Satu hari menghabiskan waktu di luar kini di sebuah kamar hotel Tasha tampak tersenyum menikmati pemandangan yang paling indah di dunia. Yaitu wajah anak mungil yang empat tahun lalu ia berjuang hidup dan mati melahirkannya. Tangannya pelan mengusap kepala milik Gara. Dengkuran halus terdengar samar dari bibir bocah tampan itu.
Gara terlihat kelelahan seharian berjalan kesana kemari menghabiskan tempat spot foto yang tak ia biarkan terlihat mengganggur begitu saja. Bahkan Tasha yang merasa pusing dengan sang anak hampir menyerah ketika Gara meminta berbagai gaya memotretnya.
"Kamu lucu sekali sih, Gar? Nurun siapa sih eksisnya? Kenapa anak cowok tumben-tumben suka sekali berfoto?" Tasha terkekeh membayangkan sang anak yang beberapa kali sampai ngambek lantaran pengambilan gambar tangan sang mami tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
"Kakak, Gara capek. Ayo dong foto yang bagus. Yang Gara itu fokus tapi di belakangnya di bikin blur itu loh, Kak." salah satu kalimat yang membuat Tasha terkekeh gemas sampai mencium wajah tampan sang anak.
Ia tak suka ketika Gara tidur, sebab ia akan merasa kesepian.
Pelan wanita beranak satu itu pun bangkit dari samping Gara, tangannya meraih ponsel dan memperhatikan satu persatu hasil jepretannya. Sungguh sangat lucu semua gaya Gara. Tentu dengan kostum yang ia bikin sendiri.
Tanpa sadar semakin kesini hasil jahitan tangan Tasha sudah semakin bagus. Ia sendiri sangat suka dengan semua hasilnya yang di pakai sang anak. Tentu saja Gara hanya pemakai tunggal dari pakaian yang di buat khusus oleh Tasha.
Hampir tak ada pakaian yang Gara beli dari luar.
Tring tring tring
Dering ponsel di genggamannya seketika mengejutkan lamunan Tasha yang menatap beberapa foto sang anak. Segera tangannya mengangkat panggilan sang mamah.
"Sha," suara lembut terdengar mendayu dari seberang telepon.
"Iya, Mah?" Tasha bersuara dengan pelan. Takut jika Gara akan terbangun kala mendengar sang mamah menelpon.
Gara yang meminta sebelum tidur menelpon sang mamah sampai tertidur saat Tasha menghubungi Indri beberapa kali namun tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Tadi mamah ada kegiatan sosialisasi, makanya nggak dengar kalau hp mamah bunyi. Kemana Gara? Pasti dia yah yang bikin kakaknya ini nelpon sampai berkali-kali?" tebak Indri membuat Tasha terkekeh mendengarnya.
"Iya, Mamah benar. Tapi sekarang dia sudah tidur, Mah. Kecapean sepertinya." ujar Tasha melihat sang anak sekali lagi tampak menggemaskan.
"Sudah bertemu sama orang yang mau kerja sama itu?" tanya Indri penasaran.
"Iya, Mah. semua sudah selesai. Tingga Tasha tunggu saja mereka mengirim bahan sesuai yang Tasha desainkan." ujarnya.
"Mah," panggilnya setelahnya.
"Ada apa, Sha?" tanya Indri.
"Kayaknya Tasha harus ambil tenaga photographer deh, Mah. Anak kecil ini benar-benar bikin Tasha nyerah buat fotoin terus. Malah ngambek terus kalau hasilnya nggak sesuai sama yang dia mau." Tasha mengadu akan kejadian hari ini.
Sebenarnya bukan hari ini saja, kerap kali ketika mereka berdua berjalan, Gara sering mempermasalahkan tentang gaya sang mami memfotonya. Namun, karena waktu mereka yang terbatas jalan akhirnya hal itu tidak terlalu di pusingkan oleh Tasha. Dan hari ini mereka punya waktu cukup banyak berjalan kesana kemari dan Tasha tidak tahu jika hal itu akan sangat memusingkan dirinya.
"Yah Mamah nurut kamu saja. Kamu yang akan mendampingi Gara kedepannya. Lakukan selagi itu baik untuk kamu dan Gara, Nak. Tapi..."
Ragu Indri berkata. "Tapi apa, Mah?" tanya Tasha penasaran.
"Sepertinya Gara itu bukan butuh sosok photographer deh, Sha. Tapi dia itu butuh sosok-" lagi Indri tak melanjutkan ucapannya dan kali ini Tasha yang memotongnya langsung.
"Mamah, Tasha akan fokus dengan Gara dan kerjaan. Bukan hal lain. Tasha belum bisa memikirkan hal lainnya. Yasudah, Tasha mau istirahat dulu yah, Mah? Selagi Gara tidur. Malam nanti sepertinya kami hanya ke mall saja." ujarnya memilih untuk segera mengakhiri pembicaraan karena tak ingin membahas hal yang menurutnya tak ingin ia bahas.
Tasha sadar cepat atau lambat usianya akan semakin bertambah, namun entah mengapa ia begitu sulit untuk membuka hati atau memikirkan hal lainnya. Terlebih dengan lingkungannya yang semakin sempit sungguh sulit untuk bertemu orang-orang baru. Tasha bahkan sudah merasa nyaman hidup dengan keluarganya saja dan pelanggannya.
"Aku belum siap bertemu orang baru dan menceritakan hal memalukan itu." lirihnya menatap nanar sang anak yang masih terlelap dengan tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Endang Oke
untung ansknya laki2
2024-05-29
0
Leng Loy
Tasya trauma apalagi jika menyangkut laki"
2024-04-07
4
Mey-mey89
,,,
2023-08-16
1