"Dada Mamah, Papah. Gara istirahat dulu yah?" Bocah tampan itu tampak melambaikan tangan dan tersenyum melalui panggilan video.
Mereka baru saja memberikan kabar jika sudah tiba di Singapura tepatnya di salah satu hotel yang Tasha tempati selama beberapa hari ke depan. Keduanya pun bergegas menarik selimut untuk tidur. Dua kasur yang berdekatan membuat keduanya tidur saling berhadapan meski tidak berdekatan.
Tasha sejak dini mengajarkan tidur sendiri pada sang anak, meski beberapa waktu ia akan meminta tidur memeluk sang mami.
"Hari ini Gara bobok di situ yah? Besok baru bobonya di sini lagi." ujar Tasha dan Gara pun mengangguk.
Pelan matanya kembali tertutup lantaran masih merasakan kantuk akibat perjalanan panjang.
***
Wajah tampan dan cantik yang kini saling bergandengan tangan menjadi pusat perhatian beberapa pekerja di salah satu perusahaan yang berdiri di Singapura itu. Tasha beberapa kali tersenyum memberi sapaan hangat pada mereka semua. Sementara Gara dengan wajah coolnya serta kaca mata hitam yang menjadi ciri khasnya jika berjalan siang hari tampak memukau di mata wanita dewasa.
Ada yang gemas sampai ingin mendekati Gara. Keduanya di arahkan menuju ruang salah satu pemilik perusahaan itu. Pelan, ketukan pintu membuat pintu di depan Tasha terbuka lebar.
"Oh Nona Tasha?" seorang wanita paruh baya adalah pemilik perusahaan besar itu. Namanya adalah Dewi Maharani.
Pelan Tasha mengangguk. "Iya benar, Ibu. Saya Natasha Veronika." Tasha mengulurkan tangan dan di balas cepat oleh wanita paruh baya itu.
Tasha dan Gara pun segera di persilahkan untuk masuk ke ruang kerjanya. Di sana Gara terpukau melihat pemandangan dari atas gedung yang menyorot ke arah laut yang rupanya tak begitu jauh.
Tasha pun duduk bersama Bu Dewi, sementara Gara sibuk membenarkan kaca mata hitamnya. "Kakak, itu bagus sekali." tunjuknya pada laut biru di sana.
"Wah siapa sih ini namanya? tampan sekali?" tanya Bu Dewi begitu gemas.
"Namanya Gara Federik, Bu Dewi." ujar Tasha yang melihat sang anak sangat antusias dengan pemandangan hingga tak menghiraukan pertanyaan Bu Dewi.
"Ternyata tidak hanya di gambar saja menggemaskannya. Tapi nyatanya jauh lebih menggemaskan." Bu Dewi tersenyum menatap bocah yang begitu menarik perhatiannya.
Keduanya pun menghabiskan waktu membahas kerja sama antara perusahaan dan juga usaha yang di miliki Tasha. Berharap dengan kerja sama, Tasha akan mendapat peluang lebih besar lagi melebarkan namanya. Toh kontrak ini hanya berlaku satu tahun saja. Tentu tak akan menjadi masalah.
"Tapi, apa tidak masalah Bu jika saya tidak bisa selalu bertemu dengan anda? sebab saya lebih terbiasa dengan lingkungan yang sepi." pelan Tasha pun mulai mengutarakan niatnya. Sampai detik ini pun ia belum siap bertemu dengan banyak orang.
Masa lalu yang selalu membayangi dirinya rasanya sudah merusak kepercayaan diri Tasha. Tanpa tahu permasalahannya, Bu Dewi mengangguk.
"Tidak ada masalah tentunya. Kita akan kerja sama dengan kemampuan masing-masing. Jika ada hal yang penting untuk di bahas dalam kerjaan saya akan mengunjungi anda ke rumah di Indonesia tentunya. Jangan khawatir Nona Tasha." Tasha tersenyum senang mendengarnya.
Ia pun membubuhkan tanda tangan serta cap jempol untuk Gara yang akan menjadi model dari pakaian miliknya dan membawa nama perusahaan Bu Dewi. Alva Fashion satu-satunya perusahaan yang berhasil mengajak kerja sama Tasha.
"Saya benar-benar tidak menyangka akan bekerja sama dengan perusahaan Ibu Dewi." Tasha terasa seperti mimpi mendapatkan tawaran dari perusahaan besar.
"Justru saya yang senang, Nona Tasha. Sebab banyak designer yang meminta kerja sama dengan saya namun saya merasa kurang puas dengan hasilnya. Tapi entah mengapa karena pakaian yang anda buat untuk cucu saya, saya benar-benar jatuh hati. Beruntung menantu saya juga memberi tahu jika pembuatnya adalah anda. Hingga saya semakin tertarik saat melihat banyak katalog dari hasil anak lucu ini yang menarik perhatian saya. Kalian benar-benar adik kakak yang serasi. Saya tidak sabar menantikan katalog perusahaan Alva Fashion akan memunculkan hasil tangan anda Nona Tasha dan hasil foto dari Gara."
Beberapa menit mereka habiskan untuk berbincang usai kesepakatan kerja sama, kini sudah waktunya Tasha undur diri. Melihat Gara yang sudah mulai bosan dengan duduk diam di sofa ia pun tidak tega. Sesuai janji, di sini mereka akan banyak berlibur.
"Baiklah, Bu Dewi. Kami harus segera pergi. Sepertinya Gara sudah tidak sabar untuk jalan-jalan."
Keduanya berpisah dengan saling menjabat tangan. Namun, Tasha di buat kaget saat Bu Dewi justru memeluknya erat. Ada rasa nyaman yang ia rasakan.
"Hati-hati yah? Saya sudah menyiapkan asisten untuk mengantar anda kemana pun selama di SIngapura bersama Gara. Jangan di tolak, saya akan sedih." Bu Dewi tersenyum kala melihat wajah Tasha yang kaget.
"Bu, saya rasa itu..."
"Tidak ada yang berlebihan. Terimalah jasa asisten saya, Nona Tasha. Saya tidak bisa menemani kalian berjalan-jalan dan itu sebagai gantinya." Tak enak jika harus menolak. Akhirnya Tasha pun setuju.
"Dada, Oma..." ucap Gara melambaikan tangan pada Bu Dewi tanpa di suruh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Chercher
ibunya raga kah?
2024-05-06
0
nebula
jangan² bu dewi ibu nya raga..nenek nya gara dari bapa kandungnya
2024-05-05
1
Leng Loy
Bu Dewi merasa nyaman dengan Tasya
2024-04-07
1