Pekerjaan terkendala, semua aktifitas di rumah Firman tampak mereka abaikan. Rumah yang selalu terasa hangat akan keharmonisan hilang begitu saja kala permata di rumah mereka juga menghilang entah kemana. Sosok Tasha yang selalu menjadi penyemangat kedua pasangan itu kini tak lagi ada di tengah-tengah mereka.
"Mah, ayo makan. Mamah sudah tidak makan sejak kemarin. Itu pun kemarin lusa makan hanya roti saja." Firman berusaha tegar membujuk sang istri yang hanya terbaring lemah dan meneteskan air mata.
Tak ada jawaban atau gerakan mulut yang di berikan Indri, sang suami pun kembali meletakkan makan itu di atas nakas. Ia memeluk sang istri sembari meneteskan air matanya.
"Papah juga merasa kehilangan Tasha, Mah. Tolong Mamah jangan buat Papah merasa bersalah seperti ini. Papah tidak kuat jika harus kehilangan anak kita dan Mamah sekali gus. Cukup semuanya, Mah. Jangan mendiamkan Papah seperti ini terus."
Air mata tanpa sadar menetes di kedua pipi Indri. Hingga tangisan itu buyar saat suara dering ponsel beberapa kali terdengar. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba menghampiri Indri saat itu. Segera tangannya bergerak mengambil benda pipih itu dan melihat apa yang membuat benda itu ribut sejak tadi.
"Tasha,"
"Pah, ini Tasha. Anak kita di sini, Pah." Ia berteriak syok melihat sang anak dan Firman segera merebut benda itu dari tangan istrinya.
Firman melihat jelas benar yang ada di dalam foto adalah anak mereka.
"Mamah, siapa yang mengirim ini?" tanya Firman.
"Tidak penting, Pah. Ayo sekarang kita temui Tasha. Keburu dia pergi, Pah. Ayo, papah." bergegas bangkit dari tempat tidur, Indri sampai meninggalkan sang suami yang berjalan di belakangnya setengah berlari.
Keduanya memasuki mobil dan menuju tempat yang sudah Indri arahkan pada sang suami. Bukan ia tak tahu tempat yang di share barusan di grup kelompok mereka. Rasa malu yang di harapkan sang teman sama sekali tak Indir pikirkan. Yang terpenting saat ini adalah ia bertemu dengan Tasha.
Permata mereka akhirnya kini kembali juga. Indri sungguh tak sabar bertemu dengan sang anak. Ia ingin sekali memeluk Tasha dan segera membawa ke rumah kembali. Sepanjang jalan bahkan wanita itu beberapa kali meminta sang suami untuk menjalankan mobil lebih cepat.
"Pah, tambah lajunya. Nanti Tasha keburu pergi." ujarnya.
"Mah, ini sudah laju. Jangan terlalu ngebut bahaya." Firman mengingatkan sang istri dan memintanya sedikit bersabar.
Beberapa kali wanita itu mencoba menghubungi Tasha, namun ponsel sang anak masih juga tak aktif. Sepertinya Tasha sudah mengganti nomor atau sama sekalian dengan ponselnya.
"Tasha, ini di taruh ke belakang saja. Sepertinya ada cacatnya biar saya ajukan pengembalian ke gudang saja." Bu Nur meminta Tasha untuk mengambil pakaian di tangannya.
Patuh Tasha pun melakukannya.
"Tumben sih ibu tadi nggak ada belanja. Biasanya dia itu selalu borong kalau ada barang baru." Bu Nur pun heran sebab wanita langganannya barusah tak biasanya langsung pergi tanpa membeli satu baju pun di tokonya.
"Kan tadi beliau sudah bilang, Bu. Kalau ada urusan mendadak dan sangat penting." sahut Tasha yang di angguki oleh Bu Nur.
Wajah wanita paruh baya itu sedikit kecewa. Ia sudah tersenyum sangat lebar saat pelanggannya datang tadi. Namun, rejeki belum beruntung di tangannya hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Kotin Rahman
jngn heran bu nur org itu gk jdi blnja krna mau mnggosib tntang tasha....biasa ibu" julid bgtu...lambenya suka ewer"n 😞😞😞😞
2024-06-03
0
Leng Loy
Gimana mau beli, dia buru" pergi mau menyebarkan gosip
2024-04-07
1