Suasana berbeda dengan salah satu bandara di Indonesia. Keramaian terjadi kala beberapa pria dan dua wanita berkumpul dan menyerbu satu orang pria tampan yang baru saja keluar dari pintu kedatangan. Tubuh yang berbeda jauh dari masa SMA kini membuat beberapa temannya terpukau. Ketampanan yang ia miliki justru tampak berkali-kali lipat jauh lebih tampan dari sebelumnya. Namun, wajah tengil yang sering ia tunjukkan nyatanya kini sudah berganti menjadi wajah datar.
"Tolong jangan seperti ini." suara khas berat nan terdengar formal tentu saja membuat pelukan di tubuhnya terlepas begitu saja.
Semua saling menatap bingung pasalnya mereka selalu melakukan hal seperti itu tiap bertemu. hanya satu tahun terakhir ini saja mereka benar-benar tidak ada bertemu lantaran sibuk dengan masa depan mereka masing-masing.
"Raga, kenapa sih? kamu nggak lagi lupa ingatan kan?" Salah satu wanita yang ada di antara mereka akhirnya angkat suara.
Namanya adalah Vira, dia adalah wanita yang juga teman seangkatan dengan Raga. Satu-satunya wanita yang menyodorkan tubuhnya di waktu terakhir Raga berada di Indonesia sebelum keberangkatannya ke luar negeri untuk kuliah.
"Apaan sih kalian? Sudah ayo pergi. Jangan buang-buang waktu. Dua jam lagi saya sudah harus ke kantor Ayah." Semua teman yang menyambut kedatangan Raga di bandara saling mengedikkan bahu tak tahu apa yang terjadi pada temannya ini. Mengapa Raga berbicara seolah tengah menjaga jarak dari mereka. Bahasa yang formal dan terkesan kaku serta pelukan mereka yang Raga tolak mentah-mentah.
Tiba di salah satu cafe tempat mereka dari dulu, semua tampak memesan makanan serta minuman alkohol yang berkadar rendah sebagai pelengkap mereka siang itu.
"Ga, lu nggak pesan minuman? Gue pesanin yah?" tanya Firdan yang penasaran sebab Raga hanya memesan roti berisikan daging dan air mineral satu gelas saja.
Lagi-lagi sikap raga membuat mereka semua bertanya, apakah benar yang di hadapan mereka saat ini adalh Raga Mahendra. Sungguh semuanya terasa asing, bahkan Raga yang biasa tak akan tahan melihat wanita di dekatnya siapa pun itu, kini tampak acuh. Dengan santainya Vira dan Bunga duduk di dekat Raga, sayang mereka tak mendapat kode apa pun dari pria tampan ini.
"Ini saja sudah cukup. Kalian nikmati saja semua makanannya. Nanti biar saya yang bayar." ujar Raga mendapat ledekan dari temannya.
"Nah kalo ini memang asli Raga Mahendra. Tapi kok sikap lu dingin banget ke kita? Apa kita ada salah?" tanya Bondan yang penasaran.
"Sudah santai saja. Jangan berpikiran yang aneh-aneh." ujar Raga acuh.
Jika beberapa tahu lalu mereka akan heboh tiap kali berkumpul seperti ini, tidak untuk siang ini. Keheningan terjadi kala semua menikmati makan siang mereka di cafe itu. Bahkan Raga tampak sibuk memainkan ponselnya entah apa yang ia lakukan.
Hampir satu jam mereka habiskan berkumpul tanpa adanya tawa di antara mereka, akhirnya Raga pamit lebih dulu. Pria itu bergegas membayar semua tagihan dan segera pamit untuk pergi.
"Terimakasih yah sambutannya. Saya harus ke kantor sekarang." Raga bergegas pergi tanpa menghiraukan bagaimana para temannya keheranan.
"Ada apa sih sama dia?" celetuk Bunga yang tak bisa jika tidak bertanya.
Vira menanggapi dengan bahu yang ia angkat.
"Iya, berasa lagi ngomong sama om Dahlan saja. Tegang dan formal. Apa Raga ada masalah?" celetuk Firdan menduga.
"Masalah? Nggak sih. Wajahnya santai kok." sahut Jeri lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Maria Magdalena Indarti
ayo bertamu sm Gara. ingat ga sm anaknya
2024-04-22
0
Leng Loy
Mungkin terjadi sesuatu makanya sikapnya sekarang berubah
2024-04-07
0
Yaser Levi
keseringan ngewek..udah bosan kali...apa si otongnya udah melipir ke bawah ,apa jd GAY 😂😂
2024-04-07
1