Zizi melajukan motor sportnya menuju ke sebuah rumah sakit cukup ternama di kota J tersebut. Itu adalah rumah sakit peninggalan sang kakek. Dan sekarang di kelola oleh om nya yang begitu unik menurut Zizi.
Zizi memarkirkan motornya dengan apik di parkiran khusus. Ya, Zizi memiliki akses untuk itu karena dia cukup menunjukkan siapa dia dengan kartu identitas khusus keluarga pemilik rumah sakit maka semuanya akan tunduk kepada Zizi.
Setelah motor Zizi terparkir dengan sempurna. Zizi melangkah menuju ke ruangan si om dokternya. Dia sudah pernah datang ke rumah sakit ini dengan sang mama sehingga dia tidak perlu bertanya kepada siapapun dimana ruangan om nya tersebut.
Ting
Pintu lift yang membawa zizi ke lantai dimana om nya itu berada terbuka. Zizi melangkah dengan santainya. Dia tidak memperdulikan tatapan orang-orang kepadanya. Ya, karena baju Zizi memang cukup bau dan dia tidak sempat berganti baju. Dia saja tidak mempunyai baju ganti bagaimana bisa berganti baju.
Zizi nanti akan meminta om nya untuk mengurusi masalah bajunya tersebut. Dan Zizi cukup untuk menahan diri dengan tatapan orang-orang kepadanya saat ini.
Tok
Tok
Tok
Tiba di depan ruangan dokter Abbas, Zizi mengetuk pintu tersebut sebelum masuk. Zizi ini anak yang cukup mengerti peraturan saat masuk ke ruangan seseorang. Meskipun itu ruangan sang om sekalipun.
"Masuk!" terdengar suara sahutan dari dalam ruangan.
Ceklek
Zizi hanya mendengus kecil melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Seorang dokter wanita yang sibuk membenarkan kerah bajunya dan juga sang om yang tampak terkejut akan kehadirannya saat ini.
"Zizi...." ucap dokter Abbas terkejut.
"Hmm," Zizi hanya berdehem sambil menatap sekilas ke arah dokter wanita yang sok kecantikan itu.
Zizi merasa muak melihat wajahnya yang pastinya bermodal tubuh seksi daripada kepintaran otaknya. Zizi tandai dokter wanita itu dan pastinya Zizi tidak akan pernah berobat kepada dokter seperti wanita itu.
"Anda bisa kembali ke ruangan anda dokter Bella. Saya ada keperluan dengan keponakan saya," ujar dokter Abbas dengan nada bicara yang formal.
"Ba...baiklah say..ehemm dokter abbas, saya permisi," ucap dokter wanita yang bernama Bella tersebut.
Dokter Bella sempat melihat wajah gadis yang disebut sebagai keponakan dari dokter Abbas. Dengan langkah percaya dirinya, wanita itu meninggalkan ruangan dokter Abbas.
Brak!
"Ini masih siang om," kata Zizi dengan nada datarnya.
Dokter Abbas hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena ketahuan apa yang baru saja dia lakukan dengan dokter baru bernama Bella tersebut. Ternyata keponakannya ini memiliki pengamatan yang begitu jeli, seperti sang kakak iparnya.
"Kamu mau apa ke sini? memangnya sekolahnya udah pulang?" tanya dokter Abbas mengalihkan perhatian sang keponakan dari kejadian barusan dengan dokter Bella.
"Hemmm, aku ingin om urusi ini," kata Zizi sambil membuka jaketnya dan menunjukkan luka yang ada di lengan sebelah kirinya.
"Astaghfirullah, Zizi. Apa yang kamu lakukan sampai mendapatkan luka seperti ini di hari pertama kamu sekolah, nak?" seru dokter Abbas yang tidak percaya keponakannya ini sekolah apa baru saja melakukan debus sampai mendapatkan luka seperti itu.
"Ceritanya panjang om, obati dulu saja ini," kata Zizi dengan tenang dan dia segera menuju ke ruangan khusus dokter Abbas untuk mengobati pasiennya.
"Anak itu sebelas dua belas dengan bapaknya banget kelakuannya," ucap dokter Abbas geleng-geleng kepala melihat betapa tenangnya sikap sang keponakan dengan luka yang dia punya di lengannya tersebut.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments