"Papah..." Ucapan dari bibir Indri terhenti kala tangan besar sang suami mendarat tepat di kepala Tasha.
Marah, kesal, malu, dan sangat kecewa jelas menguasai pikiran pria paruh baya itu. Kebanggaannya selama ini pada sang anak hilang dalam sejekap. Matanya yang merah bahkan sampai meneteskan air mata tanpa bisa di tahan lagi. Kaget tentu saja, Indri sangat kaget melihat sang suami begitu murka memukul anak mereka.
Secepat mungkin ia memeluk tubuh Tasha dan melindungi sang anak yang tak melakukan perlindungan atau pun perlawanan.
"Papah, cukup. Ada apa ini? Kenapa Papah main tangan seperti itu? Tasha anak kita, Pah." ia menatap tajam sang suami sembari menghalangi tangan sang suami yang hendak menyerang Tasha lagi.
"Minggir, Mah. Anak ini harus kita kasih pelajaran." maki Firman yang mendorong tubuh sang istri agar terpisah dari Tasha.
Sekuat tenaga pula Indri berusaha melindungi sang anak hingga akhirnya Tasha bersuara dan menghentikan pergerakan kedua orangtuanya.
"Mamah, sudah Mah. Biarkan Papah menghukum Tasha, Mah. Tasha memang salah." tuturnya membuat sang mamah terdiam mematung. Ia sangat bingung sang suami mau pun anak tidak ada yang berucap apa pun padanya.
"Katakan, ada apa ini. Katakan Papah, Tasha katakan pada Mamah apa sebenarnya yang terjadi?" Tak ada yang menjawab selain tangan Firman yang bergerak memberikan ponsel sang anak pada istrinya.
Ragu Indri mengambil dan melihat apa yang di tunjukkan sang suami. Bibirnya terbuka sangat lebar lantaran syok serta tangan yang menutup bibir itu. Air mata jatuh begitu saja. Tasha yang melihat sang mamah meneteskan air mata semakin sedih. Ia sampai memejamkan mata merasakan sakit yang teramat di dadanya.
"Maafkan Tasha, Papah. Maafkan Tasha, Mamah." ia berucap tanpa bisa mengatakan semua yang terjadi. Sebab ia sadar semua terjadi berdasarkan kesadarannya dengan Raga.
Hening sejenak, Firman terduduk di lantai kamar sang anak memegang kepalanya yang terasa berat sekali. Sementara Indria terdiam memikirkan apa yang terjadi pada keluarganya saat ini. Rasanya seperti bukan nyata ia melihat sang anak yang selama ini bahkan tak pernah bergaul dengan laki-laki begitu dekat tiba-tiba melakukan adegan ranjang dengan pria yang tidak terlihat siapa orangnya.
"Siapa orang itu, Sha?" lirih Indri bertanya.
Tasha menangis sesenggukan tak berani menyebutkan nama pria itu.
"Biarkan dia bertanggung jawab dengan perbuatannya, Mah." Suara Firman tiba-tiba terdengar kembali. Bahkan wajah pria paruh baya itu tak sedikit pun berniat menatap sang anak.
"Sekarang kemasi barang kamu dari rumah ini dan pergilah." Indri terkejut sekali. Ia menatap sang suami sembari menggelengkan kepala tak setuju mendengar keputusan sang suami.
"Papah," tegurnya.
Firman sama sekali tak bersuara setelah mengatakan itu. Pria itu melangkah meninggalkan kamar sang anak. Kecewa sekali rasanya, selama ini begitu membanggakan sosok Tasha yang sangat penurut padanya bahkan selalu perhatian padanya.
Dan Tasha sudah menduga akan hal terburuk yang terjadi padanya. Ia pun bangkit dari duduknya mengusap sedikit darah yang terlihat di pelipisnya akibat pukulan sang papah.
"Papah! Tasha!" Indri bingung, ia menoleh sang suami yang tak terlihat lagi. Lalu menoleh pada Tasha yang sudah berdiri menuju lemari pakaiannya.
"Papah tunggu." ia berniat mengejar sang suami agar Firman menarik kata-katanya.
Sebelum meninggalkan kamar, ia memberi pesan pada Tasha. "Sha, tunggu sebentar. Biarkan Mamah bicara dengan Papah kamu. Jangan kemana-mana." Lantas setelahnya ia pun berlari menuju kamar yang menjadi tempat menenangkan diri Firman saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Endang Oke
lapir polisi klu raga tdk mau tabggung jawab kurang ajar si raga engfa mau tanggung jawab malah nyebarun viduo begitu! pinya dendam apa si raga sama tasya. sampai segutunya menghancurkan segalanya buat tasha.
2024-05-29
0
Trisna
Dari sini kita tahu, Se populer apa pun kita di tempat kita pijak, kalau pergaulannya salah ya Hancur..
2024-05-16
1
Chercher
raga jahat
2024-05-06
0