Makan siang...

Joan keluar ruang dimensi pertaniannya dan memasak bubur seperti yang biasa dilakukan ibunya, biasanya ibu setelah pulang dari pekerjaannya. Ibu langsung memasak bubur bagi keluarganya.

Meskipun mereka mendapatkan lima karung beras dari tuan Wang, ibu tidak memasak nasi karena mereka harus menghemat simpanan beras mereka karena kalau persediaan beras mereka habis kali ini. Mereka akan kesulitan untuk membelinya lagi

Joan juga tidak memasak nasi dan tetap membuat bubur untuk tidak memancing kemarahan ibunya yang akan menganggapnya boros.

Dia masih akan mencari cara agar orang tuanya bisa menerima dengan wajar saat mereka membiasakan diri untuk makan nasi dan bukannya bubur seperti yang selama ini mereka lakukan.

Joan memasak bubur dengan mempergunakan beras dan air dari ruang dimensi pertaniannya, menambahkan berapa bumbu dapur membuat bubur itu berbau harum yang segera menarik perhatian dari anggota keluarganya yang sudah kembali ke rumah.

"Bau harum apa ini, siapa yang memasaknya"; kata ibu yang terheran-heran karena biasanya ibu yang memasak di rumah itu

Ayah dan adik-adiknya sudah membersihkan tubuh dan mandi di sumur sebelum kembali ke rumah. Mereka juga terkejut saat mendengar ibu mengatakan hal seperti itu.

Joan keluar dari dapur dengan membawa sepanci bubur dan membagikannya ke mangkok-mangkok yang sudah terlebih dahulu disusunnya di meja makan

"Akulah yang memasaknya Bu"; kata Joan sambil tersenyum.

"Bagaimana.....bisa, kamu kan tidak pernah memasak"; kata ibu ...

"Hanya memasak bubur saja, aku kan sering memperhatikan ibu saat memasak"; Joan menjawab sambil membagikan buburnya.

"Hmm harum sekali, kamu beri bumbu apa?. Kata ibu

"Tidak ada Bu, hanya bumbu seperti biasa yang ibu berikan".

Adik-adik Joan merasa tidak sabar untuk segera memakan bubur yang tetap terlihat sama seperti bubur yang biasa makan tiap hari tetapi berbau lebih harum dan terlihat lebih lezat dari biasanya.

Saat mereka semua sudah duduk di sekeliling meja makan, segera anak ke dua dan ketiga dengan tidak sabar memasukkan sendok berisi bubur ke dalam mulutnya yang menyebabkan dia tersesat karena bubur itu masih panas

"Pelan-pelan makannya, ditiup dulu. Buburnya masih panas dan tidak ada yang akan merebutnya darimu"; kata ayah kepada anak-anaknya.

Adik bungsu menunggu ibu meniup buburnya dan kemudian memakan dan menahan agak lama di mulutnya karena merasakan kelezatan bubur itu.

"Ehm lezat sekali".

"Iya enak, tidak kalah dari buatan ibu".

kata adik-adiknya bergantian bicara mengomentari bubur tersebut.

Ayah Joan kembali merasakan ada energi hangat yang masuk dan beredar di dalam tubuhnya.

Meridiannya yang selama ini tersegel terasa ada energi yang sepertinya akan menerobos.

Kakinya yang selama ini lemah terasa membaik dan dia merasa bahwa dia bisa melepaskan tongkatnya.

Sudah lama dia merindukan untuk bisa berjalan dengan bebas tanpa tongkat.

Sepertinya harapannya akan terkabul saat itu

Tetapi ayah menahan dirinya dan tidak menunjukkan hal itu kepada keluarganya.

Ayah melihat kepada Joan dan merasa anaknya yang satu ini memiliki perubahan yang luar biasa.

Bukan hanya dia sudah normal, tidak lagi idiot seperti sebelumnya bahkan auranya terasa berbeda seperti orang yang memiliki kecakapan bela diri.

Joan terkejut dengan perubahan yang dia lihat pada ayahnya. Joan tidak menduga reaksi yang ditimbulkan oleh bubur yang dia masak dengan beras dan air yang dia ambil dari ruang dimensi pertaniannya.

Tetapi dia senang karena ayah tidak membahas hal itu.

Sebagai seorang yang menguasai bela diri, ayah Yoan menyadari ada energi mistis dalam bubur yang dimasak Joan hari ini tetapi dia memilih untuk menyimpannya dalam hati agar tidak mengejutkan keluarganya.

Ayah akan menyelidikinya pelan-pelan sehingga itu tidak membuat takut Joan.

Ayah menikmati bubur itu dan merasakan bahwa tubuhnya mengalami perbaikan di dalamnya. Berapa keluhan yang selama ini dirasakannya menghilang dari tubuhnya.

Dia senang sekaligus kuatir karena dia takut orang lain akan mengetahui hal itu dan akan menganggap Joan sebagai penyihir.

Mereka harus merahasiakan hal itu dari pandangan orang lain.

Ayah memandang Joan sambil tersenyum. Joan melihat senyuman ayahnya sambil berpikir dalam hatinya. Apakah ayahnya mencurigainya dan tahu bahwa Joan bukan anak kandungnya, hanya jiwa yang bertransmigrasi ke dalam tubuh anaknya.

Joan takut kalau ayah akan mengusir atau bahkan membunuhnya. Joan sungguh tidak menghendaki hal itu terjadi karena dia sudah merasakan kehangatan dari keluarga barunya.

Joan merasa enggan untuk meninggalkan keluarga barunya ini kalau seandainya ayah akan mengusirnya.

Joan menjadi sedikit gelisah.

Tetapi dia berpikir terlalu banyak karena ayahnya sama sekali tidak berniat untuk menanyakannya pada saat itu. Meskipun ayah Joan merasa aneh dengan hal itu tetapi dia juga merasa takut untuk menanyakan hal itu kepada Joan karena dia takut mendapatkan jawaban yang mengejutkannya.

Sejak Joan bangkit dari kematiannya, dia tidak merasa ada yang berubah dari tubuh anaknya hanya ada perbedaan dalam sikap dan auranya saja

Setelah selesai makan, ke dua adik Joan belajar membaca dan menulis karena meskipun mereka tinggal di desa tetapi ke dua orang tua mereka sebenarnya merupakan keluarga bangsawan yang berasal dari kota kerajaan.

Hanya karena ada kesalahan yang dilakukan oleh kakek Joan, maka keluarga mereka diusir dari ibu kota meskipun kakek Joan hanya difitnah oleh seorang kerabatnya yang tidak menyenanginya.

Hal itu juga yang selama ini menjadi ganjalan bagi keluarga ayah Joan. Sebelum kakek Joan meninggal dunia, dia sudah berpesan kepada ayah Joan agar mereka bisa kembali diakui oleh keluarga mereka yang ada di ibukota.

Ayah memang rindu untuk memenuhi amanat kakek Joan tetapi dia sendiri tidak berdaya untuk itu karena selain merediannya tersegel, keluarga mereka juga begitu miskin sehingga untuk keluarga besar yang menghargai kekayaan dan kekuatan.

Keluarga mereka pasti tidak akan dianggap apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang kecil karena ayah Joan hanya memiliki satu isteri berbeda dengan pria bangsawan pada umumnya yang memiliki berapa isteri.

Mungkin untuk kembali kepada keluarga itu baru menjadi impian saat itu tetapi bagi Joan itu juga menjadi obsesinya saat dia mendengar cerita itu dari ayahnya di lain kesempatan. Joan yang merasa berhutang budi kepada keluarga barunya yang sudah memberikan kasih dan kehangatan keluarga baginya.

Joan bertekad untuk membawa keluarga barunya untuk naik ke tempat yang mulia dan menjadi keluarga yang disegani di seluruh negeri.

Langkah pertama yang dia lakukan adalah membuat keluarganya untuk tidak lagi kelaparan, bisa menikmati makanan yang layak.

Membangunkan rumah yang lebih baik sehingga anak-anak biasa memiliki kamar masing-masing tidak seperti saat ini, dimana ke empat anak tidur di satu kamar.

Tentu saja ini kurang pantas menurut etika masyarakat di negara itu, seharusnya kamar anak laki-laki dan perempuan terpisah apalagi Joan berusia 12 tahun yang dianggap sudah cukup dewasa karena biasanya anak gadis berusia 15 tahun sudah dianggap usia yang pantas untuk bertunangan.

