Orang Kaya Baru

"Ayah kita pergi ke pasar dulu ya, aku mau membeli daging dulu"; pinta Joan kepada ayahnya.

"Ya"; jawab ayahnya pendek sambil menarik tali kekang ke kanan agar sapi belok ke kanan mengikuti jalan kembali ke pasar. Kakak kedua juga menarik tali kekang sapinya ke kanan mengikuti kereta ayahnya. Kakak kedua dan ketiga belajar dengan cepat dan sebentar saja mereka sudah terlihat mahir mengendalikan kereta sapi itu.

Tiba di pasar, Joan membeli 20 kg daging dan juga berapa puluh ikat sayur, berapa kilo bumbu dapur, bawang merah, bawang putih dan daun bawang.

Ayah terheran-heran melihat begitu banyak yang dibeli Joan.

"Joan, untuk apa membeli daging dan sayuran begitu banyak, apa kita mau buat pesta dan apa cukup uang untuk membayar nya. Berapa keping tembaga yang kita dapatkan dari hasil menjual ayam?"

"Tenang ayah, uangku lebih dari cukup. Kita akan membuat acara syukuran untuk peletakan tiang pertama rumah kita".

Ayah lebih terkejut lagi.

"Rumah baru, berapa puluh ribu uang tembaga yang perlu dibayarkan?".

Ayah memandang putrinya yang selalu memberikan kejutan baginya tapi dia percaya kepada Joan. Ayah merasa sangat bersyukur bahwa anaknya terlahir baru dengan membawa keajaiban. Akhirnya ayah merenung diam-diam sambil mengangkat barang-barang yang dibeli Joan

Saudara-saudaranya juga terheran-heran saat melihat kuli-kuli panggul yang bergantian membawa daging, sayuran dan barang-barang yang dibeli Joan.

Sebentar saja ke dua kereta itu sudah terisi penuh dengan barang. Diantara banyaknya barang itu, mata mereka langsung berbinar saat melihat kue-kue, permen beraneka warna dan manisan dalam banyak bungkusan.

Rupanya Joan tidak melupakan apa yang mereka suka

"Dua ekor sapi, dua ekor kambing, banyak daging, sayuran dan barang. Berapa banyak uang kakak pertama ya?".

Adik bungsu menghitung jumlah kekayaan kakaknya dengan menghitung di antara jari-jari tangannya.

Blue keluar dari belahan pakaian adik bungsu dan menyela;

"Banyak sekali, engkau tidak akan bisa menghitungnya dengan 10 jari tanganmu bahkan jika kamu tambah dengan ke 10 jari kakimu".

"Ye, kakakku kaya sekali"; kata adik bungsu dengan riang.

"Ya kudengar tadi kakak pertama akan membangun rumah baru. Aku mau kamar sendiri, aku tidak mau lagi tidur dengan kalian. Kalian selalu menendang ku kalau tidur".

"Sama, aku juga mau kamar sendiri, kakimu juga suka naik kebadanku kalau kamu tidur, belum lagi suara ngorokmu sangat nyaring";

Kedua bersaudara itu mulai bertengkar mempersoalkan siapa yang menendang siapa waktu tidur.

"Aku tidak mau kamar sendiri, aku mau sekamar dengan kakak Joan saja"; kata adik bungsu.

Joan yang datang dan mendengarkan percakapan adik-adiknya tersenyum simpul.

"Ya semua akan dapat kamar masing-masing. Adik bungsu juga dapat kamar tapi nanti adik bungsu masih boleh tidur sama kakak kalau adik bungsu merasa masih kecil "

"Siapa bilang aku masih kecil, umurku sudah 5 tahun, aku sudah besar dan aku tidak takut tidur sendiri "; kata adik bungsu dengan imut yang segera mengundang tawa keluarganya sehingga kedua kakaknya pun melupakan perdebatan mereka.

Setelah semua barang selesai dinaikkan, kedua kereta itu melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk kembali ke rumah.

Ketiga bersaudara itu memakan permen yang mereka dapatkan dari A Hui dan tidak lupa membaginya pada ayah dan Blue yang dengan senang hati memakannya bahkan dia masih merasa kurang saat sudah menghabiskan permen pertamanya dan meminta bagian Joan yang dia lihat masih ada dikantong dan tidak dimakannya.

"Blue jangan terlalu banyak makan permen nanti gigimu cepat rusak, itu kata kakak Joan";

Kata adik bungsu menegur Blue. Blue membuka mulutnya lebar-lebar dan menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada gigi dalam mulutnya.

Mata adik bungsu membelalak dan membulat.

"Aiya, baru makan satu permen saja, Blue sudah kehilangan semua giginya, kakak jangan beri lagi Blue permen seumur hidupnya ".

Blue cepat -cepat memasukkan paruhnya ke dalam kantong baju Joan dan mengambil permen itu dengan paruhnya.

