Rasa lelah terasa merasuk ke dalam tubuh kecil Gara. Ia bahkan sudah terlelap sebelum tiba di rumah. Tasha dengan tubuh mungilnya harus menggendong sang anak hingga masuk ke kamar hotel.
"Nona Tasha, biar saya bantu." wanita yang selalu menemaninya tampak menawarkan jasa namun Tasha menolak.
"Tidak usah, Bu. Saya bisa sendiri. Ibu pulang saja istirahat terimakasih yah sudah menemani kami jalan-jalan. Maaf jika Gara terlalu banyak maunya. Lain kali saya akan berusaha keras lagi memberinya pemahaman." Tasha ingat selama berjalan sang anak begitu merepotkan. Bukan untuk hal lain, hanya perkara foto saja yang selalu menjadi masalah.
Berpisah di loby hotel, kini Tasha akhirnya tiba di kamar. Pelan ia membaringkan tubuh sang anak di kasurnya sendiri setelahnya ia melepaskan satu persatu pakaian Gara dan mengganti dengan piyama tidur. Setelah usai dengan segala keperluan Gara barulah Tasha mengurus dirinya sendiri.
Tak pernah sekali pun ia mengeluh lelah mengurus sang anak. Bahkan sejak bayi, Tahsa berinisiatif mengurus anaknya sendiri. Tanpa adanya sosok pendamping sebagai suami, ia sama sekali tak pernah memikirkan akan sosok pria yang sudah membuat wajahnya di telah bumi.
Tasha sungguh tak pernah ingin mengingat sosok pria yang benar-benar membuatnya sangat marah sampai detik ini. Meksi pelan ia lupa akan orang itu jika tidak ada yang membahasnya.
"Sha...baru pulang?" Indri baru saja menelpon saat Tasha tengah membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah serta kapas di depan meja rias di hotel itu.
"Iya, Mamah. Agak dari tadi sih cuman bersih-bersih dulu." ujarnya memberi penjelasan jika mereka tidak pulang terlalu larut. Takut jika orangtuanya khawatir di sana.
"Bagaimana Gara?" Kini bukan Indri yang bertanya melainkan Firman sang Papah.
Mendengar nama bocah itu di sebut, Tasha seketika menggelengkan kepala dan menghela napasnya kasar. "Anak itu seharian bikin ibu yang menemani kami kasihan, Pah. Selalu protes setiap meminta foto. Setiap tempat yang bagus pasti dia langsung bergaya." cerita Tasha yang mengingat kejadian siang hingga malam tadi sontak mengundang tawa kedua orang di seberang sana.
"Yah maklum, Sha. Gara kan baru kali ini puas jalan-jalannya. Makanya dia nggak mau sia-siakan kesempatan." celetuk Indri memberi pengertian pada sang anak.
"Iya, Mamah benar." jawab Tasha.
Hingga cukup lama keduanya pun berbincang penuh tentang Gara. Kini Tasha memilih untuk segera istirahat sebab besok ia akan berjalan kembali dengan sang anak.
"Astaga aku hampir lupa. Pakaian yang aku bawa belum aku siapkan di gantungan." tuturnya mengingat jika esok lusa akan ada pameran di salah satu hotel yang di adakan Tasha. Ia pun sudah meminta bantuan dengan Bu Dewi selaku rekan kerjanya saat ini.
Segera wanita itu bangkit dari tidurnya dan memerikan barang yang ia bawa lalu menyusunnya. Tak sampai di situ, Tasha justru terinspirasi untuk menambah beberapa aksen pada pakaian yang akan ia pamerkan lusa nanti. Tanpa perduli jika waktu sudah malam, Tasha dengan teliti mengerjakan semuanya. Sesekali matanya melirik sang anak yang bergerak saat tertidur.
"Kamu pasti mimpi jalan-jalan sambil foto yah, Gar? ya ampun lucu banget sih." Tasha terkekeh di tengah keheningannya.
***
Samar terasa tepukan tangan kecil di bahu kala pagi sudah menyapa. Kamar yang semakin cerah akibat sinar mentari yang turut menyorot membuat wajah lelah Tasha sulit untuk membuka mata. Sebelah mata ia buka kecil perlahan lalu melebar.
Yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan bocah kecil yang masih memakai piyama dengan rambut yang berantakan. Sungguh menggemaskan di mata Tasha.
"Gara?" ujarnya menyapa sang anak yang tersenyum kecil padanya.
"Kakak, kenapa tidur sambil duduk?" tanyanya polos melihat Tasha yang terduduk di lantai bawah dengan tangan yang masih memegang jarum berisi benang.
"Oh, semalam Mami ketiduran. Kamu sudah bangun dari tadi yah?" ujar Tasha melihat sang anak yang tampak menghabiskan susu di gelas yang entah kapan ia buat.
Pelan Gara menganggukkan kepala. Tasha sangat suka melihat anaknya yang sering kali bersikap dewasa tanpa ia duga.
"Lain kali bangunkan Mami saja. Jangan membuat sendiri. Nanti ada waktunya, bagaimana kalau tangan Gara kena air panas? Kan bahaya." Tasha memperingati sang anak.
Bukan tak suka jika anaknya terlalu cepat mandiri, namun ada kekhawatiran tersendiri tiap kali Gara banyak melakukan hal yang menurutnya belum waktunya.
"Iya, Kak." jawab Gara patuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Leng Loy
Gara ga suka banget panggil Tasya Mami
2024-04-07
2
Alinanggana
kakak mami
2024-04-05
0
Mey-mey89
,,,
2023-08-16
3