. Yang biasanya toko itu di jaga dengan part time, tidak dengan Tasha kali ini. Merasa mendapatkan peluang untuk mencari uang, ia memilih bekerja sepanjang hari.
Tak ada pengalaman sama sekali dalam bekerja tak membuat Tasha kesulitan. Sebab ia memang anak yang aktif bertanya hingga pemilik toko pun suka dengan kinerja Tasha.
"Sha, makan siang dulu." ujar sang bos yang merupakan wanita paruh baya.
Namanya adalah Bu Nur. Beliau adalah pemilik toko baju yang menjadi tempat Tasha bekerja mencari uang saat ini. Sangat baik dan Tasha pun suka akan sikap bosnya yang ramah sama sekali tak ada kesan galaknya.
"Nanti saja, Bu. Masih nanggung ini setrikaannya." Tasha duduk sembari menyetrika baju yang baru saja di bongkar.
Bu Nur menggelengkan kepala melihat pekerjaan semua sudah beres meski masih siang. Tasha mulai pagi tak berhenti mengerjakan semuanya. Bahkan tanpa ia berkomentar, Tasha sudah memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Susunan yang menurutnya kurang pas akan di tata ulang.
"Kamu ini masih muda. Kenapa nggak sekolah? Padahal ibu lihat kamu sangat rajin." tutur Bu Nur yang membuat Tasha hanya tersenyum.
Tasha menarik napasnya dalam lalu menghembuskan kasar. "Lagi pengen milih bekerja saja, Bu." jawabnya tanpa bercerita panjang lebar.
"Sha, yakin kamu nggak nyesal? Sekolah itu penting. Pentingnya bukan untuk kita saja ke depannya. Tapi untuk anak kita kelak." Mendengar nama anak, Tasha sontak menoleh menatap wajah Bu Nur.
Ketakutannya akan kehamilan saat ini membuat Tasha was was jika orang berbicara anak. Meski video itu sudah tersebar di beberapa jaringan teman sekolahnya, namun Tasha masih berharap tak banyak orang yang mengetahui itu.
Ia pun belum siap untuk memberi tahu orang-orang di luar sana jika dirinya hamil. Rasanya ingin sekali Tasha mengurung diri selama sembilan bulan sampai melahirkan tapi rasanya itu hal yang mustahil.
"Permisi..." suara seorang wanita paruh baya tiba-tiba saja terdengar membuyarkan lamunan Tasha.
Bu Nur berdiri menyambut pelanggannya yang baru saja tiba.
"Wah kebetulan ibu datang. Ini ada stok baru loh." tutur Bu Nur menyambut pelanggannya dengan tangan yang mengarah ke bagian barang baru dan masih hangat bekas setrikaan itu.
Bukannya terfokus pada pakaian, wanita paruh baya itu justru fokus menatap wajah cantik yang duduk menata pakaian di sana.
"Itu kan Tasha? Wah seru nih buat pembicaraan di grup arisan. Pasti si Indri mati kutu lihat foto ini hahaha..." batin wanita itu yang justru sibuk memainkan ponselnya.
Tasha yang memang tidak begitu mengenali teman-teman sang mamah sebab begitu banyak hanya bisa acuh dan fokus pada pekerjaannya.
Pikirannya sibuk memikirkan apa yang Bu Nur barusan ucapkan. Pendidikan? Pendidikan seperti apa yang harus ia tempuh dengan keadaan seperti ini? Tasha sungguh ingin menangis saat itu juga. Semangat yang susah payah ia bangun tiba-tiba jatuh begitu saja kala Tasha ingat bagaimana ia dengan mudah mendapatkan banyak prestasi selama di sekolah. Rasanya menunjuk kampus mana saja yang akan ia masuki kelak akan sangat menyenangkan dengan nilai yang bagus serta prestasi yang banyak.
Seketika satu tetes air mata jatuh di pipi Tasha. Sakit membayangkan sekali lagi masa depannya yang sudah hancur. Hitungan bulan ia bahkan seharusnya sudah ujian SMA, namun semua harus sirna begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Jiwastuti
laki2 enaknya doang yang sebagai korban pihak perempuan yg membawa luka seumur hidupnya
2024-05-29
0
Leng Loy
Kasian sekali Tasya tapi itulah akibat dari perbuatannya
2024-04-07
3
Mey-mey89
...
2023-08-16
1