"Burung mana ada giginya, aku dari lahir memang sudah tidak punya gigi. Jadi tidak masalah kalau aku makan permen sebanyak -banyaknya"; kata Blue cepat sambil menelan permen nya.

Joan tertawa lebar, tetapi dia tetap berkata kepada Blue.

"Meskipun kamu tidak punya gigi, tetap saja tidak boleh makan banyak makan permen nanti tenggorokan mu radang dan batuk".

"Nah benarkan, ayo jadi anak baik seperti diriku yang menurut dan patuh pada kakak dan orang tua"; kata adik bungsu seperti nenek yang memberikan petuah pada cucunya.

Kembali tawa terdengar di kedua kereta yang berjalan beriringan itu

Tidak lama adik bungsu sudah tertidur dengan manisnya di pangkuan Joan.

Joan juga menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya dan tidak lama kemudian dia juga jatuh tertidur.

Sambil satu tangan memegang kendali sapi, satu tangan lainnya dari ayahnya memeluk bahu Joan.

Kedua kakak yang lain di kereta kedua tidak tertidur, justru mereka dengan gembira sambil menyanyikan lagu.

"Aku adalah gembala

Selalu riang serta gembira.

Tak pernah aku malas berkerja.

Tak pernah malas ataupun lengah."

"Tra la la la la la"

Tra la la la la la

Tra la la la la la

Tra la la la la la

Setiap hari kubawa ternak

Ke Padang rumput di kaki bukit

Rumputnya hijau subur dan banyak

Ternakku makan tak pernah sedikit

Berapa

Tra la la la la la

Tra la la la la la

Tra la la la la la

Tra la la la la la

Mereka mengulangi menyanyikan lagu itu berulang -ulang. Ayah tersenyum-senyum sendiri sambil terus mengemudikan kereta.

Hatinya bahagia melihat anak-anaknya akhirnya bisa tertawa gembira setelah melewati banyak kepahitan dalam hidup mereka.

Dari lahir anak-anaknya tidak pernah merasakan kehidupan yang baik tetapi meskipun begitu mereka tidak pernah kehilangan kehangatan keluarga.

Ke dua kereta itu memasuki jalan masuk desa itu dan segera mendatangkan keributan yang cukup besar saat penduduk desa itu melihat kereta yang ditarik dua ekor sapi itu.

"Milik siapa kereta itu, begitu megah dengan dua ekor sapi yang menariknya. Apakah ada orang kaya baru yang pindah ke desa ini".

"Bukan orang baru, itu ayah Joan. Lihat dia yang menjadi sais kereta itu "

Sepanjang perjalanan ke rumah mereka yang terletak di ujung desa di pinggir kaki gunung larangan itu, tidak henti-hentinya orang yang melihat ke dua kereta itu memperbincangkan keberuntungan keluarga Joan.

Meskipun ada yang iri namun mereka tidak suka mencemooh keberuntungan orang lain. Itulah sebabnya di desa itu nyaris tidak pernah terjadi keributan. Sedikit perkecualian ada satu orang yang tidak suka melihat keberuntungan orang lain dan itu adalah nyonya Wang tetapi meskipun demikian sejak kejadian penganiayaan Joan. Dia tidak pernah lagi menampakkan diri di depan keluarga Joan karena suaminya mengancam untuk menceraikannya kalau di terus mencari keributan.

Tiba di rumah, Joan bangun dari tidurnya dan menggendong adiknya masuk ke dalam rumah, membaringkannya di tempat tidur sebelum dia keluar dan mengatur tukang untuk mengangkat barang-barang yang baru dibelinya.

Ibu dan beserta berapa istri tetangga yang membantunya selama ini juga terkejut melihat banyaknya barang yang dibeli Joan apalagi melihat daging dan sayuran itu.

Mereka segera berkerja dalam kegembiraan saat mendengar bahwa mereka akan mengadakan acara syukuran makan bersama esok malam.

Meskipun ibu merasa itu sangat mendadak dan tanpa perencanaan tetapi dia tidak mengatakan apa-apa dan memimpin ibu-ibu yang lain untuk berkerja. Memang cocok ibu Joan jadi ketua PKK

Terpopuler

Comments

Minote 105g

Minote 105g

beberapa bukan berapa... malas nambahin huruf ya thor 🤣🤣🤣

2025-03-18

0

Erna Masliana

Erna Masliana

🤣🤣🤣🤣🤣 emang burung apa yang punya gigi

2025-02-14

0

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Kasihan blue 😁

2024-09-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bertransmigrasi ke masa lalu
2 Peralihan jiwa
3 Bantu sarannya ya
4 Mendapatkan ruang bertani.
5 Mendapatkan poin pertama.
6 Makan siang...
7 Blue bebas...
8 Terungkap...
9 Ke kota
10 Perubahan
11 Makanan dengan energi mistis
12 Seratus keping emas
13 Penjualan eklusif
14 Orang Kaya Baru
15 Tuan muda
16 Rasa apa ini?
17 Emas
18 Proyek besar.
19 Lahap
20 Sumber kekayaan
21 Terluka...
22 Amnesia
23 Organisasi bayangan hitam
24 Pembunuh bayangan hitam
25 Wang junior.
26 Sekolah Pedang Terbang
27 Bertemu tuan muda
28 Bertemu tuan muda lagi
29 Manajer Chen
30 Siswa Sekolah Pedang Terbang
31 Turis
32 Blue pergi.
33 Melly
34 Gagal
35 Saudara ke tiga
36 Tamu pelelangan
37 Masuk desa
38 Little Fox
39 Malam puncak
40 Perkenalan..
41 Mulai pelelangan
42 Puncak pelelangan
43 Sadar
44 Kakak ipar
45 Pembunuh
46 Pertempuran
47 Anggota baru
48 Perjalanan
49 Halusinasi
50 Maaf ngantuk
51 Sepihak
52 Penambahan
53 Kemana
54 Pemujaan
55 Pemujaan
56 Kelapa
57 A Sen
58 Garam
59 Baru
60 Rencana
61 Ke ibukota
62 Ke istana
63 Permohonan
64 Kaisar
65 Pernikahan
66 Pernikahan 2
67 Jumpa Melly
68 ke rumah Melly
69 Balik
70 Paviliun Nusantara
71 Pemilik paviliun
72 Mempermalukan
73 Ulangi
74 Ibu Permaisuri
75 Godaan
76 Jebakan
77 Mencoba
78 Bersiap
79 Perjalanan
80 Tupai putih
81 Ilusi
82 Terbuka
83 Portal
84 Seleksi.
85 Keberangkatan
86 Berlayar
87 Istirahat
88 Diserang
89 Persiapan
90 Anak buah
91 Menyatukan kekuatan
92 Pimpinan
93 Bohoq
94 Penghadang
95 Bertemu lagi.
96 Denah
97 Pengejaran
98 Paman We
99 Serangan
100 Istana es.
101 Mengerti
102 Pelarian
103 Menyerahkan diri
104 Token kekuasaan tertinggi
105 Pernikahan
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bertransmigrasi ke masa lalu
2
Peralihan jiwa
3
Bantu sarannya ya
4
Mendapatkan ruang bertani.
5
Mendapatkan poin pertama.
6
Makan siang...
7
Blue bebas...
8
Terungkap...
9
Ke kota
10
Perubahan
11
Makanan dengan energi mistis
12
Seratus keping emas
13
Penjualan eklusif
14
Orang Kaya Baru
15
Tuan muda
16
Rasa apa ini?
17
Emas
18
Proyek besar.
19
Lahap
20
Sumber kekayaan
21
Terluka...
22
Amnesia
23
Organisasi bayangan hitam
24
Pembunuh bayangan hitam
25
Wang junior.
26
Sekolah Pedang Terbang
27
Bertemu tuan muda
28
Bertemu tuan muda lagi
29
Manajer Chen
30
Siswa Sekolah Pedang Terbang
31
Turis
32
Blue pergi.
33
Melly
34
Gagal
35
Saudara ke tiga
36
Tamu pelelangan
37
Masuk desa
38
Little Fox
39
Malam puncak
40
Perkenalan..
41
Mulai pelelangan
42
Puncak pelelangan
43
Sadar
44
Kakak ipar
45
Pembunuh
46
Pertempuran
47
Anggota baru
48
Perjalanan
49
Halusinasi
50
Maaf ngantuk
51
Sepihak
52
Penambahan
53
Kemana
54
Pemujaan
55
Pemujaan
56
Kelapa
57
A Sen
58
Garam
59
Baru
60
Rencana
61
Ke ibukota
62
Ke istana
63
Permohonan
64
Kaisar
65
Pernikahan
66
Pernikahan 2
67
Jumpa Melly
68
ke rumah Melly
69
Balik
70
Paviliun Nusantara
71
Pemilik paviliun
72
Mempermalukan
73
Ulangi
74
Ibu Permaisuri
75
Godaan
76
Jebakan
77
Mencoba
78
Bersiap
79
Perjalanan
80
Tupai putih
81
Ilusi
82
Terbuka
83
Portal
84
Seleksi.
85
Keberangkatan
86
Berlayar
87
Istirahat
88
Diserang
89
Persiapan
90
Anak buah
91
Menyatukan kekuatan
92
Pimpinan
93
Bohoq
94
Penghadang
95
Bertemu lagi.
96
Denah
97
Pengejaran
98
Paman We
99
Serangan
100
Istana es.
101
Mengerti
102
Pelarian
103
Menyerahkan diri
104
Token kekuasaan tertinggi
105
Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!