"Kak, sekali lagi dong fotonya. Yang jadi tinggi itu loh." Gara berpose layaknya pria dewasa, bahkan Tasha yang menjadi photographer sampai di buat lelah. Wanita itu dengan sabarnya mengikuti segala keinginan sang anak kala mereka berjalan-jalan.
"Begini bukan?" tanyanya mendekati sang anak memperlihatkan hasil jepretannya.
Berharap Gara kecil akan puas, namun nyatanya bocah itu menghela napas lelah. "Aduh Kakak payah. Ini terlalu biasa, lihat kakiku masih tetap pendek." celetuk Gara mengomentari.
Tasha sama sekali tidak marah, justru ia terkekeh melihat sang anak yang begitu totalitas dalam bergaya. Kembali ia pun mengambil gambar sang anak.
Untuk terakhir kali akhirnya Gara berteriak senang. "Ini Gara suka, Kak." ujarnya. Tasha pun tersenyum melihat anaknya menampakkan senyum ceria.
"Sepertinya kamu ini harus memiliki photographer pribadi kalau jalan begini. Mami kesulitan mengerti cara memotret." keluh Tasha yang berpikir harus mencari tenaga ahli kamera. Sebab sadar sang anak begitu sangat narsis.
Bukannya menolak, Gara justru menganggukkan kepala setuju. "Iya biar fotonya semakin bagus dan banyak, Kak." ujarnya bersemangat melanjutkan perjalanan lagi.
Keduanya terus bergandengan tangan, Gara sama sekali tak mau melepas genggaman tangannya itu pada sang kakak. Begitu takut jika Tasha sampai kenapa-kenapa.
Pelan Tasha menatap sang anak yang berjalan menarik tangannya. Lucu sekali namun ia begitu bahagia memiliki anak seperti Gara. Sangat dewasa dan begitu penyayang.
"Gar, kita selfie yuk? dari tadi nggak ada loh fotonya kita berdua." ujar Tasha yang ingin mengabadikan momen keduanya.
"Tapi wajah Kakak harus senyum. Gara tidak mau foto kalau kakak wajahnya datar seperti itu." celetuknya membuat Tasha malu. Sebab ia memang jarang berfoto hingga anak sekecil Gara pun bisa mengomentari gayanya kala berfoto.
"Iya iya, nih senyum seperti ini kan?" tanyanya dan Gara menggeleng. Secepatnya tangan mungil Gara kecil menari kedua sudut bibir Tasha dan membukanya sedikit agar terlihat gigi kecilnya.
"Ini akan lebih baik, Kak." celetuknya.
Keduanya akhirnya berhasil mendapatkan beberapa gambar. Meski Tasha sedikit pusing kala menuruti permintaan sang anak dengan berbagai pose wajah. Namun, ia senang sekali bisa berfoto dengan Gara berlatar belakang patung singa dengan air mancur di mulutnya.
Segera Tasha mengirimkan gambar itu pada sang mamah dan papah. Sungguh gambar yang sangat indah di mata kedua orangtuanya. Tasha dan Gara benar-benar seperti kembar berbeda jenis kelamin saja.
"Kita benar-benar terasa memiliki dua anak, Papah." ujar Indri tersenyum pada sang suami. Firman tampak mengangguk setuju.
Kembali dengan suasana Singapura. Di sini Gara dan Tasha akhirnya memutuskan untuk ke restauran yang tidak begitu jauh. Di sana sangat ramai. Gara begitu antusias melihat kesana kemari. Pemandangan yang amat indah dan bersih.
"Nggak mau di pake lagi kaca matanya?" tanya Tasha melihat sang anak yang lucu sampai menjatuhkan kaca mata hitam itu di batang hidung paling bawah. Mata Gara bergerak kesana kemari memperhatikan apa pun yang ia lihat.
"Nanti saja, Kak. Di sini indah sekali rasanya. Gara betah di sini." celetuknya membuat pikiran Tasha terfokus dengan ucapan sang anak.
"Gar, kamu suka di sini? Apa mau kita tinggal di sini?" tanya Tasha membuat Gara menatapnya dengan tatapan tanya.
"Memangnya bisa, Kak?" tanyanya.
Pelan Tasha menganggukkan kepala. Entah mengapa rasanya tidak begitu buruk jika ia harus pindah negara demi masa depan mereka. Setidaknya Tasha akan mudah bergerak di negara orang ini tanpa bertemu siapa pun di masa lalunya.
"Bisa dong kenapa tidak? kita bisa bekerja dengan bebas di sini." ujarnya tersenyum namun sedetik kemudian Tasha menghilangkan senyum kala melihat wajah murung sang anak.
"Hei kenapa sayang?" tanyanya memegang dagu Gara yang menunduk.
"Gara mau tetap bersama Mamah dan Papah, Kak." jawabnya sedih membayangkan jika mereka tinggal di Singapura pasti kedua orangtua itu tidak akan ikut. Sebab Gara tahu bagaimana sang papah yang sibuk bekerja.
"Kan ada Kakak. Nanti kita akan sering main ke rumah Papah dan Mamah. Kakak janji." Tasha begitu nampak bersemangat membujuk sang anak.
Gara kembali menggelengkan kepalanya. "Kata orang meninggalkan orangtua itu adalah dosa, Kak. Anak harus berbakti pada orangtuanya."
"Oh jadi itu masalahnya. Kan Kakak sudah bilang Gara ittu anak Mami. Bukan anak mamah dan papah. Mereka itu kakek dan nenek Gara." jelasnya dengan pelan agar sang anak bisa memahami. Sayangnya, justru Tasha semakin mengundang rasa ingin tahu Gara.
"Kalau Kakak orangtua Gara, terus papah mana? Kenapa tidak ada papah seperti papah Firman?" celetuknya dengan wajah polos.
Seketika Tasha membungkam bibirnya tak tahu harus bicara apa saat ini. Beruntung kedatangan makanan mereka memecah kecanggungan yang terjadi.
"Yasudah sekarang kita makan dulu yuk? habis itu baru lanjut jalan-jalan lagi. Gara mau beli apa?" tanya Tasha berusaha membuat sang anak lupa akan pembahasan mereka barusan.
Di usia Gara yang masih kecil rasanya sulit untuk menjelaskan semua yang terjadi dan Tasha pun belum siap menceritakan asal muasal hadirnya Gara kecil. Sebab semua terdengar begitu memalukan baginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Ramma Dharma
garanya terlalu dewasa, untuk anak umur 4 tahun.
2024-04-22
1
Pujar Bee
kenapa jadi kakak adek ya... bukannya itu ibu dan anak? 😇
2024-04-14
0
Leng Loy
Semoga saja Tasya tidak akan pernah memaafkan laki" egois dan tidak bertanggung jawab itu
2024-04-07
1