Terpopuler

Comments

٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ​᭄

٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ​᭄

mencoba jujur aja joan sama ayahnya, biar gak ada ganjalan di hati

2025-01-25

0

Jjlynn Tudin

Jjlynn Tudin

zmn dulu umur 12thun sudah kwin2🤭

2024-08-27

0

Melia Siska

Melia Siska

smakin n menarik,, penasaran dgn si joan

2023-04-11

3

lihat semua
Episodes
1 Bertransmigrasi ke masa lalu
2 Peralihan jiwa
3 Bantu sarannya ya
4 Mendapatkan ruang bertani.
5 Mendapatkan poin pertama.
6 Makan siang...
7 Blue bebas...
8 Terungkap...
9 Ke kota
10 Perubahan
11 Makanan dengan energi mistis
12 Seratus keping emas
13 Penjualan eklusif
14 Orang Kaya Baru
15 Tuan muda
16 Rasa apa ini?
17 Emas
18 Proyek besar.
19 Lahap
20 Sumber kekayaan
21 Terluka...
22 Amnesia
23 Organisasi bayangan hitam
24 Pembunuh bayangan hitam
25 Wang junior.
26 Sekolah Pedang Terbang
27 Bertemu tuan muda
28 Bertemu tuan muda lagi
29 Manajer Chen
30 Siswa Sekolah Pedang Terbang
31 Turis
32 Blue pergi.
33 Melly
34 Gagal
35 Saudara ke tiga
36 Tamu pelelangan
37 Masuk desa
38 Little Fox
39 Malam puncak
40 Perkenalan..
41 Mulai pelelangan
42 Puncak pelelangan
43 Sadar
44 Kakak ipar
45 Pembunuh
46 Pertempuran
47 Anggota baru
48 Perjalanan
49 Halusinasi
50 Maaf ngantuk
51 Sepihak
52 Penambahan
53 Kemana
54 Pemujaan
55 Pemujaan
56 Kelapa
57 A Sen
58 Garam
59 Baru
60 Rencana
61 Ke ibukota
62 Ke istana
63 Permohonan
64 Kaisar
65 Pernikahan
66 Pernikahan 2
67 Jumpa Melly
68 ke rumah Melly
69 Balik
70 Paviliun Nusantara
71 Pemilik paviliun
72 Mempermalukan
73 Ulangi
74 Ibu Permaisuri
75 Godaan
76 Jebakan
77 Mencoba
78 Bersiap
79 Perjalanan
80 Tupai putih
81 Ilusi
82 Terbuka
83 Portal
84 Seleksi.
85 Keberangkatan
86 Berlayar
87 Istirahat
88 Diserang
89 Persiapan
90 Anak buah
91 Menyatukan kekuatan
92 Pimpinan
93 Bohoq
94 Penghadang
95 Bertemu lagi.
96 Denah
97 Pengejaran
98 Paman We
99 Serangan
100 Istana es.
101 Mengerti
102 Pelarian
103 Menyerahkan diri
104 Token kekuasaan tertinggi
105 Pernikahan
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bertransmigrasi ke masa lalu
2
Peralihan jiwa
3
Bantu sarannya ya
4
Mendapatkan ruang bertani.
5
Mendapatkan poin pertama.
6
Makan siang...
7
Blue bebas...
8
Terungkap...
9
Ke kota
10
Perubahan
11
Makanan dengan energi mistis
12
Seratus keping emas
13
Penjualan eklusif
14
Orang Kaya Baru
15
Tuan muda
16
Rasa apa ini?
17
Emas
18
Proyek besar.
19
Lahap
20
Sumber kekayaan
21
Terluka...
22
Amnesia
23
Organisasi bayangan hitam
24
Pembunuh bayangan hitam
25
Wang junior.
26
Sekolah Pedang Terbang
27
Bertemu tuan muda
28
Bertemu tuan muda lagi
29
Manajer Chen
30
Siswa Sekolah Pedang Terbang
31
Turis
32
Blue pergi.
33
Melly
34
Gagal
35
Saudara ke tiga
36
Tamu pelelangan
37
Masuk desa
38
Little Fox
39
Malam puncak
40
Perkenalan..
41
Mulai pelelangan
42
Puncak pelelangan
43
Sadar
44
Kakak ipar
45
Pembunuh
46
Pertempuran
47
Anggota baru
48
Perjalanan
49
Halusinasi
50
Maaf ngantuk
51
Sepihak
52
Penambahan
53
Kemana
54
Pemujaan
55
Pemujaan
56
Kelapa
57
A Sen
58
Garam
59
Baru
60
Rencana
61
Ke ibukota
62
Ke istana
63
Permohonan
64
Kaisar
65
Pernikahan
66
Pernikahan 2
67
Jumpa Melly
68
ke rumah Melly
69
Balik
70
Paviliun Nusantara
71
Pemilik paviliun
72
Mempermalukan
73
Ulangi
74
Ibu Permaisuri
75
Godaan
76
Jebakan
77
Mencoba
78
Bersiap
79
Perjalanan
80
Tupai putih
81
Ilusi
82
Terbuka
83
Portal
84
Seleksi.
85
Keberangkatan
86
Berlayar
87
Istirahat
88
Diserang
89
Persiapan
90
Anak buah
91
Menyatukan kekuatan
92
Pimpinan
93
Bohoq
94
Penghadang
95
Bertemu lagi.
96
Denah
97
Pengejaran
98
Paman We
99
Serangan
100
Istana es.
101
Mengerti
102
Pelarian
103
Menyerahkan diri
104
Token kekuasaan tertinggi
105
Